Mengejar Cinta Alex

Mengejar Cinta Alex
Anindira #2


__ADS_3

Keesokan paginya Alex sudah mendarat kembali di tanah air, Alex memutuskan akan mengunjungi makam Anindira terlebih dahulu, sebelum memberi laporan ke Hardhan dan menjenguk papa mertuanya.


Dengan satu buket besar bunga mawar merah kesukaan Anindira, Alex melangkah mantap mendekati makam Anindira, dan menatap sedih ke makam kekasihnya itu, yang berada di area pemakaman eksklusif.


"Aku sangat menyesal Ra... Menyesal karena tidak menemanimu malam itu. Tidak terpikirkan olehku dan boss kalau Karina akan mengajakmu ke sebuah Club, untuk menemui sugar daddynya, yang akhirnya membuatmu seperti ini..."


"Ra..., aku dan kakakmu sudah berhasil menjebloskan semua yang menyakitimu... yang menyebabkan kematianmu itu ke penjara..." desah Alex lirih sambil mengusap nisan Anindira, menyentuh nama yang terukir di sana, dan membayangkan kepala Anindira lah yang sedang Alex sentuh, yang sedang Alex belai.


"Ra... Aku sangat rindu sama kamu Ra... Aku rindu gelak tawamu, candamu, keusilanmu, suara manjamu... Bahkan aku rindu kecemburuanmu Ra..."


Alex tidak dapat membendung air matanya lagi, "Sudah bertahun-tahun Ra... Tapi kejadian itu seperti baru terjadi kemarin, seperti baru kemarin aku memelukmu untuk yang terakhir kali... Membasahi pakaianku dengan darahmu..."


Ingatan Alex kembali ke saat itu, saat dirinya mendapat kabar dari Karina kalau Anindira tertabrak mobil saat mengejar seseorang yang menjambret tasnya.


Tanpa pikir panjang lagi Alex dan Hardhan bergegas lari ke lokasi yang tidak jauh dari Penthouse Hardhan. Dan sudah banyak kerumunan di sekitar sana.


Dan tanpa mempedulikan Hardhan lagi, Alex menerobos masuk ke kerumunan itu, dan dunianya seakan hancur berkeping-keping, jantungnya terasa terhenti dan nafasnya tercekat saat melihat Anindira yang sudah terkapar dengan genangan darah di sekitar tubuhnya.


"Anindiraaaaa....!!!" teriak Alex histeris lalu memeluk Anindira, setelah sebelumnya menyingkirkan petugas yang mencoba mencegahnya mendekat.


Sambil menangis histeris Alex terus memeluk dan menciumi Anindira, "Bangun sayang... Anindira bangun..." isaknya sambil menggoyang-goyangkan badan Anindira, punggung Alex bergetar dengan tangisannya.

__ADS_1


"Anindiraaaa..." isak Alex pilu sambil menepuk-nepuk pipi Anindira, meninggalkan bekas darah di pipi pucatnya, "Sayang... bangun... jangan tinggalkan aku..."


Alex kembali memeluk Anindira, punggungnya bergerak maju mundur, "Tuhan... Tolong jangan ambil dia Tuhan... Jangan ambil nyawa Rara Tuhan... Tolong selamatkan dia..." rintihnya pilu.


Sampai ambulance datang dan Hardhan menepuk pundak Alex, "Kita harus segera membawanya ke rumah sakit Lex..." seru Hardhan.


Alex dan Hardhan ikut masuk ke dalam ambulance, mereka mengikuti dari belakang saat Anindira di bawa ke ruang resusitasi, dan menunggu dengan tidak tenang saat dokter memeriksa Anindira.


Hardhan sama kacaunya dengan Alex, berkali-kali Hardhan meninju dinding rumah sakit, merasa menyesal karena mengizinkan adiknya pergi tanpa pengawasannya.


Bertahanlah Ra.... Please... Jangan tinggalkan aku seperti ini... Pinta Alex dalam hati.


Ra... Aku tidak akan pernah sanggup melalui hari-hariku tanpamu Ra... Kamu tidak ingin melihatku sedih kan Ra...? Makanya kamu harus bertahan... Kalau kamu benar-benar sayang dan mencintaiku kamu harus kuat Ra... Kamu harus bertahan... Setelah ini aku akan mengakui semuanya ke Hardhan dan Mama kalau kita saling mencintai... Aku tidak peduli walau harus menghadapi amarah Hardhan sekalipun...!


