Mencintai Sepupu Kedua (Tak Bisa Berpaling)

Mencintai Sepupu Kedua (Tak Bisa Berpaling)
Kita memang tidur bersama


__ADS_3

"Apa katamu Jim?" sentak Vante kesal.


"Memangnya apa yang salah dengan ucapanku? Kau memang duda lapuk bukan. Aku kasihan padamu sudah menduda lebih dari tiga tahun." Jimi mengejek bosnya sendiri.


"Setidaknya aku pernah laku, tidak seperti dirimu jadi perjaka tua." cibir Vante.


"Hanya statusku yang lajang, tapi tidak dengan ranjangku. Kau pasti mengerti maksudku." Jimi menertawakan bosnya sendiri.


"Beraninya kau, ku potong gajihmu 50 persen." ancaman Vante berhasil melenyapkan tawa asistennya yang justru berkelit khwatir.


"Ayo lah bos aku hanya brrcanda. Jika gadiku di potong maka ranjangku akan dingin."


"itu bukan urusanku."


Rega menggelengkan kepalanya melihat keakraban teman dan asistennya, karna ia tidak seakrab itu dengan asistennya karna asistennya seorang wanita. "Sepertinya aku harus mengganti asistenku." Rega bergunam.


"Kemana Dhira pergi." Rega langsung panik mencari keberadaan wanitanya, hanya sekejap mata Dhira hilang dari pandangan matanya.


Dhira sedang bergoyang di lantai dansa bergabung dengan teman-temannya, Dhira sudah setengah mabuk meskipun hanya meminum beberapa gelas saja, Ya wanita itu memang tidak tahan terhadap alkohol.


"Ya Tuhan." Rega segera menghampiri Nadhira di susul oleh Vante dan Jimi di belakangnya.


"Sepertinya, aku harus membawanya pulang." Rega menarik pinggang ramping wanita itu yang langdung di tepis kasar oleh Nadhira.


Vante, Jimi dan teman-teman Dhira hanya mengangguk setuju, apa lagi Tria, ia merasa kewalahan menghadapi tingkah Dhira yang konyol sedari tadi.


"Singkirkan tanganmu, sialann jika tidak sepupuku yang duda beranak satu itu akan mematahkan tanganmu." Dhira mulai meracau.


Rega menyeret tubuh sepupunya menuju kearah parkiran di mana mobil mereka berada.


Didalam mobil wanita itu terus meracau dengan acak, degara umpatan dan makian ia lontarkan dengan tanpa beban dan sangat berani.


Sebenarnya Rega marah karna Dhira tidak memperdulikan ucapannya yang melarang wanita itu untuk menenggak alkohol, dasar nakal, janda tengil kesayangannya kini sudah mabuk berat.


Rega tertari untuk bertanya semua hal di saat wanita itu mabuk, bukankah kata orang jawaban yang di berikan orang mabuk adalah kejujuran.


"Dhira apa kau mencintai Keanu?"

__ADS_1


"Tidak sama sekali."


"Lalu untuk apa kau mau di nikahi olehnya?" Rega mulai penasaran.


"Agar aku tidak terlihat menyedihkan di mata keluargaku saat orang yang ku cintai lebih memilih wanita lain dari pada aku." Dhita menyandarkan kepalanya di kurdi mobil yang ia duduki.


"Jika kau tidak nencintainya kenapa kau masih bertahan di saat dia melukai hati dan fisikmu."


"Aku hanya masih mempunyai alasan untuk memaafkannya, aku sudah berusaha menjadi istri yang baik tapi tetap saja aku tidak bisa mencintainya. Hiks.. Hiks.."


"Kenapa kau menangis?"


"Aku kasihan padanya selama satu tahun bersamanya aku tidak bisa mencintainya."


"Lalu siapa yang kau cintai."


Dhira diam dan menegakan tubuhnya, ia menyipitkan matanya.


"Stt," Dhira meletakjan telunjuknya di bibirnya sendiri. "Tapi ini rahasia ya! Aku dari dulu aku mencintai pria bernama Regantara dan sialnya dia juga sepupu keduaku, dia orang yang sama yang sudah menghancurkan hidupku hingga tanpa sisa."


Rega membatu dengan apa yang di katakan sepupunya.


"Entahlah, perasaan itu semakin kesini semakin memudar." Dhira menggeleng lemah natanya juga terlihat sayu.


"Aku sudah terlanjur kecewa padanya, rasanya aku tak ingin melanjutkan kisah kami dulu, aku ingin memulai hubungan dengan pria baru saja kalo bisa dengan seorang berondong." Dhira sangat lancar mengatakan itu, Rega kesal mendengar celotehan sepupunya.


