Menemukan Balita Genius

Menemukan Balita Genius
Siapa?


__ADS_3

05.50


Pagi ini, Lintang dan bi Mina sedang berada di sebuah pasar tradisional di kawasan itu, pasar yang letaknya tak jauh dari rumah bi Mina.


Dinginnya udara pagi tidak menyurutkan semangat Lintang untuk melakukan hal baru.


Lintang sekarang dengan pakaian daster yang ia pinjam dari bi Mina, ia belum mempunyai pakaian kecuali yang ia pakai kemarin, rencana nya sekarang ia akan membeli pakaiannya sekarang berserta pakaian kedua anaknya dan pria berbadan besar itu.


Di tengan tengah perjalanan, Lintang sangat di buat takjub karena orang orang di sini sangatlah ramah.


“Eh bi Mina sama siapa bi, cantik banget, siapanya sih” ucap salah satu warga setempat.


“Ponakan Is” jawab bi Mina tanpa berhenti berjalan, begitulah kira-kira yang selalu di tanya oleh orang orang desa.


“Enak ya bi tinggal di desa, orangnya sangat hangat, nggak kaya orang kota, orangnya sudah kaya hidup sendiri” ujar Lintang membuat bi Mina tersenyum simpul.


“Tapi kalau sudah julit wahhh, sampai kakek kakek nya tau nak” jawab bi Mina membuat Lintang bergidik ngeri. Apa sekejam itu ya kalau membicarakan orang?.


“Mm, kalau begitu saya tidak tau bi” ucap Lintang tersenyum simpul.


Sesampai nya di pasar, Lintang melihat orang yang berlalu lalang, sibuk dengan kesibukan nya sendiri. Ada yang sedang menawar, membeli, bahkan ada yang sedang berbincang bincang.


“Bi Mina kita belanja dulu, nanti tolong anterin saya buat beli baju ya” ujar Lintang yang langsung di beri angguk oleh bi Mina.


“Berapa mbok?” tanya bi Mina ketika ingin membayar belanjaannya.


“Lima puluh bi” ucap wanita yang sudah berumur itu.


“Ini bu” ucap Lintang memberikan uang nya.


“Pake duit bi Mina aja nak” ucap bi Mina mencegah Lintang memberikan uang nya.


“Tidak bi, pake duit Lintang aja” ucap Lintang menyerahkan uang itu pak mbok penjaga.


“Pas ya neng, ini” ucap mbok itu memberikan kantong belanjaan nya pada Lintang.


Setelah semuanya selesai. Lintang dan bi Mina akan mencari kios penjual baju.


Lintang yang hanya membawa uang sebanyak Rp 500.000 rb tinggal 400.000. Sisa tabungannya hanya tinggal 5 juta setelah membayar uang rumah sakit 225 jt.


Itu pun ia harus mengambil uang yang di berikan oleh Elivan karena memenangkan lomba membuat robot.


“Ayo nak Lintang, bibi antar, di sana saja murah” ucap bi Mina menunjuk ke arah penjual berbagai pakaian yang ada di pasar itu.


“Iya bi, Lintang ikut saja”


“Ayo di pilih di pilih” ujar penjaga kios itu.

__ADS_1


“Eh bi Mina, mau beli apa bu?” tanya penjaga itu ketika melihat bi Mina datang.


“Siapa itu bi?” tanya penjaga itu kerena dia rasa tidak mengenal wanita di samping bi Mina.


“Ponakan pak, dan ini yang mau beli, ayo nak pilih saja, nanti di diskon sama pak Harto” ucap bi Mina mempersilahkan Lintang agar memilih pakaian.


Lintang mengangguk.


Ia pun memilih masing masing tiga pasang untuk dirinya, Zhafir, Hiza dan Elivan.


“Sudah pak, berapa?” tanya Lintang menyerahkan baju itu di depan pak Harto.


“Banyak banget neng, buat siapa?” tanya pak Harto menjumlah sekaligus memasukkannya ke dalam kantong plastik.


“Buat anak pak” jawab Lintang membuat pak Harto mengangguk paham.


“Oh, saya kira masih singel loh neng,” canda pak Harto.


“Berapa pak?” tanya Lintang membuka dompetnya.


“Rp. 250. 000 rb aja buat neng cantik” ucap pak Harto memberikan kantung plastik yang berisi pakaian. Sementara Lintang menyerahkan uang nya.


“Terimakasih neng, maaf ya, saya tadi ga melihat cincin nya” ucap pak Harto melirik cincin pernikahan nya dengan Fareed yang masih terpasang indah di jari manisnya.


