
Liatlah pria kekar dengan tampang masih kinyis-kinyis karna memang umurnya masih muda umurnya sama dengan Dhira, pria itu sangat di ganduringi para remaja, menyabalkan bukan. Rumahnya terletak di arah barat rumahku. Namanya Bimasena pria yang juga sepupu keduaku tapi bedanya Bima bersaudara karna anak dari adik sepupu Ayahku ya hubungan darah kami lebih dekat dari pada dengan mas Rega.
Aku memutuskan untuk kembali tinggal di rumah, karna jika aku masih tinggal di apartemen bisa di pastikan Rega akan sering mengunjungiku. Maka benteng yang mulai ku bangun kembali akan kembali sia sia.
Ibu Bima yang adik sepupu ayahku sudah berpulang ke pangkuan yang maha kuasa beberapa tahun lalu begitu juga dengan suaminya. Di luar negri sana Bima bekerja sebagai pemilik perusahaan taksi online yang kini sudah menjamur juga di negara kita ini.
Meskipun usianya baru menginjak 26 tahun Bima sudah di nobatkan sebagai salah satu pengusaha berpengaruh di negri ini. Kecerdasannya dalam hal bermain di layar komputer tidak bisa di anggap remeh. Pria muda ban sukses.
Terhitung sudah sepuluh tahun kami berpisah tapi tingkahnya masih jahil dan menyebalkan. Tingkahnya yang manja dan pecicilan membuatku menjaga jarak dengannya dulu.
Aku bahkan sering menolak cintanya beberapa kali, karna alasan kami masih bersaudara sepupu. Di masa lalu kami juga teman sepermainan rumah kami berdekatan dan kini kami juga kembali bertetangga.
Apes nian nasib Dhira punya tetangga semejalkan sepupunya yang hanya tinggal sendiri selain ART, dan supirnya.
__ADS_1
Kali ini Dhira mengantar sarapan yang di buat ibunya yaitu nasi uduk dalam rantang. Ibunya juga berpesan agar Dhira membawa kembali rantangnya pulang dengan alasan takut hilang benar-benar ibu yang pelit, sepertinya semua ibu-ibu juga seperti itu.
"Permisi ... "
Dhira mengetuk pintu beberapa kali. Dan di saat ketukan pintu yang kesekian kalinya Bima muncul dengan sepotong handuk kecil berwarna putih yang hanya menyampir di bahunya.
"Ada apa janda bohay?" Bima tersenyum. Sepertinya pria jangkung itu baru saja berolah raga dapat tertebak hanya karna dengan menggunakan kaus yang sudah di banjiri keringat.
"Gagah." tanpa sadar Dhira bergunam. Matanya tak berkedip srkalipun melihat cetakan dada bidang serta perut kotak-kotak pria itu, muda dan panas.
"Apa yang kau lihat? Jaga matamu janda, kau seperti tante-tante yang kurang belaian." Bima tambah gencar menggoda sepupunya.
"Memang kenyataannya seperti itu, aku memang tante-tante seksih yang selalu bersenang-senang." Fana masih mencuri-curi pandang.
__ADS_1
"Ini. Mama memberikan sarapan untukmu segera salin ke wadah lain, rantangnya akan ku bawa pulang lagi." Dhira menyodorkan rantangnya.
"Wah, terimakadih tante, jadi enak nih."
"Tante, tante kau pikir aku tantemu." Dhira menyungut tak terima.
"Terus aku harus memanggilmu apa? Kakak?"
"Hey umur kita hanya terpaut beberapa hari. Kenapa setelah sepuluh tahun tingkahmu semakin menyebalkan sih?" Dhira mulai kesal karna terus di goda pengangguran sukses di depannya.
Ya, bagai mana tidak di sebut pengangguran sukses, pria itu bekerja di mana saja dan kapan saja tergantung moodnya, di saat Dhira selalu mencari alasan untuk cuti Bima malah tidak punya alasan untuk datang ke kantornya. Tapi anehnya meskipun duitnya bejibun kenapa pria itu masih betah tinggal di rumah sederhana mendiang kedua orang tuanya di banding dengan tinggal di rumah mewah atau apartemen miliknya. Sungguh Dhira tidak habis pikir.
"Kau sudah sarapan?" Bima mencoba nencari toik lain agar sepupu jandanya tidak naik tensi.
__ADS_1
"Belum, makanya cepetan di balikin rantangnya aku mau pulang ini sudah jam setengah tujuh aku harus bersiap untuk bekerja." Dhira mulai tak sabar.
"Ya sudah kita sarapan bersama saja biar lebih menghemat waktu." Bima menarik tangan sepupunya untuk memasuki rumahnya.