
Dua bulan setelah keluarga kecil Fareed pindah rumah, kini keluarga itu terlihat semakin bahagia dengan semua pembaruan tataan kehidupan.
Di mana Lintang adalah orang biasa dan selalu melakukan semuanya mandiri kini setiap waktunya di layani oleh pelayan, di mana setiap paginya ia selalu memasak kini sudah tidak di perbolehkan memasak oleh Fareed, kesehariannya sekarang berubah, ia hanya sibuk bermain dengan kedua anaknya, kedua kucing anaknya, serta pengasuh yang sedang hamil besar.
Seperti sekarang, Ia, Ayana, kedua anaknya serta pelihara nya tengah bersantai di halaman belakang rumah mereka sambil menemani kedua anaknya bermain.
“Kehamilan mu sudah berapa bulan Ay?” tanya Lintang mengelus perut buncit pengasuh kedua anak nya itu.
“Sudah masuk bulan ke delapan bu” jawab Ayana.
“Sebentar lagi lahiran ya” tanya Lintang dengan riang, ia jadi tak sabar untuk menunggu kelahiran anak dari Ayana.
“iya bu”
“Nanti kalau sudah lahiran, jangan lupa di bawa ke sini anaknya, kita bermain bareng, pasti Hiza suka, dia sangat menyukai bayi” ujar Lintang membuat Ayana kikuk.
Tinggal selama dua bulan dengan istri pertama suaminya sangatlah berat, setiap hari ia di suguhkan dengan pemandangan yang bisa membuat semua wanita iri, bayangkan saja, betapa memanjakannya seorang Fareed untuk istri pertamanya itu, sikap Fareed sangatlah romantis tak peduli jika ada anak bahkan orang pun ia akan sama, menunjukkan sikap yang sangat di inginkan.
Berbeda jika Fareed bersama dirinya, Fareed akan lebih terkesan dingin dan cuek bebek.
Bagaimana tidak romantis, Lintang saja memiliki kepribadian yang baik, lembut, dan juga menurut, tentu saja hal itu adalah hal yang sangat di idam idamkan seluruh pria di dunia ini. Fareed akan menemui Ayana satu minggu sekali, bukan satu bulan, karena Ayana kini tinggal satu atap dengan dirinya.
“iy-iya bu” jawab Ayana gugup.
Ayana tak tenang jika duduk dekat dengan Lintang, ia takut jika hubungan nya dengan Fareed terbongkar. Takut jika semuanya kacau hanya gegara dirinya.
Ayana menoleh kebelakang ketika punggungnya ada yang mencolek. objek yang sekarang ia lihat adalah suaminya, juga suami dari perempuan di sebelahnya.
Fareed menggerakkan matanya agar Ayana pergi, tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Ayana beranjak menggeser tubuhnya di ujung karpet.
“Mau kemana Ay?” tanya Lintang ketika ia melihat Ayana menggeser posisi duduk nya.
“Sayang...” bisik Fareed memeluk tubuh Lintang dari belakang, kedua tangan nya melingkari perut rampingnya.
“Lepas mas, ada banyak orang” ucap Lintang memegang kedua tangan Fareed yang melingkar di perutnya.
“Aku tak perduli” Fareed menenggelamkan kepalanya di bahu Lintang.
Wangi yang sangat memabukkan. Ia berharap akan terus seperti ini setiap harinya, ia tak ingin semuanya kacau, Ia ingin rahasianya yang telah menikah lagi tanpa sepengetahuan Lintang tetap aman hingga Ayana pergi dari rumah ini.
Jujur saja Fareed selalu merasa cemas ketika kedua istrinya itu sedang bersama, ia takut jika Ayana keceplosan bilang bahwa anak yang di kandungannya adalah anak dari nya dan Ayana adalah istri keduanya.
__ADS_1
Di sudut lain, Hati Ayana merasa sangat iri, ia juga ingin di perlakukan seperti itu oleh Fareed, tapi ia sadar jika dirinya adalah sebuah benalu di kehidupan pernikahan mereka.
Sedikit terbesit di pikiran nya, untuk mengatakan bahwa dia adalah istri kedua dari Fareed agar ia juga mendapatkan perlakuan istimewa sama seperti Lintang mendapatkannya, tapi ia takut jika ia tiba tiba di usir oleh Fareed.
Tidak, tidak boleh, ia adalah wanita rendahan jika harus bersanding dengan Lintang. dan ia tidak boleh berpikiran seperti tadi. Ia hanya sebatas istri figuran yang hanya di nikahi oleh Fareed di atas kertas demi mempertanggungjawabkan perbuatannya.
