
"Ketika kehilanganmu bukan lagi menjadi sumber kesedihanku di sanalah aku mengiklaskanmu. Berbahagialah agar hancurku tidak sia-sia." Dhira tidak mampu lagi menahan setiap hal yang terkumpul di tenggorokannya.
Setiap orang di sana melilik Dhira dan Rega secara bergantian, apa lagi perasaan Sarah, ia mengerti maksud dan tujuan apa yang Dhira katakan. Rega memejamkan matanya, merasakan sakit yang tidak ada habisnya. Bahkan semakin lama ia merasa ia seperti hidup segan matipun tak mau.
"Jika takdirku sudah di gariskan di jalan yang ini, mungkin aku hanya bisa berharap smoga keputusanmu tidak menjadi penyesalan di kemudian hari." Dhira terus berkata tanpa memerdulikan semua mata yang metapnya dengan pandangan berbeda. Justru Dhira salah besar, keputusannya menikahi Sarah menjadi penyesalan di sepanjang hidupnya saat ini.
"Untuk semua kebaikan yang pernah kau lakukan padaku terimaksih, aku sangat beruntung meskipun aku belum bisa menerima jika keberuntungan itu telah selesai." Dhira mulai terisak, tangisnya tiba-tiba pecah sangat memilukan.
"Kita berada di fase saling mencintai tapi mustahil untuk saling memiliki. Tapi sungguh aku tidak bisa berpaling darimu." ingin sekali Rega mengucapkan itu tapi sayangnya kalimat itu hanya tercekal di tenggorokannya.
__ADS_1
Semua orang seakan bisa merasakan apa yang Dhira rasakan saat ini, kecuali Sarah. Wanita itu membenarkan dalam jiwanya jika sesunhguhnya dirinya lah yang menjadi orang ketiga antara Nadhira dan Regantara. Tapi Sarah juga memiliki pembenaran dari tindakannya, dan yang terpenting ia mencintai suaminya meskipun Rega sudah menyakiti secara berulang kali.
"Lupakan suamiku Dhira. Meskipun kau bersamanya selama enam tahun lebih, tapi sekarang Rega milikku. Hanya milikku." tekan Sarah penuh peringatan.
"Kau tenang saja Sarah, meskipun aku bukan orang baik, tapi aku bukan dirimu yang hanya bisa merebut milik orang lain." Dhira menyeka kasar air matanya.
"Dhira maafkan aku! Sungguh aku adalah pria paling buruk, kau sudah membayar semua yang telah ku berikan, tapi dengan apa aku harus mengganti setip hal yang ku ambil darimu." Rega hendak mendekat ia tak memperdulikan keadaan, tapi langkahnya terhenti saat itu juga saat Dhira mengacungkan sebelah tangannya.
"Dhira ..." mata pria tampan itu sudah tak dapat membendung lapisan cairan di matanya.
__ADS_1
Awal niat Rega mengundang Vante untuk pertemuan ini adalah ia ingin melihat Nadhira dari dekat dan dengan mata kepalanya sendiri, karna sudah beberapa lama ia tidak dapat mengetahui kabar dari mantan kekasihnya. Tapi perkiraannya salah keadaan mantannya kini terlihat menyedihkan dengan luka yang terlihat jelas.
"Aku tidak mencintaimu lagi."
"Ketika kakimu melangkah. Kau sudah kehilanganku, semoga pilihanku kali ini tidak sepertimu yang meninggalkan aku demi orang lain. Sekarang aku tidak menyalahkanmu lagi, semua ini adalah salahku aku terlalu ingin di cintai, sehingga aku lupa dimana ada cinta di sana ada rasa sakit. Aku permisi." Dhira melangkah kakinya keluar, Rega menatap punggung wanita yang ia cintai sampai tak ada di pandangan matanya.
Rega kini ia tengah di lema, ingin rasanya ia mengejar langkah pemilik hatinya tapi ia menyadari statusnya saat ini. Ia tidak akan mengambil resiko, karna Sarah bisa saja nekat akan melukai bayinya yang tidak bersalah seperti ancamannya selama ini.
Ya Sarah, wanita itu memanpaatkan kehamilannya dengan apik, ia selalu mengatas namakan bayinya untuk menekan Rega.
__ADS_1
"Jim, antarkan Dhira pulang. soal pekerjaan biar aku yang menyelesaikannya." perintah Vante pada asistennya.
"Baik pak."