Saat mereka masuk dan melihat tubuh Anindira terbujur tak bernyawa, Hardhan langsung menangis histeris, sama histerisnya seperti Alex tadi. Hardhan memeluk dan menggoyang-goyangkan tubuh Anindira seperti Alex tadi. Alex seperti merasa melihat dirinya sendiri yang melakukan itu alih-alih Hardhan.


Alex menatap Anindira dengan tatapan kosong, benar-benar kosong dan hampa, benar-benar terpana tidak percaya dengan kenyataan pahit yang ada di depan matanya itu.


Kalau tadi Alex merasa dunianya hancur berkeping-keping, saat ini Alex merasa dunianya sudah mati. Dunianya berubah menjadi bisu dan sunyi. Tidak ada teriakan histeris, tidak ada setetes pun air mata yang keluar dari matanya, seolah semuanya sudah membeku.


Hatinya benar-benar sudah mati, bersamaan dengan kematian kekasihnya, cinta pertamanya. Bersamaan dengan duka nestapa yang Anindira tinggalkan untuknya, serta penyesalan-penyesalan Alex yang menyertainya.

__ADS_1


Hari itu juga jenazah Anindira diterbangkan ke tanah air. Alex ikut turun dan mengangkat jenazah Anindira ke liang lahat, menyentuh kekasih hatinya untuk yang terakhir kalinya, lalu kembali naik ke atas, dan memeluk mama yang masih terisak sedih. Hardhan masih membantu menutupi jenazah Anindira dengan kayu.


"Anindiraaaa...." isak mama di pelukan Alex, Alex menepuk-nepuk punggung mama yang sudah mengadopsinya dan memberikan kehidupan yang layak untuk Alex.


"Yang sabar Ma... Anindira pasti sedih kalau melihat Mama seperti ini..." bujuk Alex menenangkan, lalu mencium kening mama.


"Anindira masih muda Lex... Jalannya masih panjang..." isak mama lagi.


Dua hari setelah pemakaman, Alex memutuskan untuk pindah dari rumah Hardhan, sekuat apapun Alex berusaha bertahan tinggal di rumah itu semuanya tetap sia-sia. Karena tiap sudut rumah itu selalu mengingatkannya dengan Anindira.


Anindira yang selalu ceria, yang selalu berlari ke arah Alex dan memeluknya terlebih dahulu sebelum memeluk Hardhan ketika mereka pulang dari kantor. Celotehannya yang tiada henti, gelak tawanya yang mengisi keceriaan di rumah besar itu.


Alex selalu teringat saat Anindira menariknya dan mencari tempat persembunyian untuk mereka berdua, hanya untuk berbagi cerita tentang Anindira yang selalu ingin menjadi dokter sepsialis anak dan juga mengkhayalkan masa depan mereka.


Atau saat Anindira cemburu ketika Alex membawa sekretarisnya ke rumah untuk mengerjakan proyek baru yang baru saja berhasil Alex dan Hardhan dapatkan. Anindira cemburu karena Alex duduk terlalu dekat dengan sekretarisnya.


Walau Mama dan Hardhan melarang Alex pindah, Alex terus membujuk mereka, dengan alasan ingin belajar hidup mandiri.


Dan sejak kematian Anindira, Alex tidak pernah memiliki sekretaris lagi, Alex jarang duduk lagi di belakang meja Executive Directornya. Jabatan yang sebenarnya ia pegang. Alex adalah orang terpenting nomor dua setelah Hardhan, tapi itu semua percuma kalau tidak ada Anindira di sisinya. Alex berusaha keras mencapai posisi itu hanya untuk Anindira, untuk membuktikan bahwa dirinya layak mendapatkan Anindira.


Alex menggelengkan kepalanya menghapus kenangan masa lalunya itu, dan kembali menatap batu nisan Anindira, menyusuri jari tangannya di ukiran namanya.

__ADS_1


"Ra aku sudah menikah sekarang, tapi itu aku lakukan hanya untuk memenuhi keinginan kakakmu. Untungnya wanita itu membenciku Ra... Dan aku akan selalu memastikan wanita itu untuk terus membenciku... Karena kalau sampai dia sedikit saja menyukaiku... Aku akan meninggalkanya Ra..."


__ADS_2