
Sonya memilih acak baju-baju yang akan ia bawa ke apartment Alex, dan memasukkannya ke dua koper besar yang sudah ia siapkan. Dan sialnya, Alex tidak membantunya sama sekali.
Sambil bersedekap dan bersandar pada tembok kamar, Alex hanya memandori Sonya yang sibuk bolak-balik dari lemari bajunya ke koper besar, yang di letakkan di atas tempat tidurnya.
Wanita itu hanya memiliki dua buah gaun, lebih banyak celana panjang dan pendek, kaos, serta tank top, dan beberapa baju kerja, yang mengingatkan Alex pada busana Sonya saat di kantor.
Dia selalu mengenakan celana panjang, tidak pernah sekalipun wanita itu mengenakan rok pendek sebagaimana karyawan wanita lainnya, terutama karyawati yang berusaha mendekati dan menggoda Alex.
Benar kata Papa..., wanita ini benar-benar tomboy...
"Sudah selesai Pak..." lapor Sonya sambil menutup dan menurunkan kopernya dari atas tempat tidur.
"Kau tidak mau membawa lemari bajumu sekalian?" sindir Alex dingin.
Sonya mengerjap-ngerjapkan matanya, "Memangnya Bapak tidak punya lemari pakaian di sana...?" tanyanya polos.
"Kau mengeluarkan hampir semua isi lemarimu, kenapa tidak sekalian saja membawanya ke Apartmenku, jadi kau tidak perlu repot-repot menyusun bajumu lagi!" lalu Alex melihat jam tangannya, "Sudah jam tujuh, ayo jalan sekarang, kau membuatku telat saja!"
Sonya memutar kedua bola matanya dengan kesal, lalu balik badan ke arah Alex, "Yang menyuruh Bapak menunggu saya siapa...? Kalau Bapak mau berangkat duluan yaa silahkan saja jalan... Kenapa harus menunggu saya...?" rutuk Sonya.
"Jangan kepedean kamu, saya menunggu kopermu, bukan menunggumu." balas Alex sambil meraih koper dari tangan Sonya dengan tangan kanannya, dan mengambil koper satu lagi dengan tangan kirinya, lalu membawa keduanya keluar kamar.
"Kopernya berat Pak, biar saya bawa yang satunya lagi..." cegah Sonya.
"Lebih berat membopongmu dari membawa dua koper ini!" cibir Alex sambil terus jalan.
Sonya teringat saat semalam Alex membopongnya, dan dua kejadian terpisah saat pesta launching produk baru, dan saat di apartment Hardhan.
"Siapa suruh hobbymu membopongku...!!" teriak Sonya lalu menggigit bibir bawahnya dan melotot ke punggung Alex sambil menghembuskan nafas dongkol.
Sial...!! Itu sama saja Jailangkung kutub itu mengataiku gendut...! gerutunya.
Sambil memberengut kesal Sonya beranjak keluar dari kamarnya, memandang kesekeliling kamar yang sudah ia tempati sejak balita, sebelum menutup pintunya dan bergegas turun ke lantai bawah.
__ADS_1
Alex sedang menyusun koper-kopernya di bagasi mobilnya, ketika Sonya menghampirinya, "Bapak tidak mau sarapan dulu...?" tanya Sonya.
"Saya tidak lapar." jawab Alex acuh, sambil menutup pintu bagasi mobilnya, kemudian beranjak ke pintu pengemudi dan membukanya.
"Tunggu apa lagi? Cepat naik." seru Alex sebelum masuk dan duduk di belakang kemudi.
Dengan langkah berat Sonya mendekati mobil Alex, membuka pintunya dan duduk di sebelah Alex, "Tapi saya lapar Pak, saya terbiasa makan pagi sebelum jalan... Dan mbok Sri sudah masak untuk kita." rengek Sonya sambil menutup pintu mobil, dan memasang seat beltnya.
"Saya tidak ada waktu! Kau cari makan saja nanti di rumah sakit." setelah mengatakan itu Alex langsung memundurkan mobilnya keluar dari garasi mobil, Mbok Sri menutup lagi pagarnya setelah mobil Alex keluar.
"Kalau tahu begini, lebih baik tadi saya jalan sendiri saja Pak ke Rumah Sakit...!" gerutu Sonya sambil menghela nafas kesal.
