
Regantara benar-benar tertekan dengan statusnya sebagai suami, meskipun Sarah termasuk wanita yang penurut tapi tak lantas membuat Regantara merasa nyaman dengan keberadaannya pria itu kerap kali menghabiskan waktu di kantor dan enggan untuk pulang kerumahnya. Sebenarnya ia bukan tak betah di rumah hanya saja di sana ada wanita yang tak lain adalah istrinya yang sama sekali tak di inginkan Rega.
Batin Rega semakin hancur saat menerima undangan dari sepupunya yang seminggu lagi akan melangsungkan pernikahan di istana kepresidenan negara ini.
'Dhira, aku rasa kau harus memikirkan rencana pernikahanmu bersama Keanu, jangan sampai pria itu menjadi alat untukmu balas dendam.' Rega mengirim pesan untuk pemilik hatinya melalui aplikasi hijau bertanda gagang telpon.
Rega menyandarkan punggung di kursi yang tengah ia duduki, kesepuluh jemarinya menyugar ramput hitamnya dengan perasaan gusar menunggu pesan balasan dari sang mantan kekasih.
'Jangan terlalu percaya diri! aku menyukai Keanu, dia tampan, mapan dan kaya raya dia juga muda dan berkharisma. Katakan wanita gila mana yang sanggup menolak pesonanya.' balasan pesan dari Nadhira sukses membuat seluruh jiwa Rega terasa terkoyak seketika. Rega sampai menggosok wajahnya sampai memerah menggunakan kedua telapak tangannya untuk melampiaskan rasa yang ada.
.
"Tumben sudah pulang?" Sarah menegur suaminya yang kini pulang dengan keadaan kacau, jarum jam menunjukan pukul setengah sembilan malam, yang dimana pertama kalinya Rega pulang malam karna biasanya pria itu akan pulang pagi di atas jam dua belas malam, atau malah kadang pria itu menginap di kantornya, ya itu semua ia lakukan untuk menghindari perdebatan yang sering kali muncul ketika ia berada di rumah.
"Ini rumahku! Terserah aku pulang kapanpun semauku. Jangan mengajakku berdebat Sarah aku lelah." Rega hendak meninggalkan istrinya, ia enggan untuk ribut kali ini.
__ADS_1
"Kapan kau akan memberikan nafkah untukku?"
"Apa uang yang ku berikan masih kurang?"
"Aku menginginkan nafkah bathin "
Rega hanya berdecak dan mrmijat keningnya yang tiba-tiba terasa pusing.
"Aku meminta hakku malam ini." Sarah marah pada suaminya, sudah hampir sebulan dirinya menyandang status istri tapi Rega sama sekali belum menyentuhnya, ayolah kalian pasti paham apa yang di inginkan wanita dewasa yang normal.
Rega menarik tangan istrinya menuju kamar terdekat.
Tanpa ciuman atau pemanasan Rega memasuki istrinya, meskipun tanpa cinta dan tidak menikmatinya Rega melakukan tugasnya sebagai suami. Tapi yang membuat Sarah sangat marah adalah di mana saat pria itu mencapai pelepasannya Rega mebisikan nama Nadhira tanpa sadar yang sukses membuat Sarah naik darah, lagi pula istri mana yang tidak sakit hati di saat suaminya menyebut nama wanita lain di saat mereka bercinta.
"Beraninya kau menyebut nama mantanmu saat sedang bersamaku." Sarah marah dengan mata merah menyala.
__ADS_1
"Aku minta maaf, sungguh itu di luar kuasaku."
"Apa? Diluar kuasamu. Apa kau membayangkan wajah Nadhira saat tadi bersamaku?" tanyanya telak. Rega hanya membisu seakan membenarkan tuduhan istrinya.
"Sadarlah! Rega, Nadhira juga akan menikah, apa kau tak bisa melupakannya dan memulai bersamaku?"
"Aku sudah mencoba dan aku tak bisa, aku juga tengah berusaha.bisakah kau mengerti diriku Sarah." pria itu marah pada istrinya, jika pasangan lain akan bersikap romantis saat setelah bercinta berbeda dengan pasangan ini, mereka justru malah bertengkar dan meninggukan suara masing-masing.
"Kau selalu memintaku memahamimu, tapi kau tidak pernah memahami perasaanku, aku telah banyak mengalah pada hubungan kita, bahkan aku menunda pernikahan kita sampai tujuh bulan hanya demi agar Nadhira mau melanjutkan pendidikannya." Sarah balas memarahi Rega. "Kau itu pria jahat tidak pernah memperlakukanku dengan baik, bahkan kau malah merobek tiket bulan madu ke paris yang Nadhira berikan kau jahat Rga." Sarah bertambah meninggikan suaranya bahkan wanita itu menjerit di akhir kalimatnya.
Rega mebgenakan pakaiannya dengan cepat. "jika aku pergi ke paris menggunakan tiket hadiah dari Nadhira bayangkan perasaannya akan seperti apa? Itu sama saja aku menaburkan butiran garam di tengah luka yang ku berikan." Rega melemah jika itu menyangkut Nadhira ia masih ingat tatapan sendu wanita itu.
"Kau hanya peduli pada wanita itu saja, kau tak pernah memperdulikan aku Rega, aku tidak kuat terus-terusan seperti ini ... Hiks..." Sarah menangis berharap jika Rega akan merengkuh dan menenangkannya.
"Lantas kau mau apa? Kau boleh pergi atau bertahan sejak awal aku sudah mengatakan jika aku tidak tertarik padamu."
__ADS_1