
Dor.....
Pyar.....
Brak....
“MOMMY!!!” dua orang yang tengah saling memeluk itu terkejut ketika mendengar suara tembakan senjata, pecahnya kaca serta di susul dengan teriakan lantang milik Elivan.
Lintang panik, ia melepaskan pelukannya kemudian berlari menuju luar, karena ia mendengar suara tembakan itu berasal dari luar rumah nya, Lintang tak peduli lagi dengan Fareed, ia hanya mementingkan keselamatan kedua anaknya.
Lintang berlari di susul dengan Fareed di belakangnya, matanya melotot ketika ia melihat segerombolan orang pria berbadan tegap berpakaian serba hitam membawa senjata lengkap di tubuhnya. dua orang pria menahan tubuh Elivan yang terkulai lemas dengan banyak darah di tubuhnya.
Lintang berjalan maju menuju Elivan. Tapi langkahnya terhenti ketika mendengar apa yang di ucapkan oleh salah satu pria itu.
“Diam atau anak ini ku bunuh!!” peringat pria itu mengacungkan sebilah pisau lipat tajam di leher Elivan.
“Tolong lepaskan Elivan!!” Lintang memohon, ia menoleh ke belakang mencari Fareed untuk di mintai pertolongan.
“FAREED!!!” ucap Lintang berteriak ketika melihat tubuh Fareed juga di tahan, mulutnya di lakban dengan selotip sehingga Fareed tidak bisa berbicara sedikit pun.
Lintang menatap sekeliling nya, segerombolan orang berbaju serba hitam dengan membawa senjata lengkap mulai berjalan melingkari tubuh Lintang yang berada di tengah tengah.
“Salah ku apa?” tanya Lintang melihat mata salah satu pria di sana, ia merasa pria itu adalah ketua dari kelompok mereka.
Lintang merasa panik, tubuhnya kembali bergetar, ada apa lagi ini, semuanya tidak bisa di terima baik oleh akal nya sehatnya. kejadian tak wajar sudah beberapa kali terjadi kepada nya.
“Salahmu telah mengusik ketenangan kami” ujar pria yang sedang di tatap oleh Lintang.
“Mengusik ketenangan?, ketenangan yang mana?” tanya Lintang. Ia sama sekali tidak merasa telah mengusik seseorang.
“Jangan pura pura bodoh!” jawab pria itu dengan nada datar, seakan-akan memang Lintang pernah mengusik ketenangannya.
“Aku tidak merasa punya sala—”
“Mommy, Hiza” Elivan memotong ucapan Lintang, ia menunjuk Hiza yang tengah di bopong oleh salah satu pria lainnya.
Lintang menoleh, ia mengikuti arah tangan Elivan yang menunjuk ke arah depan pintu gerbang rumahnya.
Lintang berlari, tapi pergerakannya di halang oleh pria yang di tatapnya tadi. tangan pria itu memegang lengan kanan Lintang dengan erat.
“Mau kemana? masih tidak mau mengakui kesalahan mu?” tanya pria itu, Lintang menatap tajam pria yang memegang lengannya.
__ADS_1
“Lepas!!” pekik Lintang menggerakkan lengannya.
“Diam atau anak mu ku tembak” pria itu mengeluarkan sebuah pistol dari belakang jasnya dan mengarah kan ke arah Elivan yang sudah mengeluarkan darah dari hidungnya.
Lintang sekarang bimbang, ia sangat Bimbang, ia tak bisa memikirkan semuanya dengan jernih, antara memilih Hiza yang ingin di bawa oleh para pria itu atau memilih Elivan yang sedang di todong oleh sebuah pistol.
Sungguh, Lintang ingin seperti tak ingin merasakan situasi yang membuatnya tak bisa melakukan apapun juga.
“Masih tidak ingin mengaku?!” tanya pria itu sekali lagi.
“Aku tidak merasa mengusik mu sama sekali” jawab Lintang kekeh dengan pendiriannya. Ia tak merasa sama sekali mengusik ketenangan pria di depannya ini.
Mendengar jawaban dari Lintang, pria itu menarik pelatuk pistolnya.
“Mengaku sekarang atau—” titah pria itu mengangkat tangan yang sedang memegang pistol ke arah Elivan.
Lintang mengerutkan keningnya, ia tak tau harus mengaku bagaimana, ia sama sekali tak pernah mengusik bahkan membuat kesalahan sedikitpun dengan pria di depannya ini.
