
Sam duduk di samping Sonya yang sedang duduk termenung sendiri di depan ruang operasi, Hardhan memintanya untuk ikut mengawasi proses pemasangan ring papa Sonya, dengan semua biayanya Hardhan yang menanggungnya.
"Tidak perlu khawatir, Papamu akan baik-baik saja" katanya menenangkan Sonya sambil menepuk-nepuk punggungnya.
"Hanya Papa sekarang yang aku punya... Aku tidak bisa membayangkan hidupku tanpanya..." desah Sonya lirih.
Apa Alex tidak masuk hitungan? Dan dimana Alex saat ini...?
gumam Sam dalam hati.
"Sonya..., ini termasuk prosedur non bedah, bahkan Papamu bisa langsung pulang setelah pemasangan ring berhasil. Kau berdoa saja semoga ringnya bisa terpasang. Yaa..." Sam kembali menenangkan Sonya.
Sejurus kemudian Dokter Daniel keluar dari ruang operasi, Sam dan Sonya langsung bergegas menghampirinya, "Bagaimana Niel...?" tanya Sam.
"Setelah kami menjalani proses kateterisasi jantung, penyumbatan pembuluh arteri tidak bisa di tangani dengan ring..., dan terdapat lebih dari satu pembuluh darah yang mengalami penyempitan, sehingga bilik jantung kiri tidak berfungsi secar normal." jelas Dokter Daniel.
"Ya Tuhan..." pekik Sonya, air mata langsung menetes ke pipinya.
"Jadi kalau Anda mengizinkan, kami akan melakukan operasi bypass jantung pada Bapak Bramanta. Hanya saja resiko pasca operasi akan lebih tinggi, selain karena sudah lansia, sebelumnya Bapak Bramanta baru saja mengalami serangan jantung, walau masih tahap ringan." lanjut dokter Daniel.
Sonya menatap Sam, karena ia benar-benar bimbang untuk mengambil keputusan. Menyetujui operasi dengan resiko komplikasi itu, atau tidak.
"Siapa Dokter bedah jantung yang akan menanganinya...?" tanya Sam pada Daniel.
"Dokter Albert." jawab dokter Daniel.
Sam meraih tangan Sonya dan menepuk-nepuknya sambil menatap penuh mata Sonya, "Dokter Albert sudah sangat ahli melakukannya, lakukan saja operasi itu, demi menyelamatkan Papamu..." bujuknya lembut dengan nada menenangkan.
Sonya mengangguk, "Kalau memang itu yang terbaik lakukan saja Dok..."
Semoga aku tidak menyesali keputusanku.
Setelah mengangguk, Dokter Daniel kembali masuk ke ruang operasi. Sam merangkul bahu Sonya, menuntunnya kembali ke tempat duduk yang tadi mereka tempati.
__ADS_1
"Proses operasi ini bisa memakan waktu tiga sampai enam jam. Dan sudah waktunya makan siang... Kau mau kutemani ke kafe dulu untuk makan...?" ujar Sam.
"Aku tidak mau meninggalkan papa..." desah Sonya.
"Kau mau aku menggantikanmu di sini selama kau makan siang...?" tanya Sam lembut.
Sonya menggeleng, "Tidak perlu Dokter Sam, saya belum lapar..." tolak Sonya.
"Baiklah kalau begitu... Boleh pinjam handphonemu...?" tanya Sam.
Tanpa banyak tanya Sonya langsung menyerahkan handphonenya ke Sam. Pikirannya sedang dipenuhi dengan kekhawatiran tentang operasi papanya.
"Jangan sungkan-sungkan menghubungiku jika kau butuh sesuatu..." seru Sam sambil menyerahkan kembali handphone Sonya yang tadi ia pinjam.
Sonya mengangguk sambil melihat nama Sam dan nomor handphonenya yang sudah tersimpan di daftar kontaknya.
"Ya sudah saya permisi dulu yaa..." pamit Sam, sekali lagi Sonya mengangguk.
Tangis yang Sonya tahan sejak Dokter Daniel keluar tadi pecah setelah Sam sudah menjauh darinya.
Hari ini Hardhan memutuskan untuk tidak ke kantor, ia tidak ingin jauh dari istrinya yang baru saja hamil. Jadi Alex memutuskan ia juga tidak akan ke kantor hari ini, Alex akan ke Rumah Sakit untuk menjenguk mertuanya.
