
“Jejak terakhir nyonya Lintang berada di rumah sakit Thailand tuan” lapor sekertaris Fareed dari sebrang telpon.
Fareed meminta pada sekertaris nya agar membantu mencari titik lokasi lintang dari cincin pernikahan yang memiliki sebuah pelacak.
Fareed lupa jika ia telah memasang sebuah pelacak di cincin pernikahannya.
Kenapa bukan Fareed sendiri yang melacak nya, karena Fareed melupakan pelacak itu di kamarnya.
Tut...
Setelah selesai menelpon sekertaris nya yang berada di Amerika, Fareed segera meminta bawahannya untuk menyiapkan pesawat sekarang juga. Ia tak ingin kehilangan jejak lagi.
Fareed beranjak dari duduknya, ia segera mengambil kunci mobil nya dan meleset menuju ke bandara Soekarno Hatta.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ.
“Tuan Adam atau ayah mu adalah seorang Mafia” ucap Lion membuat semua nya terdiam, termasuk Aletta yang sedang menghitung jumlah push up yang di lakukan oleh Zhafir.
“Apa?!” pekik Lintang terkejut, Daddy nya seorang mafia? mafia kan bandar narkoba dan mafia kan biasanya menjual para wa—
“Kami tidak menjual para wanita” ucap Lion seakan akan tau apa yang ada di pikiran Lintang.
“Kenapa kau bisa mengetahui isi pikiran ku?” tanya Lintang.
“Hanya menebak nya saja”
“Sebelas!!, ayo lanjutkan!!” pekik Aletta membuat Zhafir menangguk lalu melanjutkan hukumannya.
Lion mengeluarkan dua buah surat dari tas tadi, surat yang terbungkus rapi oleh map coklat. Lion memberikan surat itu kepada Lintang.
Lintang hanya menerima nya saja, keningnya mengerut.
“Apa ini?”
“Buka saja”
Lintang perlahan membuka surat yang pertama. betapa terkejut dirinya kerena matanya langsung tertuju pada tulisan pembuka surat yang sangat besar.
SURAT WARISAN.
Apa, jadi dia adalah anak dari orang kaya, apa ini nyata, sungguh dalam sekejap hidupnya berubah 180° setelah menjadi seorang wanita miskin yang melarat kini, ia menjadi seorang milyarder, sebentar mungkin ia adalah seorang triliuner.
Nama: Adam Dawson.
Penerima: Putri Lintang Kinasih.
Dengan ini, saya Adam Dawson selaku ayah dari Putri Lintang Kinasih, akan memberikan 75% dari harta yang ku miliki, mulai dari mansion utama, pulau pribadi, hingga seluruh aset ku.
Dengan syarat: jika putri ku di temukan, jika tidak maka harta ini akan jatuh pada Lionel Andres.
Pertanda.
ƪ(‾.‾“)┐
Adam Dawson.
^^^Surat resmi, keluar 09- Agustus- 20**.^^^
__ADS_1
^^^┌(・。・)┘♪^^^
^^^Pemerintah Amerika serikat.^^^
“Apa aku salah membaca?” gumam Lintang membuat Lion menghela nafas.
“Tidak”
Setelah membaca surat itu, Lintang beralih ke surat berikutnya.
Adam Dawson.
Dengan adanya surat ini, aku memberikan semua harta ku yang tidak di ketahui oleh publik (harta ku di bawah tanah) semuanya ke Putri Lintang Kinasih.
Dengan catatan: jika putri ku di temukan, jika tidak maka akan terjatuh pada Lionel Andres.
Pertanda.
ƪ(‾.‾“)┐
Adam Dawson.
Lintang terkejut sekali lagi. Seberapa kaya sih Ayah nya itu?.
Sementara Elivan yang mendengar semuanya terkejut, jadi selama ini ia memiliki mommy anak dari seorang mafia?.
Elivan merenung.
Drrrtttt.....
Drrrtttt.....
Zhafir menghela nafas, ia menidurkan dirinya sebentar, masih ke 51.
“Suami, handphone mu bergetar” ucap Aletta memberikan handphone itu pada Lion.
Dengan senang hati Lion menerimanya.
“Terima kasih” ucap Lion tersenyum. Aletta mengangguk.
Lion mengangkat panggilan telepon yang berasal dari bawahannya di bagian ITE.
“Hmm?”
“Maaf mengganggu tuan, izin menyampaikan sesuatu” ucap bawahan Lion di sebrang sana dengan hormat.
“Silahkan”
“Baik tuan, saya melacak bahwa tuan Fareed telah mengetahui keberadaan nyonya Lintang dan sebentar 30 menit lagi dia sampai di rumah sak—”
Tut...
Kebiasaan. Memang, Lion sangat suka mematikan telepon sembarangan.
