Mencintai Sepupu Kedua (Tak Bisa Berpaling)

Mencintai Sepupu Kedua (Tak Bisa Berpaling)
Kekasih totalitas


__ADS_3

Rega tidak menyerah untuk mendapatkan wanita pujaannya, Duda satu anak itu berusaha memanfaatkan apapun agar Dhira kembali menatap kearahnya. Tapi sepertinya Rega harus kembali menelan kekecewaan, saat Dhira kini tengah dekat dengan tetangga rumahnya yang juga merupakan sepupu wanita itu.


"Dhira. Ada apa kenapa kau di sini malam-malam?"


Bima mendapati sepupunya sedang duduk di salah satu kursi yang terdapat di teras rumahnya. Terdapat dua kursi rotan di sana dan salah satunya kini tengah di duduki wanita cantik itu.


"Aku menunggumu Bim."


"Menungguku?"


"Hmmm"


"Untuk apa? Tidak baik seorang janja bohay menunggu seorang pria di rumahnya, akan lebih baik menunggu di tempat lain." ucap Bima serius.


"Dimana?" Dhira mengernyit bingung.


"Di ranjangku." Bima terbahak mengenggoda sepupunya akan menjadi hobi barunya.


Dhira yang sudah menanggapi serius menjadi kesal sendiri di buatnya sehingga wanita itu mendaratkan tinjunya di bisep kekar sepupunya.


"Masuklah dulu kita bicara di dalam." Bima mempersilahkan sepupunya masuk. Bima membuka pintu dengan kunci yang ia simpan di bawah serbet kesetnya.


"Ra, kalau ingin minum ambil sendiri saja. Sepertinya Bi Imah sudah pulang." ucap Bima kemudian. Karna memang asisten rumah tangganya akan pulang sore hari dan akan kembali esok pagi untuk mengerjakan pekerjaan rumahnya.

__ADS_1


"Ya. Bim"


"Katakan ada apa Ra? aku gerah ingin cepat-cepat mandi." ucap jujur Bima, ia sudah terbiasa jika dari luar harus langsung mandi, jadi jika tidak langsung mandi Bima merasa tak nyaman.


"Begini." Dhira memajukan tubuhnya agar terkesan lebih seriu. "Aku tak bisa menghentikan Mas Rega untuk tidak mengejarku terus. Aku risih saat dia terus menerus mendekatiku, duda satu anak itu bahkan nekad mengancam setiap teman priaku." ungkap Dhira selanjutnya.


"Lalu apa hubungannya denganku?"


"Aku membutuhkan bantuanmu untuk berpura-pura menjadi tunanganku."


"Berapa lama?"


"Aku tidak tau, aku tidak bisa menentukan jangka waktunya." Dhira terlihat putus asa.


"Bim, kau itu sepupuku tidak bisakah kau menolongku?"


"Tidak ada yang gratisan Ra, semua hal perlu timbal baliknya." Bima menyandarkan punggungnya di kursi Sofa setelah mendudukan pantattnya, pria itu meraih bungkus rokoknya dan mengambil satu di antaranya untuk ia apit dan ia nikmati.


Asap roko sudah mengepul di sana, Dhira bahkan dibuat terbatuk karnanya. "Uhuk ... Uhuk ..."


"Bisakah kau mematikan rokokmu, aku tidak terbiasa." Dhira masih terbatuk.


Tanpa di minta dua tiga kali Bima mematikan rokoknya.

__ADS_1


"Lalu kau ingin bayaran berapa dariku?" ucap Dhira pada akhirnya.


"Apa kau sudah mempunyai uang sebanyak itu sehingga ingin membayarku?"


"Bukan begitu, aku membutuhkan bantuanmu, aku tak ingin mengambil resiko dengan menggunakan jasa orang lain, bisa saja Rega menghsncurkan orang lain pria itu sangat nekad." Dhira bergidik ngeri saat membayangkan Kedua tangan Keanu di patahkan oleh sepupunya itu.


"Kau tidak menghawatirkan aku? Bagaimana jika Rega malah melenyapkanku." Bima mencoba menelisik raut wajah wanita di sampingnya.


"Ish. Jangan berbicara seperti itu, kau tidak tidak boleh terluka oleh apapun." Dhira menatap dalam netra hitam sekelam malam yang ia rindukan sejak sepuluh tahun lalu, tapi Dhira tidak berani untuk memeluk tubuh yang sekarang sudah sangat kekar itu.


"Aku ingin bayaran yang lain jika kau mau memakai jasaku."


"Baiklah terserah kau saja."


"Tapi kau harus menjadi kekasihku yang totalitas."


"Maksudmu."


Bima tiba-tiba mengecup singkat bibir sepupunya.


"Aku anggap ini sebagai DPnya." Bima menyeringai penuh maksud.


.

__ADS_1


__ADS_2