
“Sini aku yang akan mengeringkan rambut mu” ucap Lintang mengambil handuk kecil di tangan Fareed.
Fareed hanya menurut, ia duduk di tepi ranjang, sementara Lintang berdiri sambil mengeringkan rambut Fareed.
Fareed tersenyum jahil, ia menarik pinggang Lintang dan menenggelamkan wajahnya di perut rata Lintang.
“Kapan ini terisi seorang bayi?” tanya Fareed mengelus perut Lintang.
Mendengar itu Lintang teringat kejadian kemarin, mungkin sekarang adalah waktu yang tepat membicarakan tentang ini, di rumah ini kosong, kedua anaknya bermain di taman pusat kota.
“Mas” panggil Lintang duduk di samping Fareed.
“Hmm, kenapa?” tanya Fareed melihat Lintang.
“Aku ingin berbicara.” ujar Lintang mengambil tangan Fareed, membawanya ke atas paha nya kemudian ia mengelus tangan itu lembut.
“Ada apa?” tanya Fareed.
“Apa tidak ada yang kau sembunyikan dari ku?” tanya Lintang tanpa menatap manik mata Fareed.
Fareed gelagapan tapi ia bisa menyembunyikan nya. Fareed mengambil nafas.
“Tidak ada, aku tidak menyembunyikan apapun dari mu, memang nya kenapa hmm?” jawab Fareed. tangan nya terangkat untuk mengelus rahang Lintang.
“Kemarin aku bermimpi bahwa kau selingkuh” tutur Lintang.
“Mimpi macam apa itu?” Fareed terkekeh kecil.
“Aku mendengar dan melihat bahwa kau memiliki istri baru, dan menikah tanpa persetujuan dari ku” ujar Lintang tenang, ia menatap wajah Fareed yang mulai berubah gusar.
“Aku tidak tahu Lintang, itu kan terjadi di dalam mimpi mu” ucap Fareed membuat Lintang menangguk.
“Apakah kau tidak menyembunyikan apapun dari ku mas?” tanya Lintang sekali lagi, semua jawaban yang Fareed berikan akan menjadi keputusan nya nanti.
“Tidak sayang....”
“Ahk... turunkan aku Mas...” Lintang memekik karena tiba tiba tubuhnya sudah berada di gendongan Fareed. Tangan Lintang refleks memegang leher Fareed sebagai tumpuan agar tidak terjatuh. Fareed menggendong Lintang dengan gaya bridal style atau gaya pengantin.
“Tidak, Ayo kita makan sudah waktunya makan siang” ajak Fareed mencoba mengalihkan perhatian Lintang yang berpusat bahwa dia telah menyelingkuhi Lintang. tapi dalam mimpi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sore ini, semua keluarga kecil Fareed sedang berada di halaman belakang untuk menikmati waktu luang bersama. Termasuk Ayana.
Elivan dan Hiza tengah menguji coba penemuan Elivan yang bisa terbang seperti burung hanya dengan bantuan alat yang di pasang pada punggung.
Sekarang Hiza tengah menjadi kelinci percobaan oleh Abang nya. Hiza di pasangi tas tapi ada sayap kecil di sampingnya.
__ADS_1
“Udah siap dek?” tanya Elivan yang memegang remote kendali nya.
“Tapi Hiza takut” ungkap Hiza melihat abangnya.
“Tidak usah takut, nanti kalau jatuh ya kebawah”
“Aaaahhhhh” Hiza berteriak ketika ia tiba tiba saja terbang, ia tidak menyeimbangkan tubuhnya, akibatnya adalah remote control yang di pegang oleh Elivan tidak berfungsi dengan baik.
“Aku mau turunnnn!!!” pekik Hiza membuat semua orang yang duduk berdiri, mereka semua panik.
Alat yang di pakai oleh Hiza mengeluarkan asap hitam yang sangat tebal. Hiza oleng ia seperti nya akan segera terjatuh.
“Awas, semuanya, Hiza akan terjatuh” pekik Hiza.
Mereka semua yang panik refleks menjauh, tapi Ayana yang baru saja berdiri tidak bisa menghindar, ia terjatuh duduk karena kaki Hiza menabrak perut buncitnya terlebih dahulu.
Prakk...
Brung....
Ahkkk.....
“Mommyyy” pekik Hiza ketika ia jatuh dan kepalanya terbentur batu.
Sungguh, Elivan menyesal karena telah membuat benda laknat ini, Elivan, Fareed dan Lintang berlari menuju Hiza.
