
“Wahhh, apakah ini rumah baru kita bang?” tanya Hiza terkagum-kagum dengan kemewahan depan rumah baru mereka. Hiza tak membayangkan di dalamnya.
“Iya, ayo masuk” ajak Elivan menggandeng lengan kecil Hiza dan di belakangnya di ikuti oleh pengasuh barunya—Ayana.
“Tuan, jangan berlari lari” peringat Ayana, membuat kedua kakak beradik itu menoleh ke arah pengasuh barunya.
“Eh iya mbak, lupa jika ada mbak Ayana” ucap Hiza berlari ke tubuh Ayana kemudian menggandeng tangan nya.
Hiza senang mempunyai teman baru.
“Ayo mbak” ajak Hiza, menggandeng lengan Ayana.
“Iya.”
Mereka bertiga berjalan masuk rumah baru mereka dengan melihat sekeliling yang sangat mewah.
“DADDYYYY!!” pekik Hiza ketika melihat Daddy nya berjalan menuruni anak tangga.
Hiza berlari, ia melompat ke tubuh Fareed. Fareed dengan sigap menangkap tubuh itu, ia sudah hafal dengan kebiasaan Hiza yang tak bisa di hilangkan dengan mudah.
Di dalam gendongan Fareed, Hiza celingak-celinguk mencari di mana keberadaan Lintang di dalam luasnya ruang tamu rumah baru mereka.
“Kemana Mommy Dad?” tanya Hiza ketika ia tidak mendapati kebenaran mommy Lintang nya.
“Mommy masih penat, dia sedang tertidur sekarang” jawab Fareed berjalan ke arah sofa ruang tamu itu.
“Ayo El, duduk bersama Daddy” ucap Fareed. Tangannya menepuk nepuk sofa samping nya agar Elivan duduk di sebelahnya.
Elivan menurut ia duduk di samping Daddynya, sementara Ayana tetap berdiri menundukkan kepalanya.
“Mommy kenapa belum bangun, kan ini sudah pukul dua siang” tanya Elivan, ia sudah tak terbiasa berjauhan dengan mommynya yang selalu memberinya kehangatan.
“Mommy kalian baru saja tertidur, dia tidak bisa tidur tadi” terang Fareed.
“Bagaimana dengan pengasuh kalian?” tanya Fareed melirik sekilas ke arah Ayana yang sedang menunduk.
“Mbak Ayana baik Dad, sebelum datang kesini kami di masakan makanan yang sangat lezat. Tapi masakan mommy tidak ada bandingannya dengan masakan mbak Ayana” ucap Hiza berbisik di akhir kalimat nya, ia tak ingin menyakiti hati pengasuh barunya itu.
__ADS_1
“Bagaimana dengan Elivan?” tanya Fareed ke Elivan yang hanya duduk menyimak.
“Sama seperti Hiza” jawab Elivan yang di angguk oleh Fareed.
“Dad, mbak Ayana suruh duduk, di dalam perutnya ada bayinya” ucap Hiza berbisik di telinga Fareed.
“Ayana” panggil Fareed.
“Iya tuan” jawab Ayana gugup.
“Duduk lah, kata Hiza kau sedang mengandung, apa itu benar?” tanya Fareed ke Ayana yang tengah menunduk.
“Terima kasih tuan, iya saya sedang hamil” jawab Ayana yang kini sudah duduk di sofa di depan ketiga pria berbeda generasi itu.
“Adek kok bisa tau mbak Ayana Hamil?” tanya Elivan penasaran.
“Tadi ketika Abang turun ke supermarket Adek lihat perut Mbak Ayana menggembung besar, jadi Hiza tanya ke mbak Ayana, dan mbak Ayana bilang bahwa dia sedang mengandung bayi” jawab Hiza polos.
“Ooo, jadi gitu.....”
Hening sesaat.
“Hoamm..... Bang El tidak mengantuk?” tanya Hiza menahan kantuk.
