Menemukan Balita Genius

Menemukan Balita Genius
Keputusan ada di tangan Elivan!. [End]


__ADS_3

“EL TANYA DI MANA DADDY?!, DI MANA?!!! SEKALI LAGI, MOMMY MEMBUANG KU KELUAR DARI NEGARA, APA TAK PUAS DULU MOMMY JUGA MEMBUANG KU KE TENGAH HUTAN??!!!” Elivan berteriak marah di depan wajah Fareed.


Air mata Elivan semakin meluruh, mata nya memerah.


“DAN APA DENGAN KATA MAAF ITU BISA MEMBUAT KU KEMBALI DENGAN MASA KECIL YANG TAK HANYA DIAM DI DALAM KAMAR DAN BELAJAR BELAJAR DAN TERUS BELAJAR, ITU YANG DADDY BILANG EGOIS?”


“DI SAAT ANAK SEUMURAN KU SIBUK BERMAIN DI LUAR, SEMENTARA AKU?, AKU DUDUK DI DIAM DI KAMAR SAMBIL BELAJAR BELAJAR DAN BELAJAR, DI SAAT SAAT UMUR KU BARU MENGINJAK 5 TAHUN, KAU SUDAH MENEKANKAN SEMUA PEMBELAJARAN YANG SEHARUSNYA ITU DI PELAJARI OLEH ANAK SE USIA 15 TAHUN, APA YANG ITU KAU SEBUT AKU EGOIS HAH!!??” Elivan terdiam, ia mengingat semua nya.


Mengingat di saat ia baru menginjak usia 5 tahun dia sudah di cekoki oleh Fareed rumus matematika yang seharusnya di pelajari oleh anak seusia 15 tahun.


Berbagai rumus dari Aljabar, phytagoras, sampai sin cos tan ia pelajari.


“HAHAHAHAH” tiba tiba Elivan tertawa begitu kencang, tawa yang mereka semua dengar bukanlah tawa bahagia melainkan tawa kepedihan tawa nyaring yang tersirat kepedihan yang sangat dalam.


Fareed menunduk, ia berlutut di depan Elivan.


Elivan ikut berlutut, ia menangis.


“Jika Daddy ingin bersama mommy, maka bersama lah, tapi untuk maaf ku, El belum bisa” ucap Elivan menghapus air mata nya. Kemudian ia berdiri dan berjalan menuju mommy nya.


Elivan tahu, mau bagaimana pun Daddynya, itu tetaplah Daddy nya.


Fareed terdiam, ia mengingat semua nya ketika ia mengurung Elivan seperti burung dalam sangkar emas.


“Mommy kembalilah bersama Daddy, aku akan pergi bersama om Zhafir, aku akan masuk dunianya om Lion, nanti kalau El sudah tidak sakit lagi El akan datang”


“Jang—”


Cup...


“El pergi mom” lirih Elivan tak membiarkan Lintang berbicara.


Lintang menangis diam, air matanya terjatuh deras.


Ibu mana yang ingin melihat anak nya memasuki dunia berbahaya berpamitan dengan nya langsung.


Elivan beranjak, kemudian mencium dahi Hiza pelan dan memeluknya sebentar.


“Jaga mommy dek”


“Abang...” lirih Hiza memegang tangan Elivan yang ingin melepaskan pelukannya. Hiza menggeleng keras.


“Jangan Bang”


Elivan melepas paksa pegangan itu, ia berjalan ke arah Zhafir.


“Ayo om, El ikut Om saja, El lebih suka kekerasan fisik daripada hati” ucap Elivan menyeret tubuh Zhafir.


Elivan dan Zhafir pergi dari sana, sesampainya di depan gerbang rumah bi Mina di sana terparkir tiga buah mobil, Elivan dan Zhafir saling tatap, kemudian mengangguk.


“Satu...”


“Dua...”


“Tiga...”

__ADS_1


Blus...


Brak...


Brummm.....


“Woyy!!!” pekik salah satu anak buah Fareed ketika mobilnya di bawa kabur oleh Elivan dan semua.


Mereka berdua ingin mengejar Elivan dan Zhafir, tapi pergerakannya di hentikan oleh Fareed.


“Biarkan saja mereka” ucap Fareed membuat mereka berdua mengangguk.


“Baik tuan”


Fareed berdiri, ia berjalan ke arah Lintang dan langsung memeluk tubuh itu kencang.


“Sayang, maafkan aku...” lirih Fareed.


Fareed semakin menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Lintang.


Air mata yang semula tak turun kini deras di atas pundak Lintang.


“Aku gagal menjadi Daddy yang baik untuk anak ku Lin, aku gagal” ucap Fareed menangis keras, dan Lintang baru kali ini melihat dan mendengar suara Isak tangis Fareed.