Lintang hanya tersenyum simpul kemudian mengangguk.


Mereka pun kemudian kembali ke rumah bi Mina.


Pukul 07.23 Wib.


“Sudah selesai bi?” tanya Lintang.


“Sudah nak, kamu bangunkan saja anak anak, sama Zhafir itu” ucap bi Mina, Lintang mengangguk.


Lintang berjalan menuju ke kamar nya terlebih dahulu untuk membangunkan Hiza.


“Hiza, ayo bangun, sudah pagi” ucap Lintang membangunkan Hiza yang sedang tidur sangat lelap, mungkin Hiza capek setelah perjalanan selama 6 jam.


“Sebentar mom, lima menit lagi” ucap Hiza menawar.


Lintang hanya tersenyum simpul.


“Baiklah, lima menit lagi Mommy ke sini, awas kalau ga bangun, Mommy guyur kamu” ucap Lintang memperingati.


“Iya mom”


Lintang berdiri, ia sekarang berjalan menuju kamar yang di tinggali oleh Elivan dan Zhafir.

__ADS_1


Ceklek...


Pintu Lintang buka, air matanya seakan ingin menetes melihat Elivan dan Zhafir tidur saling berpelukan.


Di dalam pelukan itu, mata Elivan terpejam di dalam pelukan itu Elivan bergumam lirih.


“Daddy..., kenapa Daddy jahat?, salah El apa?” gumam Elivan di sela sela tidurnya.


“El salah ya karena telah menyebabkan kematian anak Daddy yang Daddy inginkan,”


Lintang menguatkan dirinya, ia perlahan berjalan ke arah Elivan.


Lintang diam melihat apa yang akan di ucapkan oleh Elivan selanjutnya.


“Daddy, El tau kok kalau Daddy tidak menginginkan El, El pernah denger kok waktu Daddy sama Mommy Lita berantem. Daddy sama Mommy bilang kalau tidak menginginkan ku kan?”


“Lalu kenapa waktu El pergi di buang oleh Mommy Daddy nyariin El?” gumam Elivan, di setiap kata yang Elivan ucapkan terdapat jeda, mungkin Elivan sedang bermimpi berbicara dengan Fareed, pikir Lintang.


Lintang terus memaksakan dirinya untuk terus mendengar apa yang Elivan ucapkan. Tapi Lintang sudah tidak bisa menahan air mata yang keluar.


“El sudah bahagia dengan Mommy Lintang, tapi kenapa Daddy datang lalu menghancurkan kebahagiaan yang telah El buat bersama mommy Lintang dan Hiza? bukan hanya El yang kebahagiaan nya Daddy hancurkan, tapi juga Mommy, Daddy jahat tau gak” ucap Elivan semakin meninggikan nada bicara nya.


“Daddy kenapa pukul El lagi?” tanya Elivan membuat Lintang terbelalak, di dalam mimpi pun Elivan merasakan pukulan dari Fareed?.


Lintang melihat air mata Elivan turun. Kemudian tak lama dari itu Elivan bangun dan terduduk, Dia menyeka air matanya.


“El” lirih Lintang. Elivan menoleh kemudian ia langsung berhamburan ke pelukan hangat Mommynya.


Elivan menangis sesenggukan, semakin lama tangisan itu semakin kencang.


“Mom, kenapa Daddy kok jahat sama El? Hiks.... Hils...” tanya Elivan lirih, ia menenggelamkan wajahnya di perut Lintang.


Lintang hanya terdiam, ia tak mampu lagi berucap apapun, semua kelu di pangkal lidahnya.


“Hiks...., Mom, kenapa? apa El beban ya?” tanya Elivan, tangisnya semakin kencang.


“Hiks .. Hiks....”


Mendengar suara tangisan, Zhafir pun terbangun, ia melihat Lintang sedang memeluk tubuh Elivan dan Elivan sedang menangis sesenggukan.


Zhafir hendak berucap, tapi ia tahan ketika melihat bibir Lintang mengatakan 'Diam'.


Zhafir hanya diam, menuruti.


Setelah sekitar sepuluh menit, tangis Elivan mereda, Lintang menangkup wajah putranya lembut.


“Sudah puas?” tanya Lintang membuat Elivan mengangguk. Bukan ya kenapa ia mempertanyakan itu, ia tau dengan menangis kita bisa meluapkan semua emosi yang kita pendam.

__ADS_1


“Yasudah, ayo mandi, Mommy punya sesuatu buat El, mandi sama Om Zhafir ya”


El dan Zhafir mengangguk.


__ADS_2