“Iya ayo tidur, eh iya Dad, di mana kamar kita, kamar kita gabung kan?” tanya Elivan melihat sekeliling yang sangat besar bagi nya.
“Iya untuk sementara kalian gabung, nanti jika sudah besar pisah, dan untuk letaknya, kalian tanya ke mbak Ayana, dia sudah tau” ucap Fareed.
“Ayo mbak, Hiza sudah mengantuk” ajak Hiza menarik tangan mbak Ayana.
“Eh iya tuan, mari” ujar Ayana berjalan sambil menuntun kedua tangan bocah yang sudah mengantuk itu. Memang sebelum dirinya membawa kedua tuan muda nya ini ke rumah barunya, ia mengajak mereka bermain di taman kota yang sedang sepi.
Sesampainya di kamar mereka berdua, mereka tak ada waktu untuk mengagumi keindahan dekorasi kamar mereka berdua karena sudah mengantuk berat.
Elivan dan Hiza segera berlari ketika mereka melihat kasur yang empuk untuk di tidurinya.
Ayana tersenyum, ia melepaskan sepatu kedua bocah itu yang belum sempat mereka lepaskan.
__ADS_1
Setelah melepaskannya, ia segera bangkit dan beristirahat sejenak untuk meluruskan punggungnya.
“Kalian baik banget, padahal aku ada—”
“Ayana” panggil Fareed, di depan pintu.
“Iya tuan” jawab Ayana berjalan ke arah Fareed dan berhenti tepat di depan nya.
“Kau harus bisa menyembunyikan semuanya dari Lintang maupun kedua anak ku, rahasia ini hanya kita berdua yang tau” ucap Fareed memperingati istri ke duanya yang kekeuh agar tinggal bersama dengan dirinya.
Benar, kalian benar jika Ayana yang menjadi pengasuh kedua anak Fareed adalah istri kedua Fareed yang ia nikahi di negara Amerika, bukan Indonesia.
Resiko memang, tapi ia akan menyembunyikan ini sebaik mungkin agar Lintang tidak mengetahuinya.
Bagaimana bisa Fareed segila itu untuk membawa ke dua istri nya dalam satu atap yang sama?. Entahlah Fareed telah membuat dirinya sendiri berada di tepi jurang yang bisa membunuhnya kapan saja.
Dan tantangan berikutnya adalah, bagaimana cara Fareed bisa menyembunyikan rahasia ini dari Lintang— wanita yang benar benar sangat ia cintai?.
Sebenarnya ia tak ingin Ayana tinggal bersama nya, tapi Ayana beralasan jika bukan dia yang ingin tinggal bersama nya, tapi bayi yang berada di kandungannya.
Ayana bilang jika ia akan pergi selamanya dari kehidupan Fareed jika sudah melahirkan anak yang berada di kandungannya.
“Baik Reed, tapi aku sekarang ingin memakan brownies” ucap Ayana. Nampaknya wanita itu tengah mengidam.
Fareed menghela nafas, ia mengambil dompet nya dan meyerahkan sebuah kartu ATM.
“Ini, jika kau ingin semuanya, cari sendiri, jangan merepotkan” ucap Fareed memberikan kartu itu ke tangan Ayana.
“Ingat!!, jangan sampai ada yang tau jika kau adalah istri kedua ku!” peringat Fareed sebelum ia pergi dari kamar itu.
“Semoga Lintang tidak mengetahui semua ini, ini hanya akan berlangsung kurang dari empat bulan ke depan.” ucap Fareed dalam hati nya. Berharap jika Lintang tidak mengetahui semuanya. Ia sungguh berharap.
“Sabar ya nak, memang berat jika ayahmu adalah seorang suami dan ayah orang lain” lirih Ayana mengelus perut buncitnya.
Entah apa yang berada di dalam pikiran Fareed sekarang.
🌼🌼🌼.
__ADS_1