
“Mommy” lirih Elivan yang sudah sadar dari tidur panjang nya setelah satu minggu penuh tertidur dengan rasa sakit yang masih tersimpan di relung hati nya.
Jika saja Elivan tau bahwa pengasuh barunya adalah ibu tirinya, ia tak akan pernah membiarkan ibu tiri nya itu betah tinggal di rumah barunya.
Andai waktu itu ia mencari tau wajah perempuan yang ingin di nikahi Daddy nya pasti semuanya tidak akan menjadi seperti ini.
Namun itu sekarang hanyalah sebuah andai andai saja.
Lintang terbangun karena mendengar suara Elivan, ia mengucek matanya sebentar, lalu melihat Elivan yang mencoba duduk.
Sekarang mereka dengan bantuan Leon berhasil kabur dari jangkauan Fareed untuk waktu yang tidak bisa Lintang tentukan.
Tepat nya di rumah sakit intenasional Thailand, Kedua anak Lintang dirawat dengan bantuan finansial dari Leon.
Lintang tak tau sebabnya apa Lion membantu dirinya.
Flashback...
“Baik, aku sudah yakin, jadi selain tujuan ku kesini untuk memberi tahu tentang identitas aslimu, aku juga akan membawamu dan kedua anak mu pergi dari jeratan Fareed” ucap Lion menutup laptopnya.
Lintang berpikir sejenak.
“Baik, jika kau ingi membawa ku pergi, aku ingin kau membawa ku sekarang”
“Maksud mu?” tanya Lion, ia menatap tajam Lintang.
Lion melihat sejenak wajah Lintang, ia terpaku memang benar jika wanita di depannya ini mirip sekali dengan tuan Adam sewaktu masih hidup dulu.
“Maksud saya adalah, tolong bawa saya pergi dari sini sekarang juga”
“Apa kau yakin?”
“Ya, sangat yakin”
Lion mengangguk.
Sejak saat itu pula Lintang pergi dari negara itu, pergi dari kehidupan pernikahan yang ia anggap sebagai rumah.
Flashback end.
“El, kau sudah sadar nak?” tanya Lintang membatu posisi duduk Elivan.
“Iya mom,” jawab Elivan kecil.
Elivan duduk, ia melihat sekeliling nya, ini bukan rumah sakit yang ia tempati dulu, rumah sakit ini terlihat lebih mewah dan elegan.
“Mom, kita berada di mana?” tanya Elivan kebingungan.
Lintang tersenyum, “Kita berada jauh dari jangkauan Daddy kalian, mommy membawa kalian ke sini agar kalian mendapatkan pengobatan yang baik”
__ADS_1
Lintang mengelus sebentar pipi Elivan.
“Adek kemana mom?” tanya Elivan ketika ia mencari Hiza tapi tidak menemukannya.
“Lagi keluar ke taman, bersama om Zhafir”
“Siapa om Zhafir itu mom?”
“Anak buahnya om Lion”
Apa om Lion? apa Elivan tidak salah mendengar nya?, Apakah om Lion yang di maksud oleh Mommy nya itu adalah om Lion yang sama yang selama ini ia pintai pertolongan?
“Om Lion siapa mom?”
“Entah mommy jug—”
“MOMMYY!!!” pekik Hiza berlari terbirit-birit sambil sesekali menoleh ke belakang.
“Ada apa hm?” tanya Lintang ketika Hiza bersembunyi di ketiak nya.
“Om Zhafir kejar Hiza mom, katanya kalau ia bisa menangkap Hiza maka Hiza akan di lemparkan ke tengah laut mom” adu Hiza mengatur nafas nya.
“Hihhhh~” ujar Elivan mendengar keluhan keluarga kecil nya.
Hiza terkejut ketika mendengar suara Abang nya, ia keluar dari persembunyian ketiak mommynya.
“Abaaanggg!!” pekik Hiza mengangkat tangan nya ke atas.
“Abang kok sudah bangun?” tanya Hiza senang.
“Iya sudahlah, ngapain lama tidur?” jawab Elivan enteng, padahal ia sudah tertidur karena koma selama satu minggu.
