Mencintai Sepupu Kedua (Tak Bisa Berpaling)

Mencintai Sepupu Kedua (Tak Bisa Berpaling)
Hutang


__ADS_3

"Dhira. Temani aku dan Jim makan siang." Vante berujar saat tiba di ruangan Nadhira.


"Sekarang pak?"


"Ya, temanku dulu semasa kuliah mengundangku untuk makan siang di rumahnya. Dia mengajukan proposal kerja sama yang sangat menggiurkan. Seperti biasa aku memerlukan pendapatmu dan Jimi." terang Vante.


"Kenapa harus makan siang di rumahnya pak? Bukan di restoran atau caffe seperti biasa." Dhira mengerutkan kening bingung dengan ajakan makan siang kali ini.


"Kami sudah lama tidak bertemu, jadi mengundang ku makan siang. Kami memutuskan untuk bertemu di rumahnya."


"Baik pak."


Vante, Jimi dan Dhira dalam perjalanan menuju rumah rekan dari bosnya. Tapi tunggu dulu Nadhira sangat mengenali jalan ini, jangan katakan jika teman Vante adalah Rega. Hati Dhira kembali berdesir sebisa mungkin wanita itu menghindari Rega dengan berbagai alasan tapi tiba-tiba saja ia harus di pertemukan di sana dengan dalih prkerjaan. Tidak mungkin rasanya jika Rega tidak mengetahui bahwa Dhira bekerja dengan Vante, mengingat Rega pernah mengantarnya bekerja.


Saat tiba, rombongan Vante di sambut oleh Rega langsung, Dhira bersikap biasa saja seakan tidak mengenal tuan rumah itu.


"Rega, perkenalkan ini Jimi asistenku, dan ini Nadhira dia sekertarisku." Vante memperkenalkan orang yang bersamanya. Tidak tahu saja jika Rega sangat mengenal Dhira, bahkan pria itu mengenal luar dan dalam sosok Nadhira.


"Ya, aku mengednal sekerismu. Dhira sepupu keduaku. Rega berujar ringan dan mempersilahkan ketiganya masuk.


"Sialan kau! Harusnya kau memperkenalkan aku beberapa tahun yang lalu. Aku menyesal terlambat mengenalnya saat dia sudah di peristri orang lain, asnak abdi negara pula." Vante meninju pelan bisep temannya.


Rega tergelak, hatinya meringis ngilu tidak mungkin Rega mengenalkan Dhira beberapa tahun lalu wanita itu adalah kekasihnya.


"Selamat datang di rumah kami."


"Terimakadih, Nyonya maaf jadi merepotkanmu." Sarah berdiri dari duduknya untuk menyambut ketiga tamunya, yang justru terlihat memamerkan perut yang sedikit membuncitnya. Sepertinya Sarah memang sengaja mengenakan gaun malam yang pas body seakan untuk menegaskasn bahwa perutnya membuncit adalah hasil karya Regantara. Tapi Nadhira justru malah terkekeh geli, karna baju yang Sarah gunakan salah tempat. Hey bagai mana tidak salah tempat ini siang hari, tapi kenapa istri Rega menggunakan gaun pesta yang glamour yang seharusnya di gunakan malam hari, apa wanita itu tidak mengerti? Lalu apa Rega tidak menegurnya sungguh pasangan serasi pikirnya.


"Pak setelah ini kita memiliki janji untuk je perusahaan ADM group." Jimi berintruksi karna bos dan temannya malah berbincang, Jimi adalah pria yang tidak menyukai basa-basi. Bukankah mereka kemari untuk makan siang dan membahas satu pekerjaan bukan curhat atau berbincang santai.


"Ya Jim, saya ingat." jawab Vante, pria itu menyipitkan mata seakan berkata jangan mengganggu.


"Mari keruang makan." ajak Rega.

__ADS_1


"Dhira kenapa kau diam saja?" Jimi bertanya.


"Ini bukan waktunya bergosip Jim. Lagi pula kenapa kau berubah jadi cerewet sekali."


"Kau tau? Istri sepupumu itu mantan kekasihku." Jimi berbisik.


"Apa?" teriak Dhira terkejut sampai ketiga orang di depan mereka terkejut dan langsung menoleh.


"Maaf." Dhira nyengir kuda, kelimanya melanjutkan langkah.


"Kau serius?"


"Ya, dia memutuskanku tanpa alasan." Jimi kembali berbisik.


"Kasian." Dhira malah meledek rekan kerjanya.


