Mencintai Sepupu Kedua (Tak Bisa Berpaling)

Mencintai Sepupu Kedua (Tak Bisa Berpaling)
duda lapuk


__ADS_3

Nadhira merasa risih karna Regantara selalu mendatanginya, kepalanya mulai pening karna pria itu selalu mengirimkan pesan setiap satu jam sekali.


Saat sorepun Rega kerap kali menjemput Nadhira pulang kerja.


"Mas, bisa tidak jau sedikit menjauh dariku? Aku risih tau."


"Dhira." Rega sedikit tak percaya wanita yang mengatakan itu merupakan orang yang dia cintai sedari dulu.


"Mas, kau dan aku itu tidak ada hubungan apapun selain sepupu kedua jadi berhenti untuk terus bersikap lebay seperti ini. Aku sudah terbiasa pulang sendiri, jangan menjemputku lagi dan, berhenti mengirimku pesan seakan aku kekasihmu." Dhira sudah pergi tapi tangannya segera di raih dan di cekal Rega. Dhira meringis saat ia merasakan sakit di tangan yang dulu sempat patah, meskipun sudah sembuh tapi jika mendapatkan tekanan sedikit kuat tangan itu kembali ngulu dan sakit.


"Maaf."


"Jangan halangi aku untuk kembali mengejarmu. Aku sudah pernah melepasmu tapi untuk kali ini tidak akan ku biarkan kau lari lagi dariku." Rega memaksa sepupunya untuk memasuki mobilnya.


"Berapa kali aku harus mengatakan kau dan aku sudah tidak ada hubungan lagi." Dhira berteriak di wajah Rega.


"Kenapa berteriak di hadapanku? Minta ku cium."


"Dasar gila, pria sableng."


"Aku memang tergila-gila padamu."


" Oh ya, besok ulang tahun Darren kau mau kan menemani aku ke pesta ulang tahunnya?" Rega melirik sekilas wanita di sampingnya di tengah kesibukannya mengemudi.


"Terserah besok saja tapi aku tak janji, sebenarnya aku muak bertemu dengan mantanmu itu."


"Muak atau cemburu?" Rega tertawa jenaka untuk menggoda wanita itu.


"Nanti malam ada pesta perusahaan tempatku bekerja, kau tidak usah datang ke apartemenku."


Rega diam tidak menjawab ia hanya fokus mengendarai mobilnya.


.


"Ku bilang aku akan berpesta malam ini. Kenapa kau masih kemari Mas?" Dhira kesal lancaran saat ia hendak pergi jalannya di cegat oleh Rega.


"Justru karna kau akan pergi makanya aku kemari. Aku akan mengantarmu, lagi pula Vante adalah temanku dia mengundangku juga kepesta itu, jadi tidak ada salahnya jika kita pergi bersama." Rega menyeringai saat mendapati muka kesal sepupunya


"Aku bisa pergi sendiri."


"Tidak, kau hanya akan pergi bersamaku." Rega menggandeng tangan wanita itu sampai memasuki mobil.

__ADS_1


"Mas Rega, kenapa akhir-akhir ini begitu menyebalkan sih, kau selalu membatasiku. Ingat aku ini sudah dewasa berhenti mengaturku aku tidak suka." Dhira mengerucutkan bibirnya lantaran kesal karna tindakan yang seenak jidatnya Rega selalu ikut campur semua urusannya.


"Kenapa bibirmu mengerucut begitu, minta di cium, atau minta di nikahi?"


"Tidak tuh. Jika kau kebelet ingin menikah, kau nikahi saja mantan istrimu, aku rasa dia masih mengharapkanmu." Dhira membuang muka ke arah jendela.


"Yakin? Nanti nanges." Rega kembali meledek.


"Turunkan aku di sini. Aku malas pergi bersamamu."


Rega tidak memperdulikan permintaan sepupunya, ia masih menjalankan mobilnya.


"Apa kau tidak memiliki gaun lain selain baju yang kau kenakan, aku rasa belahan da danya terlalu rendah, apa yang ingin kau pamerkan drngan belahan da da serendah itu." kritikan Rega sangat terus terang. Memang Dhira terlihat memamerkan area dadanya yang menyembul malu malu dari balik kain itu.


"Ini tren, gaun ini keluaran terbaru. Kau tak akan mengerti pashion, yang kau ketahui hanya harga bahan baku bangunan." Dhira kembali berdecih ia membenarkan dan sedikit menaikan kain itu untuk sedikit menutup da danya.


"Astaga kenapa susah sekali, apa da daku terlalu besar sehingga tidak tertutup seperti ini."


