
Rega mau tidak mau membawa Sarah pergi berbulan madu di paris sesuai kemauan istrinya selama satu pekan. Tapi yang membuat Rega selalu muak adalah Sarah selalu membagikan kebersaman mereka selama berada di negara romantis itu melalui akun jejaring sosial yang mereka miliki.
Sarah selalu memaksa Rega berpose sesuai keinginannya dan selalu memamerkan potret itu di halayak umum. Tentu saja tujuannya adalah memanasi Nadhira. Sarah ingin menegaskan jika Rega adalah miliknya seorang.
Berulang kali Rega mengingatkan agar potret mereka jangan di jadikan konsumsi publik tapi tetap saja dasarnya Sarah ngeyel bin keras kepala.
Tidak ada lagi Sarah yang penurut, semua itu lenyap seiring berjalannya waktu.
Sudah beberapa bulan berlalu dari pernikah Rega dan Sarah, tapi hubungan mereka masih jalan di tempat belum ada kemajuan. Bahkan Regantara pria gagah berkharisma itu berubah jadi pria lemah sahwat saat melakukan tugasnya sebagai suami.
Setiap kali Rega melakukan kewajibannya sebagai suami pada istrinya Rega selalu membayangkan wajah Nadhira, Rega kerap kali kehilangan selera dan nafsunya saat bersama Sarah istrinya, pria itu juga tidak pernah melakukan foreplay saat akan memulai pemainan. Jika di tanya apakah sering melakukan hubungan dalam beberapa bulan maka jawabannya sangat jarang sekali, jumlah mereka melakukan hubungan intim bisa di hitung dengan jari, itu saja Sarah yang selalu memintanya lebih dulu.
Pagi itu Sarah sangat bahagia, ia baru mengtahui jika ia tengah hamil bahkan sudah memasuki usia kehamilan 12 minggu, bukan tanpa alasan Sarah tidak bisa menditeksi kehamilannya sejak awal, siklus bulanan Sarah memang bermasalah sejak remaja dulu.
"Semoga saja dengan hadirnya bayi ini mas Rega jadi lebih perhatian padaku, aku yakin seiring berjalannya waktu Mas Rega akan mencintaiku." Sarah berjalan dengan semangat menuju ruang kerja suaminya dengan selembar surat dan foto USG hasil pemeriksaannya tadi pagi.
Tanpa mengetuk pintu sarah langsung memasuki ruanGB kerja suaminya, pria itu tidak langsung memasuki kamar saat pulang kantor tadi sore, Rega selalu menghindari Sarah salah satunya di ruang kerjanya yang bisa mengingatkan kenangannya dengan Nadhira, ya Rega secinta itu pada Dhira meskipun sudah ada sosok lain di sisinya.
"Tidak bisakah kau mengetuk pintu terlebih dahulu." Rega terkejut dan segera menghentikan aktipitasnya yang tengah senam lima jari, pria itu langsung memasukan senjata kebanggaannya pada celana yang ia kenakan. Dan tanpa sengaja Sarah melihat potret Dhira yang tengah di pandangi suaminya.
Sarah bisa menebak jika suaminya tengah bersolo dengan Dhira sebagai fantasinya. Marah dan sakit hati datang bersamaan pada diri wanita hamil itu.
"Kau memiliki istri Mas, untuk apa kau bermain sendiri? Kenapa kau tidak datang padaku?" cecar Sarah penuh kecewa.
"Maaf." lirih Rega.
Jujur ini bukan keinginannya, Rega juga tak ingin menyiksa istrinya seperti ini tapi ia tidak bisa berbuat apapun hati dan dirinya di kendalikan oleh rasa yang tak kasat mata.
"Aku hamil. Aku harap kau jangan membuatku tertekan dengan sikapmu."
__ADS_1
Sebenarnya tadi Sarah sudah menyusun kalimat saat akan mengungkapkan kehamilannya, tapi karna hal tadi, kalimat yang ia susun kembali tertelan olehnya.
"Kau hamil.?" tanya Rega memastikan.
"Ya, aku hamil anakmu, sebentar lagi kau akan menjadi seorang ayah."
"Terimakasih." Rega tersenyum.
Meskipun ia tidak mengharapkan bayi dari pernikahannya saat ini tapi Rega juga tidak bisa menolak ia tetap menerima anaknya dengan suka cita.