Baik Rega maupun Vante larut membicarakan hal bisnis.


Kedua bawahan Vante kompak diam dan berpikir di tengah makannya, sudah hampir satu jam mereka makan tapi madih belum selesai juga karna terlalu banyak berbincang.


Rega sedari tadi mencuri-curi pandah ke arah mantan kekasihnya, tidak ia pungkiri wanita itu semakin cantik dan mempesona.


"Menurutku dengan keuntungan hanya sepukuh persen itu sangat kecil Pak, kita memiliki resiko sangat besar untuk rugi karna bahan baku yang semakin meroket. Ajukan laba yang kita miliki dua puluh persen atau tidak sama sekali." Dhira berpendapat setelah berpikir dan menimbang untung dan rugi.


"Ya, aku setuju dengan pendapat Dhira, kita juga harus memikirkan hal lainnya pak." Jimi menyetujui.


"Kau ini sepupuku bukan sih?" dengus Rega, tapi ia juga memuji tentang ketelitian mantan kekasihnya.


"Tergantung, sebagai apa tadi aku datang. Jika tadi aku datang sebagai sepupumu aku tak akan berpikir untung rugi, sepenuhnya aku akan percaya padamu meskipun aku selalu di rugikan." ucapan Dhira menyindir Rega dan ia paham itu.


"Tapi jika tadi aku datang sebagai pekerja dari Tuan Vante, sangat tidak mungkin aku mengambil resiko rugi untuk perusahan tempatku bekerja. Jadi katakan aku datang sebagai apa tadi?" ucap Dhira tenang sambil menyuapkan makanan.


"Jika kau datang bukan sebagai sepupu atau pegawai apa yang akan kau katakan?" pancing Rega.

__ADS_1


Dhira mengerti maksud pria ini pasti sebagai mantan kekasih, tapi Dhira berusaha bersikap setenang mungkin.


"Maka aku tidak akan datang." Rega membungkam mulutnya dengan mata yang menerawang jauh.


Semua bahasan tetang pekerjaan telah selesai, Sarah dari tadi hanya diam karna merasa canggung dengan Jimi sang mantan. Tapi ia masih ingin memberikan Dhira peringatan.


"Dhira kau belum hamil?" tanya Sarah lembut, tapi seakan memojokan Nadhira, Rega sampai kesal pada istrinya dan menyipitkan matanya.


"Belum mbak, aku masih memiliki hutang yang sangat besar pada suamimu." pungkas Dhira. Rega hanya mengerutkan kening tak mengerti, sungguh Rega tidak bisa menangkap maksud Dhira.


"Hutang?" tanya Rega.


"Hutang apa?" Vante juga ber tanya.


"Pak Vante tau tidak? Aku memiliki hutang yang sangat besar pada sepupuku ini, bekas pendidikanku di masa lalu, tapi saat aku mencicil sebagian hutangku Regantara menolaknya sepertinya ia ingin aku melunasinya secara lunas." Saat mendengar nama panjangnya di sebut Rega merasa sangat di benci sepupunya sendiri.


"Ah begitu. Kenapa tidak meminta suamimu melunasinya." tanya Vante.


"Ya. Keanu juga berpikir seperti itu. Tapi aku tidak ingin melakukannya aku tidak ingin berhutang hanya untuk melunasi hutangku yang lain itu sama saja gali lobang tutup lobasng."


"Keanu suamimu Dhira. Mana ada aturannya berhutang pada suami." Jimi ikut menimpali.


"intinya bagiku hutangku harus aku lunasi sendiri dengan uangku." kekeggh Dhira.


"Ish. Jika seperti itu, kenapa tidak mengajukan pinjaman kekantor, kau bisa memotong sebagian dari gaji yang kau terima." usul Vante. "Dengan begitu, kau bisa melunasi hutangmu tanpa berhutang lagi." Ya Vante benar.


"Apa akan di proses jika pinjaman yang ku ajukan lumayan besar."


"Tentu saja Pak Vante yang menjamin." Jimi kembali berujar.


"Aku tidak pernah menghutangimu Dhira, Mas iklas membantu biaya pendidikanmu." Rega bersuara kembali.


"Aku tau kau baik, tapi aku menolak kebaikanmu dan setelah apa yang terjadi padaku, aku berjanji akan mengganti uangmu. Bukankah janji juga adalah hutang yang harus di bayar?" Dhira tersenyum sinis.

__ADS_1


__ADS_2