
“Sopan kah begitu di depan ku?”
“Kakek!!” pekik Elivan mendengar suara tuan Peterson.
“Hai cucu ku” ucap tuan Peterson membuka kedua tangannya untuk Elivan—sang cucu kesayangan.
Elivan berlari, ia masuk ke dalam dekapan hangat pria yang sudah berumur itu.
“Kakek” ucap Elivan melepaskan pelukannya.
Sementara Lintang sekarang berdiri dengan gugup karena ia sudah lama tidak berjumpa dengan tuan Peterson yang tak lain dan tidak bukan adalah ayah dari Fareed.
“Mommy” ucap Hiza yang memegang kue yang lilin berangka 27 dan masih keadaan menyala.
“Eh” Lintang lupa bahwa ada Hiza yang sedari tadi memegang sebuah kue di tangannya.
Lintang bersyukur kegugupan nya tertutupi karena panggilan dari Hiza.
Kini, semua mata tertuju pada Lintang dan Hiza yang sedang membawa sebuah kue.
“Ayo tiup lilin nya mom, Hiza sudah lelah
memegang nya” keluh Hiza melotot kan matanya membuat semua orang yang melihatnya gemas dengan perlakuan nya.
“Eh...” Lintang tersenyum, ia berjongkok untuk menyamakan tinggi nya dengan Hiza.
Fyuuhhhh.....
Semua orang bertepuk tangan ketika Lintang selesai meniup lilin berangka 27 itu.
“Horee...” pekik Hiza, ia maju selangkah untuk memberikan kue itu ke Fareed untuk di pegangnya.
“Tolong ya Dad” ucap Hiza sedetik Kemudian kue itu sudah berpindah ke tangan Fareed.
Hiza kembali ke depan Lintang yang sudah berdiri, kemudian ia mengulurkan tangannya ke atas kode untuk Lintang agar menggendongnya.
Lintang tersenyum, dengan senang hati ia menggendong Hiza di depan tubuhnya.
Matanya dan Hiza kini saling bertatapan. Hiza tersenyum ia mengecup sebelah mata Lintang dan membisikkan “Happy birthday mommy, semoga bahagia selalu” bisik Hiza.
Hiza menenggelamkan kepalanya di bahu Lintang membuat Elivan yang melihat itu sedikit merasa cemburu.
Uh rupanya Elivan sedang cemburu buta.
“Mommy aku juga menginginkannya” ucap Elivan membuat kepala Hiza langsung terangkat dan melihat ke arahnya. Menatap Elivan dengan tatapan sengit.
__ADS_1
“Tidak, ini Mommy ku” ujar Hiza dengan nada lucunya.
Elivan berjalan ke arah Lintang menggendong tubuh Hiza, matanya sudah berkaca-kaca.
“Mommy” lirih Elivan memeluk perut Lintang.
“Hiza...” peringat Lintang kemudian ia hendak menurunkan tubuh Hiza dari gendongannya, tapi Hiza semakin erat memeluk leher Lintang Hiza tak mau.
“No Mommy, Hiza tidak mau turun, abang itu tidak menangis, ia hanya berpura pura.” jerit Hiza. Ia tak mau melepaskan diri dari gendongan Lintang.
Fareed yang kasihan dengan Lintang kesusahan akhirnya ia turun tangan, kue nya ia titipkan ke salah satu pria di belakangnya. Fareed mengambil alih tubuh Hiza dari gendongan Lintang.
Lintang menghembuskan nafas nya lega, karena Hiza telah di ambil oleh Fareed.
“Hiks, mau mommy” ucap Hiza melihat ke arah Lintang yang sedang menggendong Elivan.
“Sudah, gantian, nanti Daddy belikan apapun untuk Hiza” bujuk Fareed membuat Hiza memberhentikan aksi menangisinya karena mendengar kalimat belikan apapun untuk dirinya.
“Apakah itu benar Daddy?” tanya Hiza sedikit ragu.
“Iya” jawab Fareed.
“Baiklah, sekarang turunkan aku” pinta Hiza, Fareed menurutinya, ia menurunkan tubuh Hiza ke bawah.
Elivan tertawa sedikit ketika ia di gendong oleh Lintang. Air matanya buaya.
Lintang lagi lagi tersenyum.
“Bagus, sepertinya kamu cocok untuk menjadi seorang aktris” jawab Lintang menurunkan tubuh Elivan ke bawah.