Alex membuka ruang rawat mertuanya tetapi hanya mendapati ruangan itu kosong. Alex mengkerutkan kening merasa bingung, seharusnya mertuanya sudah kembali ke kamar ini, karena proses pemasangan ring hanya memakan waktu setengah jam.
Alex mencoba menghubungi Sonya, tapi tidak diangkat, akhirnya ia melangkahkan kakinya ke ruang operasi, berpikir mungkin operasinya di undur.
Dari kejauhan Alex melihat Sonya yang sedang duduk di kursi depan ruang operasi, dengan kepala yang tertunduk.
Apa wanita itu tertidur...?
Semakin mendekat, semakin Alex melihat tubuh Sonya yang bergetar karena tangisannya, yang mulai terdengar di telinga Alex.
"Kenapa kau menangis...?" tanya Alex sambil duduk di sebelah Sonya.
__ADS_1
"Papa... operasi bypass jantung... Hiks." kepala Sonya tertunduk sangat rendah, bahkan nyaris mencapai dadanya sehingga Alex nyaris tidak mendengar perkataannya.
Dengan canggung, Alex menepuk-nepuk punggung Sonya, biasanya Alex melihat Hardhan melakukan itu jika sedang menenangkan istrinya yang sedang sedih, seperti Sonya saat ini.
"Tinggalkan aku sendiri..." ujar Sonya, berusaha agar suaranya tidak terdengar tercekat.
Tapi Alex tidak ingin meninggalkannya, Alex merasakan dorongan yang timbul di dalam dirinya, untuk menarik Sonya ke dalam pelukannya, dan membiarkan Sonya menangis di bahunya.
Dan ketika akal sehatnya kembali, Sonya sudah berada di dalam pelukannya, mengeluarkan semua kesedihannya di dada Alex, hingga air matanya membasahi jas dan kemeja Alex.
Alex menghela nafas pelan, ia masih merasa terkejut dengan apa yang sudah ia lakukan barusan, membawa Sonya yang menangis ke pelukannya, dan sekarang sudah terlambat untuk Alex mendorong tubuh Sonya agar menjauh darinya.
Masih dengan gerakan canggung, tangan kanan Alex menepuk-nepuk punggung Sonya, sedang tangan kirinya mengelus rambutnya.
Lalu rasa itu datang lagi, rasa yang meninggalkan sakit yang teramat sangat kepada Alex, hingga membuat tubuh Alex seketika membeku. Hanya sedikit akal sehatnya yang tersisa saja yang mampu membuat Alex tetap diam, dan tidak mendorong tubuh Sonya saat itu juga.
Perlahan Sonya berubah santai di dalam pelukan Alex, badannya tidak bergetar lagi karena tangisannya, ia sudah berhenti menangis. Lalu Sonya menjauhkan tubuhnya perlahan dari Alex dan kembali duduk tegak.
"Ma... Maaf sudah membasahi kemeja dan jasmu..." kata Sonya muram.
"Bukan masalah besar, selama itu bisa membuatmu lebih tenang." sahut Alex malas, lalu beranjak berdiri dari kursinya.
"Kata Dokter Daniel tadi, karena satu dan lain hal, kemungkinan komplikasi pasca operasi pada Papa lebih besar lagi... Dan itu membuatku khawatir." desah Sonya lirih.
Alex kembali duduk ke kursinya, "Apapun hasilnya nanti, yang penting kau sudah melakukan yang terbaik untuk Papa. Manusia hanya bisa berusaha, tapi Tuhan lah yang menentukan."
Sonya kembali menunduk, "Iya aku tahu..., aku hanya belum siap kehilangan Papa..." desahnya sambil memainkan kuku-kuku jari tangannya.
"Sonya, manusia terlahir dengan satu cara, namun kematian menjemput dengan berbagai cara. Mau tidak mau, suka tidak suka, kita harus menghadapi itu." tegas Alex, "Yang terpenting adalah, apa kau sudah melakukan yang terbaik untuk orang yang kau sayangi selama hidupnya." lanjut Alex dingin.
Sebelum kau terlambat untuk melakukannya...
gumam Alex dalam hati.
__ADS_1
"Aku tidak tahu kau sudah sampai sini Lex, jadi aku hanya membawa makan siang untuk Sonya..." seru Sam tiba-tiba.
Alex langsung berdiri dan menepuk pundak Sam, "Tidak apa-apa Sam, dan pastikan Sonya memakannya, karena pagi tadi dia tidak sempat sarapan." sahut Alex, lalu beranjak pergi meninggalkan mereka berdua.