“Yeee... Abang loh tidur satu minggu” ucap Hiza mengejek, pasalnya ketika Abang El nya tertidur selama satu minggu, Hiza selalu bermain dengan mommy dan om barunya yang super jahil itu.
“Hiza” panggil Om Zhafir membuat semuanya menoleh.
Zhafir yang melihat Elivan terbangun langsung berlari kemudian menangkap wajah Elivan dan melihat nya dengan seksama.
“Apa kau sudah bangun?” tanya Zhafir.
“Lepas om, tangan om bau ikan asin” ucap Elivan membuat tangan Zhafir yang semula berada di wajah Elivan kini telah beralih di depan hidung nya.
“Tidak..., tangan ku tidak bau ikan asin” ujar Om Zhafir setelah mencium aroma tangannya.
Semuanya terkekeh.
“Lagian kamu bisa saja di kibuli oleh Elivan, mana ada Thailand ikan asin?” tanya Lintang tersenyum kecil.
“Sial” Zhafir baru saja di kibuli bocah baru bangun dari koma.
__ADS_1
“Om!!!!, jangan mengumpat, nanti aku bilang Om Lion suruh dia memotong lidah bau mu itu!!” ucap Hiza memperingati Zhafir membuat sang empu tertawa kecil.
Zhafir adalah seorang pengawal pribadi Lion, namun sekarang telah menjadi pengawal pribadi keluarga kecil di depannya.
Sifat Zhafir yang mudah humble ke semua orang membuat keluarga kecil itu nyaman dan juga terlindungi jika berada di dekat nya.
“Aku tidak takut pada Om Lion mu itu” kata Zhafir mantap.
“Apa kau tidak takut dengan ku Zhafir??!!” suara berat itu menusuk indra pendengar semua orang, semua orang terkejut tak terkecuali dengan Zhafir yang sudah berdiri kaku.
Semua mata pasang menatap seorang pria dan wanita yang tengah mengandung. Pria dan wanita itu berjalan masuk ke kamar Elivan.
“Om Lionnnn!!” pekik Hiza berlari kemudian melompat ke tubuh Lion.
Yap memang benar, kedua orang berbeda jenis kelamin itu adalah Lion dan istrinya Aletta.
“Om Lion.... Itu om Zhafir jahat, katanya dia mau melemparkan aku ke tengah laut” adu Hiza.
Lion mendengar itu hanya terkekeh.
“Apa benar itu Zhafir?” tanya Lion ke Zhafir yang tengah berdiri menegang dengan peluh keringat kecil muncul di kening nya.
“Ti tidak tuan, saya bermaksud hanya bercanda tadi” jawab Zhafir menunduk.
Sementara Aletta seorang yang ramah dan super aktif berjalan menghampiri Lintang yang tengah duduk canggung.
“Haiii, apakah kau yang bernama Lintang??” tanya Aletta duduk di kursi depan Lintang.
“Benar” jawab Lintang sedikit gugup.
“Tidak perlu gugup Lin, aku nggak gigit kok” ucap Aletta membuat Lintang sedikit merasa lega karena wanita yang tak lain dan tidak bukan adalah istri Lion yang sangat dingin bersikap sangat hangat pada orang yang baru di kenal nya'
“Iya” ucap Lintang seadanya, dia tak tahu harus berkata apa, rupanya wanita di depannya ini berumur lebih mudah darinya.
“Eh, Lintang umur berapa?” tanya Aletta.
“Dua puluh tujuh tahun”
Mata Aletta melebar, Dua puluh tujuh tahun berarti Lintang lebih dua dari padanya.
“Wahhh~ ternyata kau lebih tua dari ku yaaa, aku harus memanggil mu dengan sebutan kakak” ucap Aletta riang.
“Jangan kakak, mbak saja, biar ada bahasa asal Indonesia nya” ucap Lintang, jujur ia tak terbiasa dengan embel-embel 'kak' karena ia sudah terbiasa dengan sebutan 'mbak'.
“Baik lah, aku akan memanggil mu mbak Lintang”
Sementara itu, Lion dan Hiza yang masih berada di gendongan nya, sudah hampir tertidur karena sudah lelah bermain dengan Zhafir tadi.
Lion duduk di salah satu sofa di sana.
__ADS_1
“Om Lion!!”
🌼🌼🌼.