
Sambil memegang flute glassnya, Sonya berdiri di balkon villanya, menikmati pemandang indah danau terbesar ketiga di Italia itu.
Hanya beberapa ferry dan boat yang hilir mudik di danau itu selama winter, tidak sebanyak saat musim panas. Bagi turis yang tidak suka suasana sunyi dan damai.
Mereka akan merasa bosan ke Lake Como ini saat winter. Karena kegiatan serba terbatas, serta cafe, restaurant dan club tutup lebih awal, hanya beberapa saja yang buka sampai dinihari. Bahkan sekarang, sehari menjelang tahun baru, hampir semua cafe dan restaurant tutup.
Tapi untuk yang ingin bulan madu, justru winterlah saat yang tepat. Udaranya yang dingin membuat betah berlama-lama di kamar. Dengan lanskap danau dan pegunungan, serta monumen-monumen yang diterangi cahaya lampu warna warni dari pohon Natal, dan villa-vila mewah yang tersebar di hampir semua sudut danau, membuat dinner dengan pasangan semakin terlihat romantis.
Setidaknya itulah yang dirasakan Sonya semalam. Sonya dan Alex menikmati makan malam di balkon kamar mereka. Makanan yang sudah terasa dingin karena di beli saat mereka kembali ke villa. Tapi anggur merah bersoda mampu menutupi kekurangan dari makanan itu. Membuat tenggorokan dan badannya tetap hangat.
Ya walaupun makan malam hanya berlangsung tidak sampai setengah jam, karena Alex sudah membopong Sonya ke dalam kamar lagi. Dan apa yang dilakukan Alex di dalam kamar itu membuat wajah Sonya kembali merona merah. Perutnya kembali terasa jungkir balik, dan hatinya berbunga-bunga.
Siapa yang akan menyangka, jika dibalik sikap dingin dan kakunya Alex, terdapat gairah yang begitu besar, yang seakan-akan tidak pernah ada puasnya itu. Staminanya bahkan bisa mengalahkan tenaga kuda sekalipun.
Jailangkung kutub itu... Bar-bar juga dia ternyata...
Gumam Sonya sambil senyum-senyum sendiri.
"Aku rela menyerahkan seluruh hartaku demi mengetahui isi pikiranmu saat ini Son..." bisik Alex sambil memeluk Sonya dari belakang.
Sonya langsung meneguk habis anggur merah bersodanya itu, berusaha memalingkan wajahnya yang memerah dari tatapan Alex.
"Aku hanya melihat pegunungan yang tertutup salju itu, mungkin enak kalau kita main ski disana..." elak Sonya.
"Itu sudah masuk perbatasan Italia dan Swiss. Kamu mau kesana? Hanya memakan waktu kurang lebih satu jam untuk sampai ke sana. Atau mau ke Mount Titlis sekalian? Dari sini hanya tiga jam."
"Mount Titlis? Kita mau kesana?" tanya Sonya antusias, sambil balik badan ke arah Alex.
"Aku bertanya bukan mengajak..." ralat Alex.
__ADS_1
"Maksudku kamu mau mengajakku kesana atau tidak?"
"Tidak!" jawab Alex santai, Sonya memukul bahu Alex sambil memberengut.
"Kalau begitu kenapa kamu menawariku tadi?"
Alex mengangkat bahunya, "Iseng saja!"
"Jahat!" Sonya mendorong Alex tapi Alex tidak bergeser sedikitpun.
"Kamu menggemaskan sekali kalau sedang merajuk..." kata Alex sambil menahan dagu Sonya.
"Dan aku ingin menenggelamkanmu kedasar danau itu karena sudah membuatku kesal!!" geram Sonya dan Alex langsung tergelak.
"Oh astaga Sonya... Kamu senang sekali mengancamku..."
"Dan kamu sangat ahli memainkan emosiku!" balas Sonya.
Mendengar perkataan Alex, membuat Sonya teringat kembali dengan gosip karyawan wanita saat di kamar mandi. Kalau Alex dulunya pria yang ceria, supel, ramah dan murah senyum. Apakah yang dimaksud mereka adalah Alex yang seperti sekarang ini? Apakah pelan tapi pasti Sonya sudah mampu menyingkirkan sekretaris itu dari benak Alex?
