
Dhira tidak mengetahui jika Bima adalah pemilik aplikasi taksi online yang tengah marak di gunakan sebagian besar masyarakat ibu kota. Yang Dhira ketahui Bimasena bekerja sebagai montir di salah satu sorum mobil di daerah dekat sana.
"Aku pulang." Setelah sarapan Dhira mengundurkan diri dari hadapan sepupunya.
Saat keluar dari rumah sederhana sepupunya Dhira melihat mobil Dirga sudah terparkir di halaman rumahnya.
"Ck. Apa yang dia lakukan di rumahku sepagi ini." Dhira bertanya pada dirinya sendiri, genggaman tangannya semakin erat saat menggenggam rantang yang ia bawa.
"Dhira. Mas minta maaf karna masalah semalam sungguh Mas ketiduran." Rega langsung berbicara saat Dhira telah sampai di dekatnya.
"Aku tau." Balas Dhira datar.
"Satu lagi, lupakan tentang rencana pernikahan kita. Aku berubah pikiran." Dhira hendak pergi.
__ADS_1
"Tidak bisa seperti itu, Dhira kita sudah sepakat. Untuk menikah jangan lagi menghalangi mimpi Mas untuk menjadikanmu seorang istri." Rega mulai memelas ia tak terima jika Dhira membatalkan rencananya secara sepihak.
"Terserah, aku tak ingin menikah dengan orang yang sama dengan yang telah menghancurkan masa depanku. Dan aku tak ingin menaruh harapan dengan yang sama." Ucap Dhira mantap.
"Kata orang jangan pernah melakukan kesalahan yang sama, dan aku rasa kembali mempercayaimu adalah masalah untukku. Aku tak ingin tercipta banyak drama jika menikah denganmu, masa lalumu yang rumit membuatku berpikir logis untuk tidak kembali padamu." Dhira tersenyum sinis, ia meninggalkan Rega yang kini membatu di dekat mobilnya.
Apa hanya karna semalam aku tidak menepati janjiku untuk mengantarnya pulang Dhira jadi marah dan merajuk, aku harus membujuknya ya, Dhira pasti luluh jika di bujuk olehnya. Regapun mengikuti tubuh wanita yang di cintainya memasuki rumah. Sedangkan di sebrang sana Bima memperhatikan dengan tatapan tak terbaca.
Rega mengungkapkan niatnya pada kedua orangtua Dhira. Tapi Robi sang ayah dari wanita yang di cintainya sepertinya sekarang tidak mendukungnya terlihat dari cara pria paruh baya itu berbicara.
"Rega, bukannya Dhira sudah membayar semua uang yang sudah kamu keluarkan untuk pendidikan putriku." Robi menyela. "Aku rasa Dhira juga sekarang tidak menginginkan apapun darimu. Benar begitu Dhira?" Robi bertanya pada putrinya.
Dhira menganggukan kepala. Ayahnya menghembuskan nafas lega. Sungguh pria itu masih mengingat bagai mana hancurnya putri pertamanya saat keponkan istrinya memilih gadis lain untuk di nikahi keponakannya.
__ADS_1
"Aku sudah mengubur perasaanku, Ayah. Aku belum berencana untuk kembali berumah tangga dalam waktu dekat." Dhira sudah terlanjur kecewa pada mantan kekasihnya.
"Jangan seperti ini Dhira, kau pikir kau saja yang hancur waktu kemarin, aku juga Dhira, aku juga. Aku bahkan orang terhancur saat berpisah darimu." Rega menatap semua orang di sana bergantian, berharap ada orang yang memahaminya.
"Ya, aku percaya. Saking hancurnya bahkan kau memiliki anak dari istri pertamamu, aku turut bahagia untuk itu." Nicholas tersenyum kecut atas pernyataan sepupunya. Ia tak akan melupakan bagai mana kakaknya menangis berhari-hari saat Rega memutuskan hubungan sepihak.
Rega merasa hanya tante Hani yang mendukungnya sekarang. Bahkan tante Hani tak dapat berkata saat suami dan anaknya menatapnya tajam.
"Aku akan memperjuangkan Dhira kembali."
"Memangnya kapan mas berjuang? Yang terjadi justru aku hanya melihat kakakku saja yang berjuang." Nicho kembali mencibir.
"Dasar tidak tau malu."
__ADS_1