
“Iya mom, tapi tidak masalah kakek tadi membelikan makanan untuk Mommy dan Daddy, eh kemana Daddy?” ucap Hiza mengintip kamar Mommy nya tapi Lintang menghalangi nya.
“Minggir mom, aku mau melihat Daddy” ucap Hiza menarik tangan Lintang.
“Sebentar lagi Daddy kalian akan keluar” ucap Lintang mengangkat tubuh Hiza dan memindahkan nya ke samping Elivan.
“Aku mau melihat Daddy mom~” rengek Hiza.
“Ada apa ini?” tanya Fareed menginterupsi perdebatan antara anak dan ibu itu.
“Daddy” pekik Hiza berlari kemudian meloncat ke tubuh Fareed.
Fareed yang mendapat serangan mendadak sedikit terhuyung ke belakang. “Kenapa hum?” tanya Fareed mendekap tubuh Hiza.
“Daddy, Mommy tadi tidak memperbolehkan aku untuk menemui mu” adu Hiza ke Fareed yang langsung melirik ke arah Lintang.
Lintang menggeleng kemudian ia menggerakkan kepala mengode Fareed agar mengerti apa yang di maksud oleh nya.
Fareed mengangguk.
“Kenapa kok tidak boleh?” tanya Fareed yang mengerti apa yang di maksud oleh Lintang.
“Tidak tahu” jawab Hiza mengangkat bahunya.
“Sudah sudah ayo kita makan, El, Hiza sudah makan?” tanya Lintang mengalihkan pembicaraan tentang nya yang tidak memperbolehkan Hiza masuk ke dalam kamar nya.
Bukan hanya karena Fareed yang belum berpakaian, tapi karena kamarnya sudah seperti kapal pecah.
“Sudah tadi bersama Kakek, mommy saja sama Daddy yang memakannya” jawab Elivan. menyerahkan kantung plastik yang di bawanya ke Lintang.
“Yasudah, El mau menonton televisi di ruang tengah.” pamit Elivan yang di angguki oleh kedua orang tua nya.
“Hiza mau ikut bang” ucap Hiza menggerakkan seluruh badannya agar Fareed menurunkan nya.
“Jangan bergerak, nanti jatuh” peringat Fareed yang tak mengerti bahasa isyarat dari Hiza.
“Daddyyyy~ turunkan Hiza” rengek Hiza, Fareed mengangguk, kemudian ia menurunkan Hiza.
“Ayo dek” ujar Elivan mengajak Hiza, Elivan merangkul pundak Hiza kemudian berjalan menjauh dari kedua orang tua itu.
“Mari mandi” ajak Fareed berkedip ke arah Lintang.
“Duluan saja, aku ingin menyajikan makanan ini” tolak Lintang halus.
“Mana, sini aku lihat makanannya.” ucap Fareed menarik kantung kresek yang di bawa oleh Lintang.
Fareed meletakkan kantung itu di atas sebuah meja.
“Kenapa di letakkan di situ?” tanya Lintang tak mengerti, kemudian Lintang berjalan menuju ke arah meja itu untuk mengambil kembali kantung plastik yang berisi makanan itu.
“Mau kemana?” tanya Fareed mencekal tangan Lintang membuat tubuh Lintang berbalik arah.
“Mau mengambil itu” jawab Lintang menunjuk arah kresek yang Fareed letakkan di atas meja.
__ADS_1
“Tidak boleh” ucap Fareed membuat Lintang mengerutkan keningnya.
“Maksud nya ti— Aaaa... Fareed!!” pekik Lintang ketika ia merasa tubuhnya melayang karena di angkat oleh Fareed.
“Apa yang ingin kau lakukan?!” tanya Lintang memukul bahu Fareed.
“Mandi bersama” jawab Fareed lugas, ia melangkah cepat menuju ke arah kamar mandi sebelum kedua anaknya mempertanyakan di mana sang mommy.
Fareed lega meskipun kamar mandi di rumah Lintang terpisah dari dalam kamar, letak kamar mandi nya jauh dari ruang tengah.
“Ada anak anak Fareed” ucap Lintang mengalungkan tangannya di leher Fareed agar tidak terjatuh.
“Tidak masalah, kita hanha akan mandi, bukan melakukan itu” jelas Fareed ketika ia menangkap maksud dari perkataan Lintang.
Lintang lagi lagi malu, pikirannya sekarang tengah di penuhi dengan betapa gagahnya Fareed kemarin malam.
...****************...
Setelah acara mandinya selesai kini Fareed dan lintang sedang duduk manis di depan TV sambil memakan makanan penutup yang diberikan oleh tuan Peterson.
Mereka semuanya duduk di bawah, duduk lesehan.
