
Setelah Lintang mandi, mengganti baju, dan sarapan. Lintang kini sedang duduk di sebuah kursi yang berada di dapurnya, didepannya ada Fareed yang duduk diam melihat dirinya intens.
“Mm, jadi bagaimana?” tanya Lintang, ia akan mencari tahu kenapa Hiza mengatainya jahat, padahal ia selama ini hanya tertidur dan ketika bangun sudah berdiri melihat tiga pria di depannya.
Fareed bernafas berat, ia kemudian bercerita tentang semua yang telah terjadi kepada Lintang, di sepanjang bercerita, Fareed melihat raut wajah Lintang mulai dari sedih, kaget hingga syok.
“Tapi aku merasa bahwa diriku tertidur selama apa yang kau ceritakan Fareed, aku tidak tau, dan pelecehan yang terjadi kepada ku itu aku pun juga tidak mengetahui nya, yang aku tau adalah aku melihat isi rekening ku ada uang dua ratus juta dari lomba yang Elivan menang kan.” terang Lintang membuat Fareed terkejut, bagaimana mungkin Lintang tidak mengingat apa yang terjadi kepadanya?, Fareed mencoba menormalkan kembali raut muka nya yang terkejut.
“Hm.., sudah lah, jangan di pikirkan, sekara—”
“Mommy” panggil Elivan. Lintang dan Fareed menoleh, ia melihat Elivan dan Hiza berdiri dengan wajah khas bangun tidurnya.
Lintang jongkok kemudian mengulurkan tangannya untuk kedua anaknya, Elivan berlari, menubruk tubuh Lintang membaut keduanya tertawa kecil. Lintang mengecup kening Elivan sekali. Ia menoleh ke arah Hiza.
“Hiz, ayo nak” panggil Lintang membuka tangan kirinya, untuk di peluk oleh Hiza.
Hiza tak mau bergerak sedikit pun. Lintang merasa bersalah karena telah mencekik Hiza Hingga membiru, jujur dia tidak tau bahkan ingat apapun itu.
“Hiza, ayo, kan biasanya peluk mommy” ucap Elivan mengerti kondisi mommy nya.
“Tidak mau, Dad, aku lapar” ucap Hiza ke Fareed.
Lintang tersenyum kecut, ia melepaskan pelukannya, berdiri kemudian menuju samping Hiza.
Fareed bingung harus bagaimana.
“Ayo, Mommy ambilkan” ucap Lintang, Hiza hanya diam tak merespon membuat Lintang merasa bersalah karena telah mencekik Hiza karena ketidaksadarannya kemarin.
Entah bagaimana bisa dia merasa sedang tertidur lelap tapi kenyataannya dia melakukan kekerasan kepada anaknya sendiri.
“Selamat” ujar Fareed dalam hati, pasalnya ia tak mengerti harus merespon bagaimana.
“Ayo dimakan” ucap Lintang sambil memberikan sepotong roti dengan selai coklat kesukaan Hiza.
Hiza hanya diam ia mengambil satu potong roti yang diberikan Lintang dan langsung memakannya tanpa duduk terlebih dahulu. Ia masih sangat sedih karena Lintang telah tega mencekik nya hingga kehabisan nafas.
__ADS_1
“Duduk dulu Hiza” peringat Lintang Hiza hanya diam ia tetap berdiri sambil memakan rotinya dengan lahap.
Fareed melihat ekspresi Lintang semakin sedih ketika Hiza tidak mau mendengar dan menuruti permintaan nya.
“Hiza dengarkan apa kata mommy sayang” ucap Fareed ke Hiza.
“Baik dad, Hiza akan makan duduk” jawab Hiza, Hiza menaruh rotinya di atas meja, kemudian ia menarik kursi dan duduk di atasnya.
Hiza mengambil roti itu dan memakannya dengan lahap.
Uhuk uhuk...
Hiza tersedak, dengan sigap Lintang menyerahkan sebuah gelas yang berisi air didalamnya ke depan Hiza.
“Hati hati kalau makan, ini di minum dulu” ucap Lintang menyerahkan air minum itu.
Hiza tak menanggapi, tangannya terjulur untuk mengambil gelas berisi air di depan Fareed, bukan gelas pemberian Lintang. Hiza meneguk nya hingga habis, rasa dahaga nya telah terselesaikan.
