Menemukan Balita Genius

Menemukan Balita Genius
Desa?


__ADS_3

Desa Rembang, Pasuruan, Jawa timur.


Malam hari, pukul 20.21


Setelah menempuh perjalan hampir 6 jam menggunakan pesawat dari Thailand menuju ke Surabaya lalu melakukan perjalanan lagi dengan menggunakan mobil.


Lintang beserta kedua anak nya telah sampai pada salah satu desa yang masih cukup terbilang asri, Lintang dan kedua anaknya akan tinggal bersama bi Mina Sumitra bisa di panggil bi Mina, bi Mina sendiri adalah mantan pembantu dari ibunya— Nyonya Linda.


Lintang sekarang berada di depan pintu rumah bi Mina yang sangat sederhana, sama seperti rumahnya dulu mungkin?.


Tok...


Tok....


Tok.....


“Bi Minaaaaa....” panggil Hiza ketika ia tau dari Lion bahwa nama wanita yang akan tinggal bersama nya adalah bi Mina.


ceklek....


Pintu terbuka menampilkan sesosok wanita yang sudah berumur tapi masih tetap bugar.


Bi Mina tersenyum, “Masuk Non” ucap Bi Mina mempersilahkan Lintang dan kedua anaknya masuk.


Mereka masuk, lalu duduk di kursi dengan meja di depannya. Di atas meja sudah tertata rapi makanan serta minuman. Berarti sudah di persiapkan oleh Bi Mina pikir Lintang.


Lintang sedikit canggung.


“Silahkan di makan tuan, tuan, dan nona” ucap Bi Mina menghidangkan makanan nya.


“Panggil nama saja Bi Mina” ucap Lintang.


“Benar Bi, Panggil nama saja” sahut Hiza Kemudian mencomot makanan yang tersedia di atas meja.


Elivan memukul pelan tangan Hiza, “Malu dek” ucap Elivan membuat Hiza meringis.


“Tidak papa, tuan, makan saja” ujar Bi Mina mempersilahkan.


“Wleeee” Hiza menjulurkan lidahnya sebagai tanda bahwa ia menang.


Elivan hanya diam, membiarkan Hiza. Biasa anak kecil, pikir Elivan.


“Ini nona Lintang ya?, sudah besar bahkan sudah mempunyai anak, dulu nona Lintang masih kecil” ucap Bi Mina membuat topik pembicaraan agar suasana tidak terlalu canggung.


“Iya bi, kan tiap hari makan, masa tambah kecil sih” jawab Lintang perlahan membuat candaan.


Lintang pikir bahwa la akan tinggal bersama Bi Mina dalam waktu yang cukup lama, maka dari itu Lintang harus cepat akrab dengan Bi Mina.

__ADS_1


“Nona bisa saja”


“Panggi nama saja bi”


“Iya non, eh, Lin” Bi Mina cengengesan.


“Lintang pasti capek kan?, ayo bibi antar biar bisa istirahat, sudah malam jug—” ucap Bi Mina berdiri.


Tok...


Tok....


Tok.....


“Siapa yang datang malam malam begini?” tanya bi Mina berjalan menuju ke arah pintu.


Ceklek....


“Siapa?” tanya bi Mina karena ia yakin seseorang di depannya bukan lah warga desa setempat. Orang itu juga membawa dua buah koper besar di kedua tangannya.


“Bu, ada Lintang nya?” tanya orang itu. Kemudian bi Mina memanggil Lintang.


“Lintang..., sini nak, ada teman mu” panggil bi Mina, tak lama kemudian Lintang datang dengan raut muka yang tak bisa di artikan.


“Apa?” tanya Lintang menatap orang itu.


“Ommm Zhafirrr!” pekik Hiza berlari kemudian melompat ke tubuh Zhafir.


“Uhhhh.... hati hati, nanti kalau om jatuh bagaimana?” tanya Zhafir membuat Hiza cengengesan.


“Tidak masalah, kan om kuat”


“Ayo masuk dulu nak” ucap bi Mina mempersilahkan Zhafir masuk.


.


Sekarang mereka semuanya tengah duduk dan saling pandang, “Jadi kalian bukan suami istri?” tanya bi Mina menatap Zhafir tajam.


“Bukan bi, saya disini di tugaskan untuk menjaga nyonya Lintang dan saya juga yang akan berperan sebagai suaminya, kalau saya tidak berperan sebagai suaminya kan warga desa biasanya julit julit tuh bu, nanti bi Mina ikut di julitin lagi” jelas Zhafir santai, seakan-akan ia sudah mengenal bi Mina lama, kemudian tangan nya terulur untuk mengambil makanan di atas meja.