Bagi lintang, menikah secara kilat tanpa adanya resepsi atau apapun itu sangatlah mengejutkan. Ia merasa berbeda dengan perempuan lain di dunia ini, perempuan rata rata akan dilamar seromantis mungkin untuk membangun kesan kepercayaan agar bisa menerima pinangan dari si pria.
Namun tidak untuk Fareed. Fareed sangatlah serius hingga ia tak bisa bisa membuat kesan yang sedikit romantis untuknya.
Fareed akan bersikap romantis jika tidak ada siapapun.
“Hmm, ada apa?” tanya Fareed menaikkan sebelah alisnya.
“Apa Daddy tidak melupakan sesuatu?” tanya Elivan memastikan.
“Melupakan apa? dompet? headphone? tidak” jawab Fareed mencomot makanan di atas meja.
“Baiklah kalau begitu tidak masalah, hanya ingin menanyakan itu” ucap Elivan yang di angguk oleh Fareed.
“Mommy, Hiza ingin adik perempuan” ucap Hiza ketika ia mendengar dan melihat iklan bubur bayi di televisi.
Tubuh Lintang menegang, ia tak tau harus membalas seperti apa ke Hiza.
“Ha? adik,?” monolog Lintang pelan.
“Ayo mom, Hiza ingin adik perempuan” ucap Hiza meminta ke Mommy nya.
“Hiza ingin adik perempuan?” tanya Fareed yang di beri anggukkan antusias oleh Hiza.
Sementara Elivan hanya menyimak, ia sudah tau bagaimana sistem reproduksi manusia, maka dari itu ia memilih diam agar tidak merusak suana yang akan berlangsung.
“Adiknya masih belum jadi, masih proses” jawab Fareed frontal membuat Lintang membulatkan matanya.
“Cara membuat adik bagaimana mom?, kan kata Daddy belum jadi berarti di buat dong” terang Hiza bertanya ke Lintang.
Lintang melotot kan matanya ke arah Fareed.
__ADS_1
“Mm, apa Hiza pernah memakan brownies?” tanya Lintang mencoba mengalihkan pembicaraan agar ia tidak perlu untuk menjelaskan cara membuat adik ke Hiza.
“Mommy, Hiza tanya bagaimana cara membuat adik, bukan pernah memakan brownies” seru Hiza ketika ia tidak mendengar apa yang ia inginkan.
Lintang gelagapan, pandangannya beralih ke arah Fareed yang berada di belakang tubuh Hiza. Menatap Fareed seakan-akan sedang mengatakan
“Bantu aku menjawab pertanyaan Hiza”
Fareed tersenyum, kemudian ia mengangkat bahu nya sekilas.
“Caranya it—”
Drrrttt....
Drrrtttt....
Suara handphone Fareed berbunyi membuat semua atensi beralih ke padanya.
“Sebentar” ucap Fareed mengangkat tubuh Hiza dan menaruh Hiza di samping tempat nya yang masih kosong.
Fareed mengangkat panggilan dari handphone nya.
Tidak lupa ia me loudspeaker panggilannya.
“Panggilan dari sekertaris” ujar Fareed memberi tahu Lintang. Lintang mengangguk.
“Iya ada apa?” tanya Fareed ke sekertaris nya.
“Maaf mengganggu anda tuan, saya ingin menyampaikan bahwa perusahaan di sini sedang kacau dan sangat membutuhkan anda” jawab Mark di sebrang sana.
wajah Fareed berubah menjadi murung.
“Kenapa bisa?” tanya Fareed, Ia merasa ada yang tidak beres dengan ini, bagaimana perusahaan bisa kacau dalam waktu kurang dari satu minggu, itu tidak mungkin.
“Ada seseorang yang berkorupsi dan jumlah nya sangatlah fantastis tuan.” jawab Mark di sebrang sana.
“Berapa?” tanya Fareed penasaran, sudah tidak asing lagi di telinga nya saat mendengar kata korupsi.
“Setara dengan 8% saham perusahaan kita”
“APAA!” pekik Fareed membuat yang semua yang mendengarkan ikut panik.
8 persen itu jumlah yang bukan sedikit.
“Baiklah kirim segera pesawat ku” ucap Fareed memelankan suaranya ketika seluruh anggota keluarga nya panik.
“Pesawat anda akan sampai 15 menit lagi tuan” jelas Mark. Mark berani mengirimkan pesawat pribadi milik tuannya karena ia sudah di beri amanat oleh Fareed sebelum Fareed pergi ke Indonesia ' jika ada kepentingan yang sangat mendesak ia boleh langsung mengambil tindakan'.
“Baiklah”
Tut....
🦋🌹🥴💮..
__ADS_1