“Aku tak pernah mengu—”
Dor....
“ELLL...” pekik Lintang melihat tubuh Elivan jatuh ambruk ke bawah dengan tembakan tepat di jantungnya.
Sementara Fareed melotot, ia tak bisa melakukan apapun sekali lagi untuk seorang yang di sayangi nya.
“Mom~” lirih Elivan merasakan sakit yang luar biasa, ia seakan-akan ingin mati detik ini juga.
Lintang berdiri, ia berlari tergopoh-gopoh ke arah Elivan yang sedang sekarat. Lintang mengangkat tubuh Elivan dan mendekapnya dengan erat, air matanya kembali turun. Lebih deras.
“Mommy, sakit” lirih Elivan menahan sakit di sekujur badannya.
“Tahan ya, mommy akan membawamu ke rumah sakit” ucap Lintang menenangkan, ia melihat ke arah sekeliling. Para pria itu masih dengan posisi yang sama, sementara Fareed tengah di hajar di pojok depan rumah nya.
Pemandangan yang tak pernah terbayangkan di benaknya.
“El sa-yang mom-my” lirih Elivan. Nafasnya sudah terengah-engah, ia sudah tak tahan dengan rasa sakit ini. dengan perlahan mata nya tertutup dengan erat. “Selamat tinggal” ucapnya dalam hati.
“Jangan tutup mata mu El” ucap Lintang berdiri sambil menggendong tubuh Elivan.
Lintang merasakan pegangan tangan Elivan melemah lalu...
__ADS_1
Bruk...
Kepala Elivan terjatuh ke pundak Lintang. Lintang merasakan kepala Elivan terjatuh di pundak nya, badan Elivan dingin, tidak lagi hangat.
Lintang yang hendak berjalan memberhentikan jalannya, ia duduk, meletakkan tubuh Elivan di bawah dengan kepala yang tetap ia pegang.
“El.... ” lirih Lintang, Lintang mengecup kening pipi serta hidung Elivan yang sudah tak berfungsi untuk mengeluarkan karbondioksida.
Darah yang sudah berceceran di tubuh nya tak Lintang hiraukan, ia sekali lagi gagal untuk menjadi seorang ibu yang baik, pertama ia hampir membunuh Hiza dan sekarang Elivan terbunuh gegara dirinya.
“El...”
“CUTTTTTTTTTTTTTTTTT!!!!” Teriak Hiza memberikan aba aba. mata Elivan terbuka, membuat Lintang melihat sekeliling nya, sekali lagi ia tak mengerti apa yang telah terjadi.
Semuanya berakhir, semuanya kembali seperti semula.
Hiza berjalan menuju ke arah Lintang yang tengah mencoba memikirkan apa yang terjadi padanya.
“Happy birthday mommy” bisik Elivan membuat kesadaran Lintang Kemabli.
“El?” ucap Lintang, Elivan hanya mengangguk.
Lintang sekali lagi mengamati sekeliling nya, dia melihat Fareed yang berdiri dengan semua pria tadi berada di belakangnya. Ada Hiza yang berjalan ke arahnya sambil membawa sebuah kue...? dan ucapan ulang tahun untuk nya...? untuknya...? apakan ini adalah hari ulangtahun nya? ya, Lintang sekarang ingat, tadi ia melihat kalender dan melihat sekarang tanggal tiga Juni.
Ohh... Lintang tak habis pikir.
Lintang tersentak ketika Fareed mengulurkan tangannya, Lintang menerima uluran tanga Fareed, ia berdiri setelah Elivan berdiri.
Lintang langsung memeluk tubuh Fareed dengan erat, bau darah masih sangat sengat di Indra penciuman Fareed maupun Lintang.
“Happy birthday sayang” ucap Fareed memegang pinggang Lintang.
“Aku kira ini beneran red, Hiks..” ucap Lintang berbisik. Lintang tak menyangka, bahwa semua ini adalah sebuah rencana.
“Tidak sayang, ini semua adalah akting untuk mu” ujar Fareed mengelus bahu Lintang lembut.
“Sopan kah begitu di depan ku?”
🌼🦋🥴💮🙊🌹.
sudah dulu, jangan lupa untuk mendukung karya ku yaaa... maaf jika ada yang belum jelas seperti lintang kehilangan memori tentang Noval, karena itu akan berhubungan dengan jati diri yang sebenarnya tentang Lintang. terimakasih.
__ADS_1