
Rega masih menatap nanar wajah Nadhira yang duduk di kursi paling ujung. Ia tidak menyangka jika wanita itu benar-benar serius ingin mengembalikan uangnya dulu.
"Kau tidak perlu melakukan itu Dhira, aku sudah menganggapmu seperti adikku sendiri."
'Cih, menganggapku adik. Mana ada seorang kakak meminta kesucian adiknya sendiri. Bahkan sering meminta jatah di luar itu.' Dhira muak mendengarnya, tapi kalimat itu hanya tercipta di benaknya saja.
"Sayangnya aku tidak menganggap demikian. Bagiku janji adalah hutang, dan aku selalu membayar hutangku. Aku bukan dirimu." sinis Dhira.
"Aku tidak mengingkari janji, suatu saat aku akan menepati semua janjiku." Rega berujar tenang.
Janji apa? Pertanyaan besar tercipta di benak Sarah.
"Sepertinya ada hal yang belum kalian selesaikan!" Vante menebak tepat sasaran.
"Ya semuanya memang belum selesai pak, karna aku masih memiliki sangkutan dengannya. Sepertinya besok aku akan mengajukan pinjaman." Nadhira berkata serius.
__ADS_1
"Tidak usah menunggu besok aku bisa meminjamkannya sekarang. Kirimkan no rekening dan nominalnya Rega aku akan mengirimkan uangnya sekarang melalui m-banking."
Dhira meraih ponselnya dan mengirimkan apa yang di minta atasannya. Uang dengan nominal yang tidak sedikit sudah di rekening Rega.
Percuma Rega melarang keras yang ada malah semakin ribut apalagi Sarah masih menatap Dhira penuh persaingan.
"Emh ... Mbak Sarah aku numpang ke toilet ya udah kebelet." Nadhira sudah berdiri dari duduknya.
Dhira hendak melangkahkan kaki bermaksud pergi ke toilet yang paling dekat dari meja makan di sana karna memang Dhira sudah hapal betuh denah rumah yang sering ia kunjungi di masa lalu.
"Toilet kamar tamu?"
"Ya, kau pasti tau tempatnya bukan? Di masa lalu kau sering sekali berkunjung kemari." ucap Sarah tepat. Rega memandang wajah Dhira yang membatu dan tampak pias.
Bukan tanpa alasan Dhira tidak segera pergi ke kamar tamu itu, di sana tepatnya sekitar enam tahun lalu kesuciannya di minta oleh pria yang ia cintai pria yang paling ia percayai di masa lalu. Bagi Nadhira kamar itu adalah tempat paling buruk di mana di dalam kamar itu menyerahkan mahkotanya sebagai hadiah di hari perayaan satutahun Rega dan dirinya menjalin kasih, sumpah demi apapun ia tidak akan melupakan hal itu dalam hidupnya.
__ADS_1
"Dhira. Kau jadi ke toilet tidak?" Sarah bertanya.
Dhira masih membatu di tempatnya tak merespon orang-orang di sekitarnya yang beberapa kali memanggil namanya. Rega memejamkan matanya sejenak ia mengetahui alasan diamnya Nadhira. Bahkan ia sudah pasrah jika Nadhira mengatakan hal sebenarnya yang terjadi di masa lalu, di balik kamar tamu itu ia masih mengingat bagaimana caranya ia memperawani Nadhira, ia juga memberikan kemejanya untuk di gigit wanita itu agar teriakannya dapat sedikit teredam, kilatan bayangan di masa lalu seakan berputar bagai kilasan kaset rusak. Untuk pertama kalinya dan secara sadar Rega melakukan hal itu tanpa pengaman. Gadis lugu nan polos itu sudah ia nodai. Bagaimanapun saat itu jiwa muda yang sedang memasuki proses dewasa mengharuskannya memenuhi gairah darah mudanya. Hormon testosteronnya bekerja sangat baik.
Meskipun melakukan hal terlarang dengan Nadhira bukan hal pertama baginya tapi tetap saja Rega dibuat khawatir di saat itu, pasalnya karena terlalu menikmati aktifitasnya Rega sampai terlambat mencabut miliknya. Cairan yang harusnya ia keluarkan di luar ternyata sebagian ia lepaskan untuk menyirami rahim hangat kekasihnya dan sisanya Rega menumpahkan cairan kental itu di atas perit rata Nadhira. Beruntung waktu itu kekasihnya tidak dalam keadaan subur.
"Dhira apa yang terjadi?"
"Dhira, Hey!"
Dhira tersentak.
"Ah ya, ada apa?" Dhira mencoba mengatur nafasnya yang terasa putus-putus.
"Dhira kau baik-baik saja.?" Vante sungguh merasa cemas.
__ADS_1