Mencintai Sepupu Kedua (Tak Bisa Berpaling)

Mencintai Sepupu Kedua (Tak Bisa Berpaling)
Kau saja yang pergi


__ADS_3

"Ja-jadi bagai mana?" Dhira sudah takut luar biasa ia takut jika benih itu tumbuh menjadi makhluk hidup yang baru, ia takut sangat takut.


"Kemungkinan terbesarnya kau hamil bayiku. Jadi mari menikah denganku."


Meskipun Dhira sudah menduga sebelumnya jika jawaban Rega akan seperti itu tapi tetap saja dirinya merasa takut sekaligus terkejut, jika seandainya benar apa yang di katakan Rega, lalu bagai mana ini? Apa harus ia menikah dengan pria di hadapannya saat ini. Tapi ia tak siap untuk kembali terluka.


"Bagaimana?"


Saat Rega bertanya Dhira seakan di tarik paksa ke kenyataan yang tengah ia bicarakan saat ini.


Jika ia menolak, bagai mana jika dirinya benar-benar hamil, ia tak siap jika harus di kutuk jadi batu oleh mamanya.


"Baiklah." Pada akhirnya Dhira menyetujui saran Rega.


"Tapi aku minta waktu satu bulan." Dhira mengajukan syarat.

__ADS_1


"Ya sudah. Tapi jangan coba-coba membohongiku." Rega seakan mengancam calon istrinya.


Calon istri? Terserah Rega saja mau mengatakan Nadhira sebagai siapa sepupu, mantan kekasih ataupun calon istri. Semua sebutan itu benar-benar tidak penting untuknya karna yang paling utama adalah Dhira selalu menjadi cintanya selama beberapa tahun tak perduli dengan statusnya yang kini sudah menjanda.


"Lalu bagai mana dengan Sarah?" Dhira tak kuasa untuk tak bertanya mengenai mantan istri dari Rega terlebih pria itu sudah memiliki anak dengan mantan istrinya.


Inilah yang Dhira takutkan sebenarnya, masa lalu, mantan istri serta anak dari pernikahan pertamanya Regantara yang saling berhubungan dan berkaitan menjadi momok menakutkan untuk dirinya menerima tawaran Rega untuk berkomitmen.


"Sarah? Kenapa kau menanyakan Sarah? Dia tidak akan terlibat dengan kehidupan kita. Aku sudah tidak memiliki hubungan dengannya, selain hal yang menyangkut dengan Darren anak kami. Kau tidak usah khawatir Sarah tidak akan terlibat dalam rumah tangga kita kelak." Ucap Rega tegas.


"Aku akan pulang sekarang." Dhira berdiri dan meraih tas yang semalai ia pakai setelah dirinya memesan taksi.


"Biar kuantar!"


"Tidak usah, aku bisa sendiri." Dhira sudah membawa kakinya keluar kamar.

__ADS_1


Rega tidak akan membiarkan kekasinya pulang sendiri akhirnya ia mengambil kunci mobilnya dan segera menyusul langkah Nadhira. "Batalkan taksinya biar kuantar." Rega berkata tanpa ingin di bantah.


Nadhira mendengus tapi bibirnya berkedut tipis, perhatian kecil ini yang ia sukai dari Rega, meskipun tak mengatakannya Dhira tau jika pria itu takut ada orang lain yang melihat tubuhnya yang hanya terbungkus kemeja berwarna putih milik Rega.


Rega menggenggam tangan sepupunya sepanjang lorong dan saat memasuki pintu ruang berbentuk kotak yang ukurannya tidak lebih dua meter itu membawa tubuh keduanya menuju lantai tujuan mereka.


Rega mengendarai mobil dengan senyuman yang tak surut dari bibirnya, bayangan di mana ia hanya akan melihat dan menikmati wajah cantik Nadhira saat bangun ataupun menjelang tidur itu adalah mimpinya sejak tujuh tahun lalu.


"Mas Rega. Sepertinya nanti malam aku tidak bisa ikut untuk acara ulang tahun Darren. Tapi aku akan mengirimkan kado lewat kurir." Dhira memecah bayangan Rega akan masa depannya.


"Kenapa? Kau takut dengan sarah?"


Dhira terdiam memang itu adalah salah sarunya, ia tak ingin menjadi bensin yang menyiram kobaran api di diri sepupu wanitanya. Lagi pula ia tak berniat merusak ulang tahun pertama keponakannya.


"Kau saja yang pergi. Aku ada urusan lain." Dhira sedikit berbohong.

__ADS_1


__ADS_2