"Kau itu mabuk tidak sih? Kenapa jawabanmu lancar sekali " Rega kesal tapi saat ia melihat ke arah Nadhira wanita itu sudah terlelap.


"Cepat sekali ia tertidur."


Rega membawa tubuh wanitanya ke unit apartemen miliknya sendiri, karna apartemen miliknya berada tidak jauh dari adanya perayaan pesta.


Saat sampai di kamar, Rega meletakan tubuh itu secara perlahan dan dan penuh ke hati-hatian, natanya tidak dapat berpaling dari kedua gunung kembar yang semakib menyembul di balik gaunnya, sangat terlihat jelas saat posisi Dhira ia rebahkan. Di waktu Rega ingin menarik diri, Dhira justri menahan tengkuk Rega dan menciumnya dengan brutal.


Rumtuh sudah pertahana pria lapar itu, ia tak kuasa menolak serangan bibir sepupunya ia membalas dengan penuh semangat, menyesapp, melumatt, serta mengigit bibir ranum itu, sudah hampir dua tahun Rega tak nerasakan rasa manisnya.


Rega kehilangan kendali bibirnya mulai menjelajahi leher jenjang sepupunya, satu tangannya meremasi kelembutan dan tangannya yang lain menyelinap untuk menyingkap gaun wanitanya.

__ADS_1


Rega meraba perut rata wanita di bawahnya, ia menatap wajah yang terpejam tapi selalu meloloskan desahgan dan lengguhhan dari bibir mungilnya.


Beberapa jejak ia tinggalkan di area leher dan dada gadis itu.


"Aku tidak boleh melakukannya, meskipun aku sangat ingin." Rega mensugesti dirinya sendiri agar tidak bertindak melebihi batas meskipun ia sudah menyentuh eanita ini berkali-kali di masa lalu tapi ia tak ingin merusaknya, ia harus menikahi Dhira lebih dulu agar ia tentram saat menggagahinya.


Rega turun dari atas ranjang, sepertinya Dhira sudah terlelap. Tapi tiba-tiba wanita itu bangun dan muntah di lantai, muntahan itu juga menodai bajunya sendiri serta baju Rega. Tanpa jijik sedikitpun Rega membersihkan muntahan cairan kekuningan itu dengan kain pel. Ia juga membuka baju yang Dhira kenakan, sampai Dhira terbaring dalam keadaan polos, tubuh indah itu Rega bersihkan menggunakan handuk kecil yang ia basahi menggunakan air hangat.


Mati-matian Rega menahan hasrat prianya agar tidak menerjang tubuh polos di hadapanya.


"Tahan Rega, ini ujian. Halalkan dulu baru kau bisa menggempurnya habis-habisan." perintah Rega pada dirinya sendiri.


Rega baru bisa bernafas dengan benar saat sudah menyelesaikan pekerjaan menyeka tubuh Nadhira, srkarang gilirannya menuntaskan kebutuhannya.


Di bawah guyuran air shower ia membatmyangkan tubuh sintal nan seksih sepupunya tengah ia gauli, meskipun pada kenyataannya ia bermain hanya menggunakan kelima jarinya sendiri. Saat gelombang itu datang Rega meneriaki nama sepupunya


"Nadhira ... Akh..."


Karna terlalu lelah akhirnya Rega ikut membaringkan tubuhnya di samping Nadhira tanpa berpakaian terlebih dahulu, keduanya tertidur dalam keadaan polos, bahkan di bengah tidur Nadhira memeluk erat tubuh kekar sepupunya.


Siang hari.


"Ahhkkk ... " Dhira berteriak histeris.


Marahari sudah meninggi, jam di dindong sudah menunjukan pukul sebelah siang dan Dhira baru bangun.


"Apa yang kau lakukan padaku?" Dhira berusaha duduk dengan kepala yang masih pusing.


Rega merentangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku.


"Ini tidak mungkin, kita tidak mungkin tidur bersamakan?" Dhira bertanya dengan wajah bodohnya, ia menyadari ia dalam keadaan polos begitu juga dengan Rega.


"Apanya yang tidak mungkin? Kita memang tidur bersama semalam."


Jeder.


"Tidak adakah pria lain sehingga harus kau yang teribat one nigth stand denganku."

__ADS_1


Rega membulatkan matanya, apa-apan Dhira berharap tidur dengan pria lain sialann kurang ajar sekali wanita ini.


__ADS_2