
Bukannya Fareed ingin meninggalkan Lintang sendirian, tapi saham 8% setara dengan uang 2,5 t.
jumlah yang tidak bisa di bilang sedikit.
Fareed meletakkan handphone nya di atas meja, ia melihat Lintang yang sekarang melihat dirinya juga.
“Lintang” ucap Fareed.
“Pergilah,” ucap Lintang.
Hal ini yang membuat Fareed tidak bisa melupakan Lintang dengan cepat, sifat Lintang yang menurutnya sangat sempurna, Ia saja belum meminta izin untuk pergi ke pulang ke negara nya, tapi Lintang sudah mengizinkan nya.
Sungguh Lintang adalah sosok istri yang sangat sempurna.
“Tapi bagaimana dengan mu?” tanya Fareed cemas, ia teringat bahwa semalam adalah malam pertama bagi Lintang.
“Tidak masalah, kamu pergi saja” jawab Lintang tenang, Lintang pun tidak bisa menahan Fareed dengan nya selalu, ada banyak tanggung jawab lain yang di emban oleh Fareed, bukan dirinya saja.
“Maaf” ucap Fareed. Yang langsung di angguki oleh Lintang.
“Daddy ingin pergi?” tanya Hiza.
“Iya, kalian berdua baik baik ya sama mommy” Fareed membelai wajah Hiza yang berada di samping nya.
“Tapi aku ingin bersama Daddy” mata Hiza berkaca-kaca, ia memeluk tubuh Fareed erat, seakan akan tak ingin melepaskannya.
“Daddy mau pergi bekerja kok, bukan mau pergi kemana mana” ucap Fareed mencoba menenangkan.
“Tidak mauu.... Hizaa mau sama Daddy” rengek Hiza menangis sesenggukan.
Tok... tok... tok...
“Permisi tuan, saya utusan dari tuan Mark” suara pria dari depan pintu utama rumah Lintang terdengar, suara itu terdengar sangat keras.
“Mungkin dia punya spiker di tenggorokan nya” ujar Elivan lirih yang masih di dengar oleh Lintang.
“Iya, kok bisa ya bang?” tanya Lintang juga penasaran.
“El juga tidak tahu mom” Elivan mengedikkan bahunya.
Lintang mengalihkan perhatian pada Hiza yang sedang memeluk leher Fareed erat sambil menangis.
“Aku ingin bersama Daddy” rengek Hiza.
Fareed melihat Lintang dengan tatapan bingung, kemudian Lintang merespon tatapan itu dengan senyuman.
Lintang berdiri, dia melirik Fareed agar juga ikut berdiri.
__ADS_1
Ketika Fareed berdiri, dengan cepat ia mengambil tubuh Hiza dari belakang ketika tangan Hiza mengusap air matanya.
“Sudah Hiza jangan menangis” ujar Lintang menenangkan.
“Aku mau bersama Daddy mom” tangis Hiza semakin kencang, ia meronta ronta di gendongan Lintang.
“Pergi saja mas” ucap Lintang.
Fareed menangguk, ia mencium pelipis Lintang sekilas kemudian ia beralih ke Hiza yang sudah memegang kaos yang di pakainya.
Lintang menarik tangan Hiza agar melepaskan tarikannya.
Fareed tersenyum, ia beralih ke Elivan kemudian mencium pelipis anak nya dengan tangan nya mengelus kepala Elivan.
“Jaga Mommy mu, jangan sampai dia tau bahwa Daddy telah berbohong padanya” bisik Fareed yang di angguki oleh Elivan.
“Aku pergi dulu sayang” pamit Fareed di sertai dengan suara tangis Hiza sebagai melody iringannya.
Fareed berjalan keluar dengan wajah datarnya, ketika ia membuka Fareed melihat tiga orang berbaju hitam sedang menunduk menyambutnya.
“Langsung ke bandara saja, aku tak ingin berlama-lama.” ucap Fareed ke sopir yang menyetir mobilnya.
“Baik tuan” jawab sopir itu.
Disisi lain Lintang bersama kedua anaknya kini sedang rebahan di kasur milik anaknya.
“Bang” panggil Lintang ke Elivan yang sekarang rebahan dengan menjadikan lengan Lintang sebagai bantalan.