"Uhukk..." Rega tersedak ludahnya sendiri, kepalanya sudah di penuhi fantasi kotor, testosteronnya kembali bekerja sampai bukti gairahnya sudah terkumpul di titik pusatnya.


Rega memijat keningnya sedikit. Sial kepala atas bawahnya terasa pening.


Benar saja saat Dhira sampai di pesta semua mata tertuju pada wanita itu, ratusan pasang mata menatap kagum wanita yang berjalan dengan anggun memasuki ballroom pesta.


"Hay, gaes ... " Nadhira menyapa sekumpulan temannya bekerja.


"Waw kau mengagumkan."


"Kau ratunya malam ini."


Berbagai pujian masuk di telinga wanita cantik dan seksih itu.


"Mas Rega menjahlah dariku di sana banyak rekan bisnismu." wanita itu kesal karna Rega terus mengikuti kemana kakinya melangkah.


"Baiklah, tapi ingat jangan minum alkohol." Rega mewanti-wanti sepupunya agar tidak menyentuh minuman haram itu.


"Ya baiklah."


"Awas jangan, berkumpul dengan teman priamu, atau aku akan mematahkan tangan teman priamu, kau tidak lupa tangan mantan suamimu yang kupatahkan?" Dhira merinding mendengarnya.


"Dhira siapa pri tampan yang tadi bersamamu." Tria sesama teman kerjanya menghampiri Nadhira yang tengah berdiri seorang diri sesaat setelah Rega di panggil oleh Vante, sang tuan rumah penyelenggara pesta.

__ADS_1


"Dia sepupuku."


"Dia sangat tampan, aku boleh berkenalan dengannya ya, nanti aku minta nomor ponselnya."


"Hmm." jawaban Dhira tak acuh, ia merasa gerah saat temannya minta di kenalkan dengan Regantara.


"Oh ya sampai lupa, apa dia sudah beristri atau masih lajang?"


"Dia seorang duda dengan satu anak." Dhira menjawab jujur, dan di detik selanjutnya ia mengutuk kejujuran mulutnya, harusnya dia mengatakan jika Rega sudah beristri dengan begitu Tria bisa mundur alon alon.


"Sempurna. Jika seperti itu aku akan lebih mudah mengejarnya. Astaga aku senang sekali."


"Hai Dhira." beberapa teman kerjanya menghampiri wanita cantik itu. Dan sialnya ada beberapa teman pria yang menyapanya, Nadhira hanya menjawab sekilas dan setelahnya ialebih memilih pergi meninggalkan teman prianya dari pada mendapat masalah karna ia tau Rega tidak main-main dengan ancamannya.


Rega larut dalam pembahasan mengenai bisnisnya tidak hanya Vante, di sana juga ada beberapa rekan kerja yang menjalin rumah tangga dengannya.


"Pak, Vante. Siapa gadis yang bergaun navy itu apa dia salah satu pegawaimu?" seorang pria muda anak dari salah satu rekan kerja Rega bertanya, usia pemuda itu sekitar dua puluhan tapi sudah tertarik drngan wanita dewasa seperti Dhira. Ya tertarik itu yang ada di benak Vante dan Rega, tidak mungkinkan pria muda itu menanyakan Dhira hanya untuk bermain kelereng.


"Ya dia salah satu pegawai terbaikku." Vante menimpali tapi natanya melirik ke arah Rega.


"Apa boleh saya menemuinya?" tanya pemuda itu hati-hati.


"Maaf Zam, wanita itu sudah memiliki pawang." Azam mengerutkan kening ia mengerti pawang yang di maksud Vante.


"tidak papa, aku hanya ingin berkenalan dengannya." ia tersenyum, matanya menatap penuh rasa kagum yang nyata.


"Dia milikku, jangan mencoba untuk mendekati milikku." Rega menatam tajam pria muda itu.


"Kau kalah start, Dude.." Pria paruh baya dengan rambut botak itu menertawakan kelakar putranya yang seoran cassanova.


"Sepertinya begitu Dad." Azampun tergelak karna ucapan ayahnya.


Kini hanya tinggallah Vante, Jimi dan Rega di kumpulan itu.


"Kau berencana menikahi Dhira?" Jimi bertanya.


"Hmm. Tapi aku perlu usaha yang ekstra untuk mengambil hatinya lagi."


"Ya aku tau, bersiaplah untuk menjadi duda lapuk seperti bosku."


Nadhira benar-benar berpesta malam ini dengan tanpa memperdulikan ucapan Rega wanita itu mulai menenggak segelas kecil bir yang di bawa oleh pelayan

__ADS_1


__ADS_2