
"Aku ingin kamu jujur Lex... Kamu sudah mulai mencintaiku kan? Kamu hanya merasa takut karena sudah membagi cinta Anindira denganku... Kamu hanya merasa bersalah dengan Anindira iya kan? Kamu hanya tidak ingin mengakuinya..." cecar Sonya.
"Ini bukan hanya tentang Anindira sialan!!"
"Lalu apa? Akui saja kamu memang sudah mulai mencintaiku... Kalau tidak kamu tidak akan terus menyebut namaku saat kamu mabuk! Kamu menganggap percintaan kita tadi hanya mimpi kan? Yang berarti kamu sering memimpikanku... Kalau bukan cinta lalu apa namanya?" tanya Sonya.
Sonya menunggu jawaban Alex dengan rasa takut dan harapan yang membaur menjadi satu di dalam dadanya.
"Nafsu... Itu hanya sekedar nafsu belaka Son... Kau jangan berharap terlalu tinggi..." jawab Alex dingin, pertanyaan-pertanyaan Sonya benar-benar mengganggu pikirannya.
"Jadi dalam kata lain, aku hanyalah pemuas nafsumu?!" geram Sonya menahan marahnya dengan menggertakkan giginya.
"Bisa dibilang seperti itu... Kalau mau jujur kau juga menikmatinya... Ya kan?"
Mata Sonya yang menyiratkan kemarahan membelalak lebar, Sonya mengambil gelas bordeauxnya yang masih terisi red wine, dan langsung menuangkan cairan itu ke atas kepala Alex, membuat mata Alex membelalak lebar dengan sorot marah.
"Kau..."
Sonya menatap langsung ke mata Alex, matanya bertemu dengan mata Alex, sama sekali tidak menyembunyikan kesedihannya yang mendalam,
"Aku punya hati untuk mencintai dan di cintai... Hatiku sudah ku berikan untukmu Lex... Untuk kamu cintai dan kamu sayangi... Bukan untuk kamu buang dan kamu sia-siakan..." seru Sonya dengan suara bergetar dan tercekat karena menahan air matanya.
Sonya turun dari bar stool dan beranjak pergi meninggalkan Alex.
"Sonya..." panggil Alex, suaranya terdengar lembut mengingat amarah yang sedang berkecamuk di dalam dadanya karena Sonya sudah menyiramnya.
"Anggap aku juga sudah mati untukmu... Mulai sekarang aku akan membunuh semua perasaanku untukmu... Agar aku juga bisa menganggapmu sudah mati... Tapi tidak sepertimu... Aku tidak akan berduka untuk waktu yang lama karena sudah kehilanganmu... Hidup terlalu singkat jika hanya dihabiskan untuk meratapi diri karena patah hati..."
Sonya menguatkan dirinya sendiri, bahunya menegang seolah sedang memikul beban berat. Ia menghela nafas sebelum menambahkan,
"Dan hidup harus tetap berjalan... Aku akan membuka hatiku kembali untuk menemukan cinta yang baru... Aku pastikan aku tetap akan bisa bahagia dengan atau tanpamu..." tegas Sonya tanpa membalikkan badannya lalu bergegas masuk ke kamarnya dan langsung mengunci pintunya.
__ADS_1
Sonya bersandar di balik pintunya, air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya tidak terbendung lagi, ia nangis sambil sesengukan, kakinya melemas dan badannya merosot hingga ia terduduk di lantai.
"Cukup... Aku tidak sanggup lagi menghadapinya... Aku menyerah... Papa pasti tidak akan menyalahkanku karena aku sudah berusaha... Aku sudah berusaha sebisa mungkin untuk mempertahankan rumah tanggaku... Menahan rasa sakit hatiku karena pengabaian Alex... Karena kata-katanya yang menyakitkan.... Tapi aku tidak bisa bertahan dan hanya diam saja ketika ia hanya menganggapku sekedar pemuas nafsunya... Itu sama saja dengan menganggapku p*lac*r...." isaknya.
Sonya memejamkan matanya, kata-kata Ryo di pulau itu kembali terngiang-ngiang di telinganya, " Kamu benar Ryo... Untuk apa aku berjuang untuk orang yang bahkan tidak pernah mau di perjuangkan... Sejak aku menyatakan cintaku padanya aku memang hanya memiliki dua pilihan, bertahan atau melepaskan... Yang tidak aku ketahui adalah... Keduanya sama-sama butuh kekuatan..."
Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang? Kalau bertahan hatiku akan terus tersakiti... Sedang melepaskan membuat hatiku terluka...
"Papa... Kei... Aku butuh kalian..." isak Sonya sambil memeluk kedua lututnya, dan menangis tersedu-sedu.
