Mencintai Sepupu Kedua (Tak Bisa Berpaling)

Mencintai Sepupu Kedua (Tak Bisa Berpaling)
Melantur


__ADS_3

"Kenapa kau menciumku?" Dhira merenggut tak suka.


"Memangnya kenapa aku sering menciummu dulu, kau tak pernah marah?" Bima mencoba membela diri, ia teringat tentang kelakuan mereka dari kecil hingga beranjak remaja mereka adalah teman membuat kriminal. Sampai saat di mana Ayah dan Ibu Bima membawanya pindah ke luar negri.


"Itu dulu Bim sekarang beda lagi." Dhira beranjak dari duduknya untuk mengambil minuman kaleng, tenggorokannya terasa kering sekarang.


Bimapun ikut meraih dua butir telur serta sayuran sawi di saat pintu kulkas masih terbuka lebar.


"Kau mau membuat apa? Dengan telur dan sayur itu." Dhira nampak penasaran saat Pria seumuran dengannya itu memotong sayur sawi hijau yang sebelumnya sudah Bima cuci.


"Aku lapar, ingin membuat mie instan. Apa kau mau?" Bima menawari sepupunya yang selalu cerewet mengomentari dirinya soal makanan dan gaya hidup yang sehat.


"Boleh."


"Hey, apa yang terjadi? biasanya kau selalu menggelar ceramah saat aku akan makan mie instan." Bima bertanya.

__ADS_1


"Sesekali bolehlah asal jangan sering-sering. Lagi pula tidak hanya makanan saja yang membuat kita sakit, cinta juga salah satunya." tatapan mata Dhira jauh nenerawang entah kemana.


"Lah malah curhat." Cibir Bima meledek.


"Duduklah Tuan Putri, kau cukup menemani aku makan saja. Jangan melakukan apapun." Bima nenuntun Nadhira untuk duduk di kursi.


Sumpah demi apapun pria itu berkali-kali lipat lebih tampan saat mengenakan afron, apa lagi berwarna pink, Dhira memperhatikan pria itu dengan seksama dari mulai menggulung lengan kemejanya, sampai cara pria itu memecahkan telur terlihat keren dan mempesona. Ah mungkinkah dirinya sudah berpaling kelain hati dan juga masih sepupunya sendiri. Lalu siapa yang bisa menjamin jika dirinya memang menyukai Bima.


Aroma bumbu mie yang menusuk hidung seketika membangkitkan perutnya yang padahal ia sudah makan malam, tapi bau ini tak bisa Dhira abaikan.


Bima juga mengambil dua botol minuman teh dengan lebel pucuk yang tertulis jelas di luar kemasannya.


"Terimakasih Bim."


"Hm." Bimapun ikut duduk di samping sepupunya. "Seandainya saja kau setiap malam kemari, aku akan sering makan dirumah. Jika kau bersedia aku akan menjadikan istriku, aku sangat senang jika di rumah ada yang menungguku untuk pulang." Ungkap Bima jujur.

__ADS_1


"Uhuk ... Uhuk ..." Dhira tersedak kuah mieu yang baru ia seruput, untung saja ia belum menambahkan bubuk cabe di makanan miliknya.


Apa-apaan pria itu nyeletuk tak jelas sampai Dhira tersedak, melamar di meja makan saat makan mie instan.


"Pelan-pelan." Bima sigap memberikan air minum pada sepupunya.


"Aku bukan tersedak karna makanan. Aku tersedak karna banyolanmu." Dhira menaruh kembali tempat minumnya setelah selesai ia meneguknya sedikit untuk melegakan tenggorokannya.


"Aku tidak sedang bercanda Dhira, aku serius."


"Ck, kau itu. Lebih baik kau bekerja keras dulu yang giat, biar saat kita berjodoh nanti kita tidak pusing memikirkan token dan beras habis." Dhira balik menggoda sepupunya.


"Aku jamin itu tidak akan terjadi. Aku pria bertanggung jawab."


"Makanlah. Omonganmu makin sini malah makin ke sana. Kurasa kau harus segera beristirahat agar omonganmu tidak melantur." Dhira hanya menganggap obrolan mereka hanya candaan semata.

__ADS_1


__ADS_2