Bagi Elivan momen seperti ini sangatlah berati karena ini adalah pertama kalinya ia merasa sangat di sayang dan di perhatikan oleh seseorang. Momen ini kelak akan menjadi memori khusus yang tersimpan di dalam hati kecil Elivan.
“Apa mom” jawab Elivan yang sedang melihat langit langit kamarnya.
Sementara Hiza tetap tenang dengan gadget di tangannya.
“Nanti jika mommy pergi bagaimana?” tanya Lintang tiba-tiba, entah kenapa ia tiba-tiba mengingat bahwa umur tidak ada yang tahu.
“Pergi kemana dulu mom?” tanya Elivan tidak mengerti pertanyaan Lintang yang terkesan ambigu baginya.
“Entah, tapi mommy cuman ingin mengatakan in—”
Cekrek....
Suara jepretan kamera dari handphone Hiza mengentikan ucapan Lintang.
Kedua anak dan ibu itu menoleh secara bersamaan ke Hiza.
Cekrek....
__ADS_1
“Jadi.... ” ucap Hiza riang ketika ia mendapatkan foto Lintang dan Elivan yang menoleh ke arahnya secara bersamaan dengan wajah yang kacau.
“Kamu ngapain dek?” tanya Elivan mengubah posisi nya menjadi duduk.
“Lagi me foto Abang sama mommy” jawab Hiza polos.
“Lihat” Elivan mengambil handphone itu dari tangan Hiza, ia tertawa ketika melihat wajah nya sendiri. Keinginan nya untuk menghapus foto yang di ambil oleh Hiza urung karena melihat wajahnya dan wajah mommy nya sangat lah ambigu untuk di lihat.
“Biarkan saja, jangan di hapus, nanti Abang save ke king” ucap Elivan menyerahkan Handphone itu ke Hiza, biarkan saja foto itu adalah serpihan memori yang telah di buat oleh nya beserta keluarga barunya.
Lintang yang melihat itu tersenyum, betapa bahagianya ia ketika melihat keduanya bahagia. hati orang tua mana yang tak bahagia ketika anaknya bahagia?.
“Mom, ayo selfi seperti orang orang” ajak Hiza mengangkat handphone yang sudah siap me foto mereka.
“Abang ikut dek” sahut Elivan.
“Ayo semuanya lihat ke kamera” instruksi Hiza membuat Lintang dan Elivan melihat ke kamera.
“Ayo Mom, dek, gaya peace, seperti ini” ucap Elivan memberi tahu dengan mengangkat kedua jarinya membentuk peace. [✌️]
Cekrek...
Foto di ambil dengan berbagai gaya dari ketiga nya. Lintang dengan posisi tidur miring serta tangan peace nya di samping wajahnya, Elivan dengan kedua tangannya dan Hiza dengan satu tangannya dan tangan yang lainnya memegang handphone.
“Wah bagus, bang kita pajang saja di kamar kita” ucap Hiza ketika ia melihat hasil foto mereka sangat bagus.
“Mana lihat lihat” Elivan melihat hasil foto tadi. “Iya, kita pajang saja, mom ini di perbesar ya mom” sambung Elivan memperlihatkan hasil dari foto tadi.
“Iya terserah kalian, ayo tidur, sudah waktunya untuk tidur siang” titah Lintang.
“Baik mom.” jawab kedua bocah itu. Mereka berdua mengambil posisi masing-masing di samping Lintang agar tidak ada yang merasa iri.
Sungguh anak yang tak ingin keributan.
“Mom kabar Yasa sama Yuza gimana?” tanya Hiza sebelum ia tertidur.
...****************...
“Sudah waktunya untuk mengakhiri semua ini Fareed!” peringat tuan Peterson di dalam pesawat yang akan membawanya terbang ke negara nya.
“Sebentar Dad, aku tidak ingin melihat nya terluka lagi, cukup satu kali” jawab Fareed memijat pangkal hidungnya yang terasa berat.
“Tapi jika kau tidak mengakhirinya sekarang kau akan lebih menyakiti nya lagi Fareed”
“Sebentar Dad, aku sekarang sedang pusing dengan semua ini”
🌼🌼.
__ADS_1