“Mom sakit...” lirih Hiza memegang kepala nya.
“Sakit...” desis Ayana menahan rasa sakit di bagian perutnya, **** ********** nya perlahan mengeluarkan darah segar.
Kepala Fareed menoleh ketika ia mendengar suara Ayana. Ia melihat kondisi Ayana yang sudah mengeluarkan darah segar dari **** ********** nya.
“Ayana..” panggil Fareed menepuk nepuk pipi Ayana. Kepala Ayana ia taruh di atas pahanya.
“Tolong, ini sangat sakit'...” lirih Ayana mencengkram kuat lengan Fareed.
“Sebentar ya sayang, mobil akan segera datang”
Deg...
Duar.....
Jantung Lintang seakan berhenti berdenyut, hatinya sangat sakit, pikirannya blank, 'sayang' kata yang terucap dari mulut Fareed kepada Ayana membuat suasana hati Lintang kacau.
Begitu sakitnya ketika Fareed mencoba menenangkan Ayana.
Baru saja tadi pagi ia mempertanyakan kebohongan yang dilakukan oleh Fareed, tapi seperti nya tuhan maha baik, Lintang telah melihatnya secara langsung sekarang.
__ADS_1
Air matanya mulai menetes, tapi ia tepis karena sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk menangisi semuanya, sekarang yang terpenting adalah bagaimana membuat Hiza tetap terbuka matanya.
“Mom, ayo naik” panggil Elivan dari dalam mobilnya.
“Iya” jawab Lintang membopong tubuh Hiza.
Lintang membopong tubuh Hiza kedalam mobil, ketika hampir sampai tiba-tiba Fareed dengan mengendong Ayana terlebih dahulu masuk.
Membuat Lintang dan Elivan menahan nafas.
Lintang menghentikan langkahnya menatap Fareed dengan marah, mobil itu hanya ada dua kursi penumpang. tak mungkin jika ia ikut dan dan duduk di depan, kasihan Hiza tak bisa membaringkan tubuhnya.
Lintang duduk, ia merebahkan tubuh Hiza di tanah sementara kepalanya ia taruh di pahanya.
Darah masih mengucur deras dari dahi dan hidung Hiza. Lintang menangis.
“Ayo pak, jalan” ucap Fareed membuat sopir itu mengangguk.
“Daddy jahat, El benci Daddy!!” pekik Elivan sebelum ia keluar dan berlari memanggil sopir lain.
“Mom, ayo masuk” panggil Elivan membuat Lintang tersenyum lebar. Dengan sigap Lintang menggendong tubuh Hiza dan merebahkan nya di kursi tengah.
“Ayo pak cepetan” desak Lintang kepada si sopir agar mempercepat laju kendaraan nya.
Sesampainya di rumah sakit, ia melihat begitu gelisah nya wajah Fareed ketika meletakkan tubuh Ayana di atas bankar.
Lintang hanya mampu menahan semuanya, waktu yang tidak tepat jika sekarang ia meluapkan semua emosi nya.
Lintang berjalan cepat mengikuti bankar Hiza yang di bawa keruang IGD.
“Tunggu sebentar ya Bu, ibu tidak boleh masuk” ucap salah satu perawat mencegah Lintang masuk.
“Tolong anak saya sus” mohon Lintang, air matanya kian jatuh menderas.
“Kami akan berusaha” ujar perempuan itu menutup pintu ruang IGD.
Lintang terduduk di depan kursi tunggu, ia menangis tersedu-sedu, mengingat kondisi Hiza dan kondisi hubungannya.
Sementara Elivan hanya diam, ia melihat mommynya menangis. Elivan merasa bersalah karena gara gara penelitian nya semuanya menjadi kacau.
Fareed sekarang sedang duduk di depan ruangan operasi. Dokter bilang jika Ayana tidak di operasi sekarang, maka bayi dan ibu tidak bisa di selamatkan, dan jika memilih di operasi maka Fareed harus memilih anak atau ibu.
Opsi yang di pilih oleh Fareed adalah menyelamatkan sang istri.
Fareed bersumpah jika Ayana kenapa-kenapa ia akan memberi perhitungan ke Elivan, Hiza, dan Lintang, tak peduli jika mereka adalah istri dan anaknya sendiri.
🌼🌼🌼.
__ADS_1
Fareed seperti remaja labil yang hanya melihat satu sisi.— author.