“Kalian bisa pergi, dan untuk kue nya kalian bawa saja.” ucap Fareed ke para pria di belakang nya.
Para pria itu adalah anggota Lion.
“Baik tuan, kami permisi” ujar pria yang merupakan ketua dari para anggota di belakangnya. Fareed hanya menangguk. Kemudian para pria itu pergi dari halaman rumah Lintang.
“Dad, ngapain ke sini?” tanya Fareed menatap datar sang Daddy.
“Terserah saya” jawab tuan Peterson santai membuat Fareed sedikit menahan napas.
Suasana di depan rumah Lintang kini hening sejenak, Elivan dan Hiza saling bertatapan sedangkan Kedua orang dewasa di depannya sedang terlihat.... Perang dingin?
Entahlah Hiza dan Elivan tak tau itu.
“Mm, silahkan masuk tuan” ucap Lintang memecahkan keheningan pagi itu dengan sedikit gugup.
__ADS_1
“Ah iya, ayo masuk semuanya” ucap tuan Peterson, ia mengambil tangan kanan dan tangan kiri milik Hiza serta Elivan. Kemudian melangkah masuk ke dalam rumah Lintang dengan menyeret kedua bocah itu.
Fareed yang melihat Lintang gugup membuat sudut bibirnya terangkat sedikit. Ia tersenyum singkat, tangannya terjulur ke arah pinggang ramping Lintang untuk di rangkulnya.
Lintang yang menerima perlakuan itu terkejut, ia menoleh ke arah Fareed yang sedang tersenyum simpul.
“Fare—”
“Ayo, sudah di tunggu” ucap Fareed berjalan dengan tangan yang masih merangkul pinggang Lintang.
Lintang mau tak mau hanya mengikuti Fareed berjalan ke arah mana.
“Aku ingin pergi ke dapur” ucap Lintang pelan, dengan perlahan ia melepaskan rangkulan tangan Fareed di pinggangnya, ia berjalan pergi ke arah dapur untuk mengambilkan minuman untuk mereka semua.
Fareed hanya mengangguk membiarkan Lintang pergi ke dapur, Ia kemudian duduk di samping Elivan yang sedang duduk sendirian. Hiza sedang duduk berada di pangkuan tuan Peterson.
“Fareed, Apakah ini calon cucu ku?” tanya tuan Peterson memegang tangan kiri Hiza, sementara tangan kanan Hiza ada sebuah handphone tuan Peterson.
“Doa kan saja” jawab Fareed.
Suasana kembali hening, di ruang tamu itu terasa sangat kaku, mereka tenggelam dengan pikirannya masing-masing.
Di keturunan keluarga Peterson, tidak ada seorang pun yang bisa mencairkan suasana beku yang tercipta dengan sendirinya. Mereka sudah terbiasa dengan suasana seperti ini, suasana yang hening dan tenang.
Lintang yang sekarang sedang mengejus buah apel, buah yang satu satunya ada di dalam kulkas nya.
Setelah mengejus dan menuangkan ke dalam lima gelas yang berbeda, Lintang membawanya ke ruang tamu.
Sesampainya di ruang tamu, Lintang merasakan suasana yang sangat tidak mengenakkan, suasana seperti tidak ada orang yang menghuni ruangan itu membuatnya sedikit merasa canggung.
Di dalam ruangan itu, ia melihat tuan Peterson yang sedang memangku Hiza. Sementara Fareed dan Elivan duduk bersandar ke kursi dengan menutup mata mereka.
“Hem, permisi” ucap Lintang menaruh nampan yang berisi jus itu di atas meja.
Semua orang kecuali Hiza melihat gerak gerik Lintang yang sedang menyajikan jus di atas meja.
“Duduk” titah tuan Peterson tiba tiba membaut Lintang terkejut, tapi ia hanya menurut.
Jujur saja Lintang takut ke tuan peterson meski ini adalah di dalam rumahnya.
“Dad!” peringat Fareed seakan akan tau apa yang akan di lakukan oleh tuan Peterson selanjutnya.
“Aku tidak ingin berbasa-basi lagi, aku datang ke sini ingin melamar mu untuk Fareed”
🦋🌹💮🌼🥴.
__ADS_1
Maaf jika penulisan nya masih berantakan, jangan lupa dukung karya ku.