Alex mendengar tangisan pilu Sonya dari balik pintu, ia mengetuk pintu dan ingin membukanya tapi terkunci.
"Sonya... Buka Son!!" teriak Alex sambil menggedor-gedor pintu.
Hatinya seperti tercabik-cabik mendengar tangisan pilu Sonya.
"Pergilah Lex... Menjauhlah dariku!! Kau janji kau akan pergi jika aku memintamu pergi... Sekarang aku menagih janjimu itu Lex... Pergilah dan menjauhlah dariku!!!!" teriak Sonya dengan suara tercekat karena tangisnya.
"Kalau begitu aku yang pergi!!" teriak Sonya lagi.
"Kau juga tidak boleh pergi dariku!!" raung Alex.
"Aku tidak sudi jika hanya kamu jadikan pemuas nafsumu... Kamu cari saja pemuas nafsumu yang lain!! Sekretarismu mungkin!!"
"Aku tidak menginginkan wanita lain... Aku hanya menginginkanmu!!"
"Anindira bukan wanita lain?" cibir Sonya sambil membersitkan hidungnya dengan tissue.
"Wanita yang masih bernafas sialan!! Kau tahu betul kan maksudku?"
"Tidak... Aku tidak tahu!! Aku juga tidak tahu apa maumu sebenarnya?!! Yang aku tahu kamu sudah menyakitiku!!"
__ADS_1
Sonya langsung bangun dan beranjak ke lemari pakaiannya, lalu memasukkan baju-bajunya sampai memenuhi koper, baju yang ia beli dengan uangnya sendiri, bukan baju pemberian Alex.
Sonya mengelus lembut cincin yang sudah berbulan-bulan ini melingkari jari manisnya, sebelum akhirnya Sonya melepasnya dan meletakkannya di atas meja nakas.
"Ini cincin keluargamu Lex... Wanita yang kamu cintai nanti lah yang lebih berhak untuk mengenakannya bukan aku..." gumam Sonya sambil berlinangan air mata.
Sonya memandang sekali lagi setiap sudut kamar ini, kenangan-kenangan yang telah ia lalui bersama Alex entah itu suka dan duka, pahit dan manis, semua berkelibat menjadi satu di dalam pikirannya.
Sambil menghela nafas panjang dan menenangkan dirinya, Sonya menarik koper di tangan kanannya dan juga koper yang ia bawa saat ke kota X di tangan kirinya.
"Kau mau kemana?" tanya Alex ketika Sonya membuka pintu kamarnya sambil menarik koper.
"Ke rumah papa..." jawab Sonya
"Kamu tidak bisa pergi begitu saja Son... Kita harus menyelesaikan masalah kita terlebih dahulu!" seru Alex.
"Masalah kita sudah selesai Lex... Saat kamu hanya menganggapku sebagai pemuas nafsumu!!"
Sonya kembali melangkah dan lagi-lagi tangan Alex menahannya, "Aku tidak sepenuhnya menganggapmu seperti itu Son..."
Sonya melotot ke Alex, "Tidak sepenuhnya? Apa sebagiannya itu cinta?" tanya Sonya dan Alex hanya terdiam.
"Berarti bukan... Maka penuhi janjimu Lex... Tinggalkan aku dan jangan ganggu aku lagi...Biarkan aku pergi!" seru Sonya sambil menepis tangan Alex, dan melanjutkan lagi langkah kakinya keluar dari Apartment Alex.
"Sonya... Dengarkan aku dulu... Aku..."
"Stop!!" potong Sonya, nada suaranya terdengar tajam dan defensif. Ia tidak ingin mendengar alasan Alex lagi yang hanya akan menambah perih luka hatinya.
"Saat kamu mabuk aku mendengar berkali-kali kamu merindukanku... Jika suatu saat kamu merindukanku lagi... Tidak perlu kamu mabuk-mabukan lagi... Carilah aku di dasar hatimu yang paling dalam... Apakah ada aku atau tidak di dalam sana... Mungkin selama ini aku sudah ada, hanya saja aku tertindih dan tersisih di antara dia yang paling kamu cintai... Kalaupun ternyata tidak ada... Kamu bisa mulai bernafas lega dan kembali merindukan Anindiramu dan melupakan aku..."
Tegas Sonya tanpa membalikkan badan sebelum akhirnya bergegas keluar dari Apartment Alex, dan mengabaikan Alex sepenuhnya yang berteriak di belakangnya, memanggil-manggil namanya.
__ADS_1
Pada akhirnya yang bertahan akan lelah, dan yang berjuang akan melepaskan...