
Hari di mana paling di takutkan Regantara kini terjadi, dimana ia harus menyaksikan pernikahan dari wanita yang ia cintai terjadi dengan seorang pria yang bahkan tak pernah terlintas sebelumnya di kepala Rega.
"Selamat atas pernikahanmu, semoga kau selalu bahagia." Rega mendekatkan diri dan membawa sebuah map dengan di bungkus rapi kertas kado sebagai hadiah.
Nadhira hanya tersenyum tipis sebagai balasannya, wanita cantik itu tak bisa menimpali doa baik dari sepupunya, jika di tanya apa ia bahagia? jawabannya tentu saja tidak, pernikahan ini hanya ajang pembuktian bahwa ia bisa hidup dengan pria lain.
"Mas Rega, kau hanya mendoakan sepupumu saja! Kenapa tidak sekalian mendoakanku." Keanu protes dengan ucapan sepupu istrinya, karna ia tidak mengetahui jika sebenarnya Rega adalah mantan kekasih wanita yang kini sudah resmi menjadi istrinya.
Rega tidak menjawab matanya masih saja tidak melepaskan tatapan dari wanita penghuni hatinya sejak beberapa tahun yang lalu. "Apa boleh aku memeluk Dhira?" Rega meminta ijin untuk memeluk sepupu keduanya mungkin sebagai ungkapan selamat tinggal, atau apapun yang pasti ini bisa di jadikan sebagai pelukan terakhirnya.
"Tentu saja Mas, kau adalah sepupunya." Keanu memberi ijin.
Tak ingin menyia-nyiakan waktunya Rega segera memeluk tubuh mungil sepupunya, ia dekap dengan sayang, tubuh mungil itu ia balut dengan tubuh kekarnya bahkan kebaya yang Dhira kenakan kini telah basah oleh air mata pria itu. Ya Regantara kini sudah menangis bukan menangisi karna wanita itu sudah menikah, tapi ia hanya menangisi dirinya sendiri yang kini tidak bisa memiliki wanita itu.
__ADS_1
"Maafkan Mas Dhira, sudah menempatkanmu pada keadaan ini, semoga kau bahagia tapi kau tidak akan merasa sebahagia saat bersamaku."
"Jangan mengutukku, aku sama sekali tak ingin mendokan kebahagianmu, justru aku ingin melihat penyesalanmu saat memilih wanita lain untuk mendampingimu."
"Aku mengamini doamu Dhira." Rega berucap lirih keduanya berbisik, jika Rega sampai menangis berbeda dengan Dhira justru wanita itu malah terkekeh sinis dan segera melepas pelukannya.
Rega menyeka air matanya yang turun tidak tahu malunya.
"Air mata kebahagian, untuk kalian." Rega berusaha menyembunyikan lukanya yang semakin menyedihkan.
"Ini. Sebagai kado dariku." Rega menyerahkan sebuah map yang sudah di bungkus dengan sedemikian rupa.
"Terimakasih." Nadhira mengambil kertas itu tanpa basa-basi ia tak ingin mengatakan penolakan atau sejenisnya.
__ADS_1
"Hiduplah dengan baik." Regantara turun. Meninggalkan pelaminan.
Pernikahan yang sangat mewah itu di gelar di istana berbagai media meliput acara yang selalu di penuhi oleh petinggi negara.
Keluarga kedua mempelai terlihat sangat bahagia menyaksikan pernikahan kedua putra putri mereka, mungkin setelah kepergian Rega hanya Nadhira yang bersedih dengan keadaannya kini.
Nadhira membuka map yang terbungkus kertas bergambar hati itu. Nadhira membeku di kursi pelaminan melihat kertas yang berisi sebuah surat kepemilikan yang sah atas sebuah rumah yang sangat besar serta halaman yang luas di sana juga ada surat yang Dhira yakini jika surat itu adalah tulisan tangan Rega sendiri.
'Dhira ... Meskipun Mas tidak menjadi pengantinmu, Mas sudah membangunkan rumah impianmu, lengkap dengan kolam renang serta taman yang luas untukmu. Rumah itu Mas dedikasikan atas namamu, Rumahnya sangat besar bisa di katakan juga sebagai mansion, interior dan properti yang kugunakan juga dengan kualitas terbaik, denah rumahnya persis seperti yang kau inginkan. Semoga tetap bahagia.' begitulah kira-kira isi dari surat yang Rega tulis.
Dulu, entahlah sudah berapa tahun yang lalu Nadhira pernah menggambar sebuah denah rumah dan ia berikan kepada kekasihnya Regantara, Dhira meminta jika Rega menikahinya nanti maka ingin Dhira ingin rumah itu sebagai mas kawin, tanpa di duga sebelumnya mereka nenikah dengan orang yang berbeda, meskipun demikian Rega tetap memberikan rumah itu lengkap dengan alamatnya jika Dhira ingin melihat rumah itu tanpa menghubungi pria itu lagi.
Tanpa sadar Nadhira meneteskan air matanya, ternyata Rega masih perduli terhadapnya, Dhira mengedarkan pandangan untuk mencari keberadaan Rega untuk memberikan surat rumah itu kembali rasanya ia tak pantas menerima rumah mewah itu. Dhira ingin mengembalikan pemberian mantan kekasihnya, tapi Rega sudah tak ada di sana, lalu kemana pria itu pergi?"
__ADS_1