Lintang bimbang, ia sekarang harus bagaimana antara menenangkan pikiran dan hatinya atau menenangkan Fareed.


Lintang melihat ke arah bi Mina seakan meminta sebuah petunjuk ia harus bagaimana.


Bi Mina tersenyum ia mengerti dengan apa yang sedang di rasakan Lintang sekarang. Kemudian bi Mina menggerakkan tangannya seperti dirinya sedang mengelus pundak seseorang dan bibirnya bergerak mengatakan.


“Tidak, kau adalah Daddy terbaik, aku tak semua yang kau lakukan itu menurutmu sudah yang terbaik bagi kehidupan El” ucap Lintang mengelus punggung Fareed.


“Tapi El sakit karena ku”


“Aku menyesal sudah bertindak gegabah waktu itu” ringis Fareed.


“Sudahlah, biarkan waktu yang menyelesaikan nya, dan kau adalah Daddy terbaik bagi Elivan dan bagi Hiza” ucap Lintang lembut.


Hati Fareed menghangat tatkala ia mendengar ucapan Lintang yang ingin membuat dirinya tenang.


“Maafkan aku”


“Tidak masalah, biarlah semua yang sudah terjadi berlalu seperti waktu.”


“Maaf”


“Sudah, jangan menangis, malu sama Hiza” ucap Lintang menghapus air mata Fareed.


“Mana senyum nya?” tanya Lintang membuat Fareed tersenyum malu.


“Nah gitu dong, yasudah ayo masuk” ajak Lintang membuat Fareed menggeleng.


“Tidak, ayo kita pulang sekarang” ajak Fareed membetulkan kemana tujuan mereka sekarang.


Fareed berbalik badan. Ia melihat bi Mina yang berdiri dengan senyuman nya.

__ADS_1


“Bi, aku bawa Lintang pulang ya,” ucap Fareed memberi pamit ke bi Mina.


Bi Mina menangguk “Jaga istri mu, jangan sampai menyakiti hatinya, orang lain banyak yang melirik nya.” ucap bi Mina bercanda tapi Fareed anggap perkataan itu serius.


Fareed mengangguk datar.


“Terima kasih” ucap Fareed kemudian melangkah menuju ke mobil dengan merangkul pundak Lintang.


Lintang hanya bisa pasrah dengan apa yang di lakukan oleh suaminya.


“MOMMY!!!, KALIAN MENINGGALKAN HIZAA!!!!!”


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


Sementara itu, di sebuah mobil yang di Kendari oleh Zhafir, ada Elivan yang sedang menangis.


Zhafir hanya mendiamkan saja, ia tau bahwa menangis bisa mengalihkan emosi, yang awalnya berpusat pada masalah menjadi mengatur dan mengontrol nafas.


Zhafir tau, emosi itu bukan hanya marah, sedih, menangis, kecewa, tertawa dan yang lainnya termasuk dalam emosi¹.


“Apa El sudah yakin dengan keputusan ini?” tanya Zhafir perlahan agar tidak menyinggung perasaan Elivan.


“Sudah, Elivan yakin seyakin-yakinnya,” jawab Elivan tanpa melihat ke arah Zhafir. Pemandangan persawahan di sepanjang jalan adalah hal yang menarik dari pada wajah om Zhafir.


“Lalu apa yang kau ucapkan tadi tidak benar kan?”


“Yang mana?”


“Yang katanya kau ingin masuk ke dalam dunia mafia?” tanya Zhafir menyakinkan.


Di dalam hati Zhafir ia sudah berbunga bunga, jika Elivan masuk ke dalam dunia mafia, maka kelompoknya akan semakin sukses merajai pasar dunia bawah.


“Ya, sedari dulu aku ingin memasukinya” jawab Elivan santai.


“Tapi dunia mafia bukanlah dunia bermain El, di dalam dunia kami, baku hantam, suara tembakan, ledakan itu sudah menjadi makanan sehari-hari”ucap Zhafir mencoba mengetes seberapa kuat mental Elivan dengan menggunakan ancaman verbal atau kekerasan verbal.


Karena jika seseorang mudah di pengaruhi dengan sebuah ancaman verbal, maka di pastikan orang itu sangat tidak layak untuk dijadikan sebagai ketua.


“Aku akan tetap memasuki dunia itu.”


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ




Emosi adalah Reaksi sementara dari seseorang tentang suatu kejadian.




Kekerasan verbal misalnya ketika seseorang menggunakan ucapannya untuk menyerang, mendominasi, mengejek, memanipulasi, dan menghina orang lain serta mempengaruhi kesehatan mental orang tersebut.


__ADS_1



__ADS_2