Tangan Lintang ia turunkan, Lintang sedikit kecewa karena usahanya sama sekali tak di gubris oleh Hiza, tapi ia berusaha untuk tetap tersenyum. agar raut wajah nya yang kecewa tidak di ketahui oleh Hiza.
Lintang melirik kedua anak dan ayah kandung di sampingnya hanya duduk memakan sarapannya sambil menonton. Seakan-akan itu adalah sebuah pertunjukan yang menarik. padahal menurut Lintang tidak.
“Aku sudah menyelesaikan sarapanku dad, aku mau ke kamar dulu Dad, Abang.” pamit Hiza yang telah menyelesaikan sarapan pukul sepuluh nya tanpa menoleh ke arah Lintang, seakan-akan lintang itu tak pernah ada di depannya.
“Ya” balas Fareed dan Elivan bersamaan membuat keduanya refleks menoleh dan saling menatap dengan mata tajam mereka.
Rasanya sekarang Lintang mau menangis anaknya sendiri tak mau berbicara bahkan melihatnya.
Lintang terduduk di kursinya ia menatap kosong lorong ruangan menuju kamar Hiza dengan perasaan penuh bersalah.
Rasanya Lintang tak ingin melakukan semua itu, tapi.. semua itu terjadi di luar kendalinya. Ia tak tahu. Lintang tak mengerti sama sekali kenapa bisa kejadian seperti ini.
kepala Lintang tertunduk, ia menangkup wajah pucat nya dengan kedua tangan indahnya. Air matanya perlahan turun.
Sebagai seorang ibu, kegagalan terbesar adalah membuat anaknya kecewa dan tak peduli kepada nya. Bahkan ia hampir saja membunuh Hiza dengan kedua tangan nya sendiri. Meskipun itu bukan darah dagingnya.
__ADS_1
Tapi, ibu dari anak kecil bernama Hiza itu telah menitipkan Hiza kepada nya, dan lebih membuat nya bersalah adalah, anak itu tidak mengenal ibu kandung yang sebenarnya.Yang di anggap ibu kandung oleh anak itu adalah ia, Lintang.
Meskipun Lintang berperan sebagai ibu yang tak memiliki hubungan darah apapun, ia merasa sangat gagal, ia tak pantas. Lintang tak pantas untuk menjadi seorang ibu.
“Maaf, aku tidak bisa menjadi ibu yang baik” lirih Lintang berlinang air mata nya.
Sementara, Fareed dan Elivan saling tatap kemudian mengangguk.
Fareed berdiri dan berjalan ke depan Lintang, Ia mengusap rambut hitam Lintang dengan lembut “Sudah tak apa” ucap Fareed menenangkan.
Fareed menarik kepala kepala bintang untuk dipeluknya Farid mendengar Lintang menangis semakin kencang pegangan tangan Lintang ke bajunya semakin mengerat.
“Aku sudah gagal Fareed, aku sudah gagal, aku gagal menjadi ibu yang baik untuk kedua anak ku” lirih Lintang terisak.
“Kau adalah ibu yang baik bagi mereka” ucap Fareed mencoba menenangkan Lintang.
Fareed merasa kepala Lintang menggeleng keras di area perutnya “Tidak farel aku ibu yang buruk bagi mereka hiks hiks...” ucap Lintang terisak.
Fareed menghela nafas iya menangkup wajah Lintang untuk ditatapnya. “Lihat aku” ucap Fareed menekan setiap katanya.
Lintang yang terisak menatap netra hitam Fareed dengan tetapan sedih.
Fareed menghapus air mata yang jatuh dari kedua pelupuk mata Lintang dengan jari jempolnya, kemudian Fareed menyingkap rambut Lintang kebelakang.
Wajah Lintang sekarang jelas di mata Fareed, Merah, sangat merah karena menangis.
“Kau adalah ibu yang terbaik” ucap Fareed meniup wajah Lintang pelan, mata Lintang mengerjab, air matanya kembali turun.
“Tap- tap—”
Dor....
💮🌼🌹🦋.
Hmm, saya mau nanya, apakah alur cerita ini nyambung?, saya memang sengaja membuat Lintang tak mengerti dirinya sendiri karena ada sebuah rahasia besar dari masa lalunya dulu.
__ADS_1