"Saya juga tidak mau repot-repot menunggu dan mengantarmu, kalau saja tidak ada mbok Sri di rumahmu"
"Ya biarkan saja, memangnya apa bedanya...? Papa juga sudah tahu kok tidak ada cinta di antara kita Pak, jadi tidak masalah mbok Sri mau mengadu apapun ke Papa."
Alex diam, pandangannya hanya fokus ke jalan raya.
"Bagaimana dengan mobil saya...? Saya perlu kendaraan untuk mobilitas saya sehari-hari..."
"Untuk apa...?" tanya Sonya.
"Saya akan minta salah satu anak buah saya membawa mobilmu ke Apartment, sekaligus mengurus masalah parkirnya."
Sonya membuka tasnya, mengeluarkan kunci mobil dan meletakkannya dengan kasar ke telapak tangan Alex, "Nih!"
Alex memasukkan kunci mobil Sonya ke saku dalam jas hitamnya. Sonya yang memberengut memilih melihat ke arah luar jendela, sambil menahan perutnya yang berdemo minta di isi.
Alex menghentikan mobilnya di depan lobby gedung rawat inap VVIP, Sonya membuka pintu mobil dan bergegas turun, lalu balik badan dan menahan pintu mobil Alex sambil menunduk melihat Alex, "Bapak tidak mau menemui Papa terlebih dahulu...?" tanyanya.
"Saya harus menemui boss, selesainya baru saya menjenguk Papa." jawab Alex datar.
"Ok..., salam untuk Kei."
__ADS_1
Setelah Alex mengangguk, Sonya menutup pintu mobil, dan Alex langsung menancap gas.
"Cih, tidak ada manis-manisnya sekali jadi suami...!!" gerutu Sonya sambil menatap kesal mobil Alex.
"Bahkan mertuanya mau operasi pun dia tidak peduli... Dasar mantu durhaka... Huft!"
Dengan langkah kesal Sonya memasuki lobby, bau obat khas rumah sakit langsung memenuhi rongga hidungnya.
"Papa sudah siap...?" tanya Sonya sesampainya di ruang rawat papanya.
Pak Bramanta mengangguk, "Alex tidak ke sini...?" tanyanya.
"Alex sudah di tunggu boss Hardhan di rumahnya, mereka ingin menyelesaikan urusan mereka di Paris..." jawab Sonya sambil memijat lengan papanya.
"Proyek baru...?" tanya Pak Bramanta lagi.
Sonya menggeleng, "Bukan, ini tentang pembunuhan Anindira, adiknya Boss..."
"Oh, itu berarti kau akan ke Paris lagi...?"
Sonya kembali menggeleng, "Tidak Pa, ini bukan pekerjaan kantor, jadi Boss hanya berdua saja dengan Alex..." jelas Sonya.
Tidak lama kemudian masuk team dokter yang akan melakukan operasi, "Anda anak dari Pak Bramanta...?" tanya salah satu dokter itu, yang ternyata adalah dokter Spesialis Kardiologi.
"Iya benar." jawan Sonya.
"Pemasangan ring jantung memang berurusan dengan organ vital, tapi tidak perlu khawatir, karena ini termasuk prosedur non bedah dan minimal invasif. Prosesnya pun kurang lebih hanya memakan waktu tigapuluh menit. Tapi bukan tidak mungkin ada resiko dan komplikasi yang akan menyertainya, seperti pembuluh darah kembali menyempit, munculnya gumpalan darah di ring yang terpasang, atau terjadi pendarahan di area tempat kateter dimasukkan." jelas dokter itu.
"Iya saya mengerti dokter..." sahut Sonya.
"Baiklah, pindahkan Bapak Bramanta ke ruang operasi sekarang." seru dokter itu ke perawatnya, yang kemudian memindahkan papa ke Emergency Stretcher dan mendorongnya ke ruang operasi.
"Mbok... Mbok pulang saja istirahat dulu di rumah, nanti sore baru kesini lagi menggantikan saya yaa..." seru Sonya ke mbok Yem.
__ADS_1
"Baik Non... Oh iya Non mau dibawakan baju salin...?" tanya mbok Yem.
"Tidak perlu mbok..., mulai malam ini saya tinggal di rumah suami saya..." jawab Sonya sambil mencoba untuk tersenyum.