Mencintai Sepupu Kedua (Tak Bisa Berpaling)

Mencintai Sepupu Kedua (Tak Bisa Berpaling)
Menjadi iblis


__ADS_3

Malam sudah menjelang pagi, tapi Rega baru saja menyelesaikan tindakannya.


Tindakan yang membuatnya mengerangg beberapa kali dalam mereguk nikmatnya surga dunia.


Rega menatap punggung yang membelakanginya bergetar karna menangis. Rega tau apa yang ia lakukan adalah kesalahan. Tapi ia tak memiliki jalan selain ini. Bukankah cinta memang buta, itulah dalil pembenaran yang ia genggam.


Tanpa kata Rega meletakan segelas air diatas nakas dekat dimana Dhira terbaring. "Minumlah, aku akan mandi lebih dulu." Rega meninggalkan Nadhira yang masih terisak ke kamar mandi.


"Aku tak perduli apapun yang akan ku hadapi nanti. Aku akan menawanmu selama yang ku mau Dhira." Rega menghubungi orang kepercayaannya.


"Ben, bakar unit apartemen wanita yang ku maksud kemarin. Letakan mayat di dalamnya buat seolah-olah itu adalah kecelakaan kerjakan serapih mungkin dan pastikan tidak ada jejak apapun." Rega segera memutus panggilan saat mendapat jawaban dari sebrang.


Rega mengguyur tubuhnya dengan air dingin, desisann demi desisann keluar dari mulut Rega saat rasa perih menerkam tubuhnya, cakar Dhira terdapat di mana-mana bahkan bahu dan tangan pria itu terluka cukup parah karna ulah gigi wanita yang ia rudapaksa.

__ADS_1


Dhira sendiri menatap nanar gelas berisi air diatas nakas, ia terlalu lemah untuk sekedar bangun. Marah, kecewa terkumpul di krongkongannya tapi ia tak memiliki sedikitpun tenaga untuk bertindak lebih jauh, ia hanya bisa menangis tanpa suara di tempatnya. Hingga suatu pemikiran terlintas saja di benaknya.


"Pria biadabb."


Tangannya terulur mencoba meraih gelas yang ada di atas nakas, dengan sisa tenaga yang ia miliki ia bantingkan sambil ia genggam gelas itu keatas nakas, hingga gelas itu.


PRANG ...


Tersisa serpihan tajam di tangannya,


Dhira menyayat urat nadinya sendiri, tanpa ringissan Dhira menikmati rasa sakit yang menderanya.


Rega yang mendengar suara pecahan buru-buru menyelesaikan mandinya. Ia mencari kimono handuknya yang entah mengapa tidak ada, akhirnya ia mengambil handuk pendek yang berada disana. Dan saat Rega keluar kamar mandi, alangkah terkejutnya ia saat melihat Nadhira terkulai diatas ranjang dengan bersimbah darah juga dengan tangan kiri yang tersayat. Rega tidak tau seberapa dalam luka itu. Tanpa pikir panjang ia kembali mengambil ponselnya dan menelpon Ben asistennya.

__ADS_1


Sambil menunggu asistennya tiba, sebisa mungkin Rega menghentikan pendarahan dengan alat seadanya. Ia melilitkan kain untuk menghambat keluarnya darah lebih banyak.


"Dhira kenapa kau nekad sekali?" wajah cemasnya tak dapat ia sembunyikan.


Ben tiba dengan apa yang di butuhkan.


Dhira di bawa kerumah sakit yang mana masih dalam naungan Rega, yang pasti rahasianya akan terjaga.


Beruntung luka yang Dhira alami tidak terlalu parah, hanya membutuhkan beberapa jahitan serta dua labu kantung darah yang di transfusi ke tubuh Nadhira.


Dhira mulai mengerjapkan kedua kelopak matanya, membiasakan cahaya yang masuk ke maniknya, apakah ia sudah tiada di surga atau di neraka pikirnya. Tapi bau aroma obat khas rumah sakit membungkam penciumannya. Dhira mengenali bau itu, dan artinya ia belum mati ia masih hidup masih berada di dunia ini. Sungguh sial pikirnya.


Saat matanya terbuka sempurna suara yang paling ia bencilah yang pertama ia dengar.

__ADS_1


"Nadhira. Dengar ini baik-baik, dan tanamkan di otak bodohmu. Ini adalah yang terakhir kau bertindak bodoh. Sekali lagi kau berbuat ini di saat aku masih berhasrat untuk memilikimu, maka aku tidak segan untuk menyuntikmu menjadi lumpuh, dan akan ku buang kau di tengah sekumpulan harimau lapar, bayangkan sendiri apa yang akan terjadi pada tubuhmu." Rega terlihat tak main-main dengan ucapannya ia pergi meninggalkan Dhira dengan beberapa orang bertubuh kekar yang menjaganya.


"Kenapa mas Rega berubah menjadi Iblis." Batin Dhira menangis.


__ADS_2