
Hiks ... Hiks ...
Dhira masih menagis saat ini kenapa disaat usahanya ingin melupakan Rega, pria itu justru malah terlibat semakin jauh dengannya. Ah Dhira sangat menyesalkan akan takdie hidupnya, boleh tidak jika Dhira sedikit tawar menawar dengan takdirnya. Aneh sekali pikirannya.
"Dhira berhentilah menangis, Mas bosan dengarnya! Kau sudah menangis lebih dari satujam." Rega sudah mandi dan sudah rapih dengan pakaiannya.
"Aku melakukan dosa denganmu Mas." Dhira mengucapkan itu lirih dan penuh sesal.
"Astaga, Dhira berhentilah menangis dan menyesali hal semalam. Kau bukan seorang gadis yang kehilangan keperawananmu. Kau sudah seorang janda jangan menangis karna hal semalam." Rega mulai kesal, entah mengapa ia tak sesabar dulu saat menghadapi Dhira yang terlampau manja.
"Jadi karna aku seorang janda, aku tidak berdosa dan tidak perlu menangis?" Dhira bertanya, Ya Tuhan ada kah wanita seperti Dhira kenapa tiba-tiba jadi Bodoh seiring berjalannya waktu.
"Bukan itu konsepnya."
"Aku kesal Mas." Sentak Dhira.
"Kau kesal atau menyesal.?"
"Dua-duanya."
__ADS_1
"Kenapa?"
"Ya, kenapa aku tidak ingat apa yang kita lakukan semalam?" tanya Dhira. Rega langsung gelagapan. "Biasanya saat aku mabuk aku masih bisa mengingat apapun yang terjadi." Dhira masih bertanya-tanya.
Rega berusaha mencari cara agar sepupunya itu percaya bahwa semalam keduanya sudah melewati malam panas.
Dhira, mencoba menggerakan area pangkal pahanya dan sedera berdiri melompat-lompat dengan masih mengenakan selimut. "Tidak sakit." gunamnya.
"Mas Rega kau yakin kita melakukannya semalam?"
"Ya-ya aku yakin. Aku melakukannya dalam keasaan sadar dan tidak mabuk sepertimu." maksud Rega melakukan dalam keadaan sadar adalah meraba-raba dan nencicipi sedikit, tidak sampai ke acara tusuk-tusukan.
"Mandilah sudah aku siapkan air hangat! Serelah itu kita kembali berbicara ya?" ucap Rega lembut. Ia mengusap puncak kepala Nadhira.
"Ya, aku tidak akan kemanapun. Lagi pula aku tidak bekerja hari ini."
Di dalam kamar mandi Dhira menatap pantulan dirinya di cermin. Jejak merah keunguan memenuhi area dada serta lehernya. Bahkan terdapat beberapa di kaki dan pahanya.
"Tapi jika aku melakukan itu biasanya pangkal pahaku tarasa ngilu, tapi ini tidak sama sekali, meskipun waktu melakukan itu bersama Keanu yang itunya lebih kecil dari Mas Rega saja aku selalu merasa ngilu, tapi ini tidak sama sekali. Meskipun aku merasa lega dan ringan karna pelepasan tapi aku tidak mendapati jejak cairan percintaan di milikku. Apa mungkin Mas Rega menggunakan pengaman atau mengeluarkan di luar?" Dhira terus berpikir.
__ADS_1
Tok ... Tok ...
"Dhira, kenapa lama sekali?"
"Dira, kau baik-baik saja kan?" Rega mulai cemas pasalnya ia tau jika Dhira adalah wanita yang nekad, takutnya wanita itu melakukan hal yang tidak-tidak, semacam melukai dirinya sendiri.
Dor ... Dor ...
Rega menggedor pintu dengan panik ia benar-benar takut terjadi hal buruk pada sepupunya.
"Dhira jawab aku!"
"Dhira."
Rega semakin panik ia takut terjadi sesuatu dengan adik sepupunya.
Di dalam kamar mandi Dhira memutar matanya malas. Ia bukan tidak mendengar Rega terus memanggilnya, tapi ia enggan untuk sekedar menyauti panggilan Rega, Dhira masih kesal dengan apa yang Rega ucapkan bahwa semalam dirinya dan Rega kembali menghabiskan malam berdua.
Rega mencari kunci cadangan di laci kamarnya tapi tidak ia temukan, ia tidak sabar untuk terus mencari akhirnya ia memutuskan untuk mendobrak kamar mandi.
__ADS_1
Blam ... Dengan sekali dobrakan tubuh kekarnya Rega mendobrak pintu kamar mandi itu dan langsung terbuka.
"Dhira."