“Sudah sana mandi, ajak kedua tuyul mu itu” ucap Lintang menunjuk ke arah Hiza dan Elivan yang setiap jengkal tubuhnya sudah terbalut oleh lumpur.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam ini, adalah jatah di mana Ayana akan di kunjungi oleh Fareed, suaminya, ia akan meminta ke Fareed agar memasaknya sebuah mie instan. Entah kenapa ia sangat ingin memakan itu.
“Ayana” panggil Fareed membuka pintu kamar milik Ayana yang berada di pojok bawah rumahnya.
“Mas” sahut Ayana berdiri menyambut baik kedatangan Fareed.
“Apa ada yang sakit?” tanya Fareed mengelus perut buncit Ayana. Fareed berpikir bahwa tidak ada salahnya jika ia bersikap baik ke istri nya sendiri yang sedang hamil besar anak nya.
“Tidak, aku hanya ingin memakan mie instan” keluh Ayana beranjak duduk di tepi ranjangnya.
“Sebentar, aku akan membuatkan mu mie, tunggu disini” ucap Fareed menutup kembali pintu kamar milik Ayana.
“Iya mas..”
“Mungkin dia sedang ada pekerjaan” ucap lintang sebelum ia tertidur lagi.
Fareed melangkah ke arah dapur untuk memasakkan keinginan Ayana istri keduanya yang sedang mengalami masa ngidam.
Setelah Fareed lihat selama 2 bulan terakhir, ia yakin bahwa Ayana adalah sosok yang sangat baik jika dilihat dari kesehariannya.
Ayana tidak pernah bersikap atau bertingkah semaunya. Ia bahkan tidak pernah menyusahkan dirinya selama 2 bulan tinggal dengannya.
Ayana tidak pernah yang namanya meminta apapun kecuali brownies dan mie instan kali ini.
Fareed lihat juga Ayana adalah wanita yang penurut berbeda dengan lintang yang sedi— Fareed menggeleng.
Pikiran apa itu, dia tidak boleh membandingkan lintang dengan Ayana yang jelas-jelas berbeda dari segi manapun.
Setelah memasak mie instan keinginan Ayana, Fareed pun kembali ke kamar Ayana
“Ay” panggil Fareed membuka pintu kamar istri kedua nya.
__ADS_1
Fareed melihat bahwa Ayana sedang tertidur dengan posisi duduk bersandar di pinggiran ranjang nya.
Ranjang yang sangat jauh dari kata layak untuk seorang ibu hamil. Ranjang itu memiliki kasur yang sudah sedikit keras karena memang kamar ini adalah kamar khusus para pengasuh.
Sementara kamar para pelayan berada di belakang dapur basah. Khusus Ayana ia taruh di dalam rumah karena Ayana adalah istri serta seorang pengasuh anaknya.
Kamar Ayana diletakkan di dalam rumah agar Hiza ataupun Elivan jika membutuhkan sesuatu bisa langsung menghubungi Ayana sang pengasuh.
Fareed menghela nafas, ia meletakkan mie itu di nakas samping ranjang Ayana. Selanjutnya ia membenakan posisi tidur Ayana agar badan nya tidak terasa sakit jika dia telah terbangun besok.
Setelah Fareed membenahi posisi tidur istri kedua nya, ia kembali ke kamar utama, kamarnya dan Lintang.
Entahlah di sisi lain ia merasa jika ini adalah salah, tapi di sisi lain tidak ada salahnya karena Ayana adalah istri sahnya.
.....
“Mas ayo bangun,” Lintang menggoyang lengan Fareed sedikit keras. Jika sudah seperti ini, ia akan menggunakan cara jitunya.
Lintang menjepit hidung Farid dengan kedua jarinya membuat Fareed kehilangan nafas dan pada akhirnya Fareed membuka matanya.
Ketika mata Fareed sudah mengerjab, Lintang melepaskan jepitan dan mencium hidung Fareed dengan gemas.
“Bangun mas, sudah siang, apakah kau tidak akan bekerja?” tanya lintang ketika mata Fareed terbuka dan menatapnya.
“Morning kiss nya dulu sayang” ucap Fareed membuat Lintang segera berdiri.
Tubuh lintang terhempas dan menindih tubuh Fareed karena lengannya ditarik paksa oleh Fareed.
Wajah mereka sudah berhadapan, jaraknya sudah sangat dekat..
“Morning kiss nya dulu sayang” ujar Fareed kemudian mencium bibir lintang dengan gemas.
Nafas mereka berdua terengah-engah, mereka masih dalam posisi yang sama, kepala Fareed maju perlahan....
Ceklek....
Brak.....
“MOMMYY!!!”
🌼🥴💮.
__ADS_1
MMM, Terimakasih sudah membaca karya pertama ku sampai di titik ini, mau minta tolong untuk menilai karya saya agar saya bisa melihat apa yang pembaca inginkan terimakasih.