“Aku mau bicara mengenai surat ini.” ucap Lintang setelah melihat Lion mematikan telepon nya.
“Bicaralah” Lion kembali memusatkan perhatian nya pada Lintang.
__ADS_1
“Aku tidak mau menerima warisan ini.” ujar Lintang mantap, mantap menolak.
“Apa maksud mu?” tanya Lion, ia tidak tuli bahkan bodoh, tapi perkataan Lintang kali ini sangatlah aneh, kenapa ada seorang yang terlebih lagi seorang wanita tidak menerima kekayaan yang bahkan jika di total senilai dengan harga sebuah negara kecil?.
“Aku tidak mau mengambil atau pun menerima warisan ini, buat mu saja” ucap Lintang menjelaskan.
Jujur, siapapun yang melihat atau mendengar jika Lintang telah menolak warisan yang setara dengan sebuah negara kecil akan mengatainya sebagai wanita bodoh.
Tapi itu tidak berlaku bagi Lintang, ia benar benar tidak menginginkan sepersen pun harta dari ayahnya.
“Kenapa kau tidak ingin menerima nya?” tanya Lion meminta sebuah jawaban karena Lintang tidak menginginkan harta itu.
“Aku hanya ingin hidupku bahagia dan aku dalam kebahagiaan ku dengan rasa nyaman, sekarang aku bertanya, apakah jika aku menerima warisan itu hidupku akan nyaman?” ucap Lintang memberikan jawaban serta pertanyaan pada Lion.
“Ya, dengan harta bisa membuat kita bahagia.” jawab Lion santai, benarkan semuanya akan terasa lebih mudah jika kita memiliki harta terlebih lagi uang. Dan dengan harta kita bisa memiliki sebuah tahta tak kasat mata.
“Aku bertanya tentang kenyamanan, bukan kebahagiaan” ujar Lintang membenahi.
“Kurasa tidak, harta saja tidak bisa membuat kita nyaman, jika aku menerima warisan itu, maka aku akan di pusingkan dengan bagaimana cara agar harta mempertahankan harta itu agar tidak berkurang, dan malah aku di tuntut untuk memperbanyak jumlah harta itu, maka dari itu aku tidak akan pernah menerima harta warisan itu. Untuk mu saja” ucap Lintang panjang lebar, ia kemudian meletakkan kembali kedua surat itu di atas meja.
Mendengar penjelasan itu membuat Lion mengangguk kan kepala, memang benar, jika ia sangat di tuntut untuk mempertahankan serta memperbanyak jumlah harta nya, ada sebuah dorongan tak kasat mata untuk itu.
“Jadi apakah kau yakin?” tanya Lion membuat Lintang mengangguk mantap.
“Ya aku sangat yakin”
“Sembilan puluh sembilan”
“Seratus...., selesai” ucap Aletta, kemudian ia duduk di bankar Elivan.
“Eh, nama adik siapa?” tanya Aletta mengelus rambut Elivan kemudian tangan jahilnya menurun kemudian mencubit gemas pipi gembul Elivan.
“Tanteeeeeeee!!!!” pekik Elivan ketika merasakan sakit di area pipinya.
Sebelum Elivan berteriak, Aletta sudah terlebih dulu berlari menjauhi Elivan menuju samping duduk Fareed.
“Aku memberi mu sebuah pilihan, menjadi penerus tuan Adam atau aku ungsikan di sebuah desa” ucap Lion memberi sebuah pilihan pada Lintang.
“Maksud mu?” tanya Lintang tak mengerti kenapa tiba tiba pria di depannya ini memberikan nya sebuah pilihan.
“Fareed akan sampai di sini 25 menit ke depan” ucap Lion membuat seakan-akan dunia Lintang berhenti. Apa? Fareed? tidak ia tidak boleh menemui Fareed sekarang.
“Ayo berpikirlah cepat, atau kau memang menginginkan bertemu dengan Fareed?” tanya Lion membuat Lintang menggeleng cepat.
“Tidak, aku tidak ingin bertemu Fareed sekarang, Dan dari itu, aku akan memilih untuk kau mengungsikan aku ke desa.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ....
“SIALAN...., KENAPA LINTANG SUDAH TIDAK ADA DI RUMAH SAKIT INI KAPAR AT?!!” bentak Fareed bertanya pada bawahannya. Sementara sang bawahan hanya diam menundukkan kepalanya.
“Saya tidak tahu tuan”
Fareed marah, ia bertanya tanya, sebenarnya siapa yang membantu Lintang untuk selalu bisa menghindari nya.
Fareed melangkah keluar.
“Lacak keberadaan Lintang sekarang juga!!” ucap Fareed menelepon sekertaris nya.
__ADS_1
🌼🌼🌼.
Maaf update nya lama, soalnya tadi ketiduran dan sekarang baru bangun😴🥺.