“Memangnya kemana suami nya Lintang?” tanya bi Mina membuat semuanya terdiam.


Bi Mina yang melihat semuanya terdiam pun menjadi salah tingkah, gugup. Apa ia salah memberi pertanyaan?.


“Daddy jahat, makanya kami pergi kesini” jawab Hiza membuat semuanya bernafas lega, bi Mina lega dengan pernyataan nya, sementara Lintang, Zhafir dan Elivan lega karena jawabannya.


Setidaknya Hiza bisa membantu menjawab pertanyaan yang bisa membuat lidah Lintang keluh untuk keluar.

__ADS_1


Lintang menarik nafas panjang, ia menutup mata nya sejenak.


“Aku akan menceritakan semuanya bi” ucap Lintang membuat semua orang tertuju padanya.


Lintang pikir, tidak ada salah nya jika ia bercerita kepada orang yang akan setiap hari ada bersamanya, ia akan bercerita agar semuanya lancar, dan membuat bi Mina tidak lagi mempertanyakan pertanyaan ini lagi.


“Jadi—” Lintang bercerita tentang semuanya, di mulai dari awal pernikahan nya, lalu Fareed pergi, rumah baru dan pengasuh baru yang nantinya akan menghancurkan suatu nya, dan kedatangan Lion membuat dirinya berada disini.


“Ooo, yang sabar ya nak, terus kok Lion tau kalau Lintang sedang ada masalah dengan Fareed?” tanya bi Mina.


“Kata Lion dia sudah memata-matai aku dari dua minggu sebelum kejadian” jawab Lintang membuat bi Mina mengangguk kan kepalanya.


“Jadi pria ini adalah pengawal mu?” tanya bi Mina melihat ke arah Zhafir.


“Benar bi, Lion menyuruhnya untuk menjaga kita” jawab Lintang.


Sebenarnya Lintang tidak mau ada Zhafir yang mengikutinya kemana mana, tapi dengan desakan Lion ia harus menanggung Zhafir mengikutinya kemana mana.


Keadaan hening sesaat.


“Ayo kita tidur, em, tapi disini kamarnya cuma ada tiga” ucap bi Mina ketika ia melihat pintu ruang tamu.


“Satu untuk ku, satu untuk Lintang dan satunya lagi untuk nak—”


“Zhafir bi, nama saya Zhafir” potong Zhafir ketika ia paham bahwa bi Mina tidak mengetahui namanya.


“Iya Zhafir”


“Abang sekarang tidurnya bersama om Zhafir, Hiza sama Mommy. Nanti Abang sama Hiza gantian tidurnya sama Mommy,” ucap Hiza membuat semuanya setuju dengan usulannya.


“Baiklah, ayo bibi antar” ucap bi Mina berdiri, semuanya pun ikut berdiri.


Jadi pembagian kamar tidur di rumah bi Mina di mulai dari kamar pertama yang letaknya di samping ruang tamu, kemudian kamar Lintang dan kamar Zhafir yang tempat nya saling berdempetan.


Semuanya masuk di kamar masing masing dengan Lintang tidur dengan Hiza dan Zhafir tidur dengan Elivan.


Semuanya sudah lelap tertidur, kecuali Lintang yang matanya masih terbuka menatap kosong langit langit kamarnya yang luasnya seperti kamarnya dulu.


Lintang termenung, ia termenung memikirkan semuanya. Apa sudah benar jika ia bermain kucing kucingan bersama orang yang masih berstatus sebagai suaminya?.


Ia bukan bermaksud untuk lari dari masalah seperti seorang anak kecil, tapi ia kabur dari Fareed untuk menenangkan pikirannya, jika pikirannya sudah tenang, ia akan memilih hubungan nya, akan berhenti atau lanjut. Akan berpisah atau bertahan, jujur saja Lintang masih takut jika bertemu dengan Fareed, ia berpikir, dulu Fareed bukanlah orang yang temperamen, dulu juga Fareed tidak pernah sekalipun bertindak kasar padanya.


Tapi sekarang bukan hanya dia, tapi juga anak nya Elivan, yang juga terkena sifat tempra nya.


Entahlah, Lintang tak mau memusingkan itu, ia harus bisa bangkit dari mimpi buruk itu.


Lintang memejamkan mata nya, tak lama suara harus keluar dari mulut nya. Lintang tertidur.

__ADS_1


__ADS_2