Mencintai Sepupu Kedua (Tak Bisa Berpaling)

Mencintai Sepupu Kedua (Tak Bisa Berpaling)
perkara minuman


__ADS_3

Tanpa di duga, Nadhira mengintip kebersamaan antara Rega dan Sarah, Nadhira tidak dapat mendengarkan percakapan antara keduanya tapi ia merasa sudah menjadi duri dari pernikahan mereka, ya Nadhira tidak mengetahui jika Rega dan Sarah dudah resmi bercerai.


"Apa yang aku harapkan dari Mas Rega? Harusnya aku bisa tegas lagi pada hatiku. Sudah dua kali mas Rega mengecewakan aku. Untuk sekarang aku tidak akan mengejar pria itu lagi, meskipun aku janda aku cantik bukan? Pasti akan banyak pria yang mau denganku. Yang pasti aku harus mengenal terlebih dahulu pria itu jangan buru-buru mengesahkan hubungan jika diri ini tak ingin kembali menjadi samsak." Dhira merinding mengingat pernikahannya yang gagal, dan tubuhnya hama di penuhi goresan serta luka memar.


Nadhira memeluk rantang makanan yang sudah ia bawa, wanita itu bermaksud untuk kembali pulang, ia tak ingin mengganggu momen pasangan di hadapannya. Tapi langkahnya terhenti saat Rega memanggilnya.


"Dhira."


.


Tidak terasa delapan bulan telah berlalu.


Beruntung Nadhira memiliki kemampuan kidal sehingga saat tangan kanannya mengalami patah tulang tidak mengurangi pekerjaannya ia masi bekerja seperti biasa dengan setatus yang berbeda.


Setatus janda yang di sandang Nadhira kini semakin di gandrungi seluruh kariawan yang berada seantara kantor. Sosoknya yang ramah semakin menambah daya pikat wanita itu, tak jarang jajaran yang menduduki jabatan penting di kantor itu berlomba secara terang-terangan untuk mendapatkan perhatian wanita itu.


Rega sudah bebas dua hari lalu, pria itu bermaksud berkunjung ke rumah pujaan hatinya, ia sudah dandan rapi menyemprotkan parfum di sana sini celah tubuhnya, tak ada yang kurang sama sekali.


Jujur Rega ragu untuk memulai hubungan asmaranya kembali. Dhira juga semakin menjaga jarak dengannya terlepas dari rasa terimakasihnya wanita itu enggan berlama-lama bersama mantan kekasihnya.


"Dhira." saat Dhira tengah menekan sandi apartemennya sebuah suara mengagetkannya.


"Ha-hay." sial bukan suara itu yang harusnya keluar dari mulutnya, Dhira merutuki mulutnya sendiri. Ia canggung dengan keadan di mana setatus mereka sekarang adalah janda dan duda.


Rega tersenyum, sama canggungnya dengan wanita di hadapannya, pria itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal menggunakan jari telunjuknya. Ia juga bingung harus bersikap seperti apa.


"Apa kabar?" akhirnya kata itu yang ia pilih sebagai kata pembuka untuk basa basinya.

__ADS_1


"Kabarku baik, kau bagai mana?" Nadira mempersilahkan Rega untuk memasuki unit apartemennya. "Mau minum apa? Teh atau kopi?" tawar Dhira.


"Air putih saja."


"Kau ini, aku menawarkan pilihan tapi kau selalu memilih pilihan yang tidak aku tawarkan." dengus Dhira kesal.


"Aku hanya tidak ingin merepotkanmu." Rega membela diri.


"Aku yang menawarkanmu itu artinya aku tidak di repotkan."


"Ya sudah kopi saja."


"Kenapa jawabanmu terlihat terpaksa sekali."


"Aku tidak terpaksa Dhira, sebenarnya kau menawariku minum atau mengajakku berdebat si?" Rega menatap netra wanita yang masih mengenakan pakaian kerjanya.


"Ya sudah." jawab Rega pada akhirnya tidak ingin berdebat lagi.


"Dasar plin plan, tidak punya pendirian persis seperti orangnya."


Ya tuhan ternyata Dhira masih seribet dulu, hey beri tahu Rega berapa usia wanita ini kenapa tingkahnya selalu menyebalkan. Untung cinta kalau tidak sudah Rega tumbalkan di gunung semeru.


"Ini." Dhira melatakan cangkir yang berisi cairan merah kekuningan di dalamnya, dari sana mengepulkan asap menandakan minuman itu masih panas.


"Ada perluhhh apa kau kemari?" Dhira bertanya singkat.


"Ah, tidak ada aku hanya ingin berkunjung saja."

__ADS_1


"Oh, kapan kau bebas dari sel?"


"Dhira, pertanyaanmu terlalu menyinggungku seakan aku tidak memiliki keperluan di sini."


Aish memang kau tidak memiliki keperluan di sini kan? batin Dhira berteriak.


Sial setelah beberapa bulan berlalu rasa yang menggebu-gebu kemarin terhadap pria di hadapannya perlahan memudar, bahkan Nadhira nyaris lupa seberapa gilanya wanita itu mengejar pria di hadapannya.


'Apa mungkin kegagaran dan kekerasan dalasm rumah tanggaku berdampak pada perasaanku padanya.' Dhira bertanya pada dirinya sendiri.


"Dhira sudah makan?"


"Emh, mas Rega dari mana kau tau tempat tinggalku?" Ketimbang menjawab pertanyaan Rega Nadhira lebih tertarik bertanya hal lain pada pria itu.


"Dari tante Hani, tadi aku kerumahmu dan tidak mendapatimu di sana."


"Kau selalu pulang se larut ini?"


"Kadang-kadang, apa lagi yang aku lakukan selain menikmati hidup." Dhira tersenyum.


"Ya kau benar, kau masih muda dan sayang jika waktumu terlewat sia-sia."


"Mas Rega tak berniat pulang sekarang?"


"Kau mengusirku?" Rega menaikan satu alisnya.


Nadhira hanya menyengir kuda. "Aku gerah aku ingin mandi Mas."

__ADS_1


"Mandi saja aku menunggumi di sini."


__ADS_2