"Kau senang?"
"Tentu saja. Mari makan"
Sarah melebarkan senyumnya, akhirnya ia pemenang dari kisah rumit yang mereka jalani.
"Berapa minggu usianya?"
"Jagalah dengan baik, dan jangan berharap lebih padaku. Maaf jika aku selalu membuatmu bersedih. Tapi aku sudah mengatakan sedari awal jika perasaanku masih sama."
Senyuman yang Sarah tampilkan sirnalah sudah.
"Apa tidak ada sedikitpun rasa cintamu untukku."
"Maaf. Aku juga tidak ingin membuatmu dalam posisi ini. Seandainya malam itu tidak terjadi."
"Berhenti membicarakan kejadian itu." Sarah berlalu dari sana.
.
__ADS_1
Tidak jauh berbeda dari rumah tangga yang Rega jalani. Rumah tangga Dhira dan Keanu pun seakan tiada habisnya terus di hantam berbagai masalah, Keanu yang posesif dan pecemburu selalu menempatkan Dhira dalam masalah.
"Aahhh. Kau luar biasa sayang." Keanu selalu mengatakan itu setelah mereka selesai bercinta.
Tidak ada ucapan terimakadih atau sekedar perbincangan kecil setelah mereka bercinta, Keanu akan langsung terlelap tanpa memperdulikan perasaan istrinya.
Keanu tidak perduli dengan kepuasan istrinya yang ia pikirkan hanya kepuasannya sendiri.
Jika pria itu sudah puas maka permainan akan ia akhiri tak perduli jika istrinya belum sampai di titik puanya.
"Keanu dan Regantara adalah dua orang yang berbeda, perbandingannya antara 11 dan 111 ya sangat jauh sekali, malam ini aku harus tertidur dengan rasa yang belum selesai." hembusan nafas berat Dhira hembuskan.
Bahkan saat Keanu sedang menggagahinya Dhira kerap kali membayangkan wajah Rega agar ia bisa sedikit menikmati permainan yang Keanu ciptakan. Dhira mengetahui jika tindakannya tidak benar, hatinya sudah berselingkuh dengan mantan kekasihnya. Tapi apa mau di kata ia tidak bisa melepas bayang-bayang pria itu dalam hidupnya.
"Dhira jika mau ke kantor itu jangan dandan terlalu cantik. Ingat kau sudah memiliki suami." Keanu segera mengambil tissue dan segera menggosok bibir istrinya dengan kasar sampai warna nerah muda itu kini berpindah di tissue di tangan Keanu.
"Aku tidak pikun Ke, aku masih mengingat dengan betul jika kau adalah suamiku, bersenti cemburu di tempat yang salah." Dhira mengerucutkan bibirnya sampai Keanu merasa gemas sendiri ingin menyeret istrinya kembali ke atas ranjang.
Dhira selalu bekerja dengan baik, bahkan Vante sendiri mengagumi kecerdasan dan kekreatifan Dhira dalam bekerja.
"Pak, saya di sini sebagai arsitek, tapi mengapa bapak srlalu membawa saya saat ada pertemuan atau rapat penting." Dhira bertanya karna ia merasa bukan sekertaris dari Vante bos tampannya, duda terhot yang pernah ia temui.
"Karna aku membutuhkanmu, kenapa kau baru bertanya sekarang? Bukannya jau melakukan dua bidang pekerjaan dari beberapa bulan yang lalu." Jawab Vante dingin di sertai tatapan membekukan.
"Hehe, saya sudah menghitung total gaji, tunjangan dan bonus yang harusnya saya terima beberapa bulan ini dan saya harap bapak mau membayarnya." ucap Dhira kikuk.
"Tidak sekalin kau minta uang pesangon." sinis Vante.
Dhira membulatkan matanya, pesangon jangan katakan ia akan di pecat di saat karirnya sedang cemerlang.
__ADS_1
"Jangan pak, saya masih ingin bekerja."
Dhira selalu semangat bekerja karna satu alasan ia ingin melunasi setiap uang yang Rega keluarkan untuk biaya pendidikannya ia berjaji akan mengganti semua uang mantan kekasihnya, agar ia tidak mera berhutang budi pada pria itu.