Dipenuhi rasa haru yang membuncah, Sonya meletakkan flutte glassnya dipagar balkon, lalu melingkarkan lengannya ke sekeliling leher Alex, sambil memberikan Alex senyum termanisnya, "Aku juga menikmatinya... Sedikit... Lebih banyak kesalnya..."
"Dasar pelit!" ujar Alex sambil terkekeh.
**********
Walau mulutnya bilang Tidak, tapi ternyata Alex mengajaknya juga ke Mount Titlis, ke gunung salju abadi, karena saljunya tidak pernah mencair bahkan dimusim panas sekalipun.
Pemandangan hamparan rumput hijau yang sebagian tertutup salju, yang saat musim semi akan dipenuhi dengan aneka bunga, rumah petani dan peternakan khas Swiss, serta hewan ternaknya yang sedang merumput, dengan latar belakang pegunungan yang ditutupi salju, memanjakan mata Sonya di sepanjang perjalanan menuju Mount Titlis, pemandangan yang terlihat seperti surga.
Untuk sampai ke puncak mereka harus menaiki Cable Car terlebih dahulu, atap rumah-rumah penduduk yang tertutup salju menjadi pemandangan awal dari Cable Car ini. Semakin tinggi semakin indah pula pemandangannya, danau yang di kelilingi pegunungan salju, dan juga pohon-pohon pinus yang sebagian daunnya ditutupi salju.
__ADS_1
Setelah itu mereka turun dan berganti naik The Rotair Revolving Cable Car untuk naik ke puncak yang lebih tinggi lagi. Cable Car pertama di dunia yang bisa berputar 360 derajat, jadi hanya berdiri di satu tempat, Sonya bisa melihat keseluruhan panorama pegunungan salju itu.
Sampai akhirnya mereka sampai di puncak tertinggi Swiss, salah satu puncak pegunungan Alpen. Saat ini suhunya minus sebelas derajat, dan jangan ditanya lagi, Sonya benar-benar merasa kedinginan, bahkan kalau tangan Alex menggenggamnya sekalipun, Sonya tidak yakin itu bisa menghangatkannya.
Sebenarnya kalau hanya udara dingin saja tidak masalah, tapi begitu angin besar lewat, dinginnya benar-benar mampu menembus jaket tebal dan T-Shirt heattechnya. Hingga membuat ngilu sampai ke tulang-tulang.
"Di kawasan Mt Titlis ini hanya dikenal satu musim, yaitu musim dingin saja. Puncak gunungnya terbentuk dari hujan salju yang tidak terkena panas sama sekali. Sehingga saljunya mengeras hingga menjadi gunungan es yang menjulang." jelas Alex.
"Aku mau kesana..." seru Sonya menunjuk ke arah Titlis Cliff Walk.
"Kamu yakin kuat berada di tengah-tengah jembatan itu Son? Angin sedang berhembus kencang, dan jembatan itu akan berayun-ayun..." tanya Alex, "Sekarang saja kamu nyaris membeku." tambah Alex sambil merapikan letak hood jaket Parkanya yang berhias bulu di kepala Sonya.
"Terdengar mengerikan... Lalu kita hanya berdiri di sini saja?" tanya Sonya, dengan gigi gemeletuk dan pipi yang gemeteran.
Lalu mengalihkan perhatiannya ke hamparan salju yang mengeras dan terlihat seperti berlapis-lapis itu.
"Makan ice cream..." usul Alex sambil tersenyum lebar.
Sonya mengkerutkan keningnya, "Apa kamu sudah gila Lex? Makan ice cream dingin-dingin begini?"
"Why not?!" seru Alex sambil mengangkat bahunya, kemudian menarik tangan Sonya masuk ke dalam ruangan lagi, "Kamu pasti akan menikmatinya..." lanjut Alex.
Langkah Alex terhenti di sebuah toko jam Swiss yang sangat terkenal itu, jam yang luar biasa mahal dan tidak dijual di luar Swiss. Alex memilih satu jam dan memasangkannya di lengan kanan Sonya.
"Cocok untukmu..." gumam Alex.
"Lex ini tidak perlu, harganya mahal sekali Lex..." protes Sonya tapi Alex mengabaikannya, dan menyerahkan kartunya untuk pembayaran.
"Ayo kita beli ice cream..." serunya sambil menarik tangan Sonya.
__ADS_1