
"Apa kamu tidak ingin mencoba mencintaiku lagi...?" tanya Alex dengan nada kecewa.
"Ohh... Aku akan mencoba memanahmu lagi seperti cupid... Tapi bukan untuk memanah hatimu... Kepalamu lah yang menjadi targetku sekarang...!!" rutuk Sonya.
“Silahkan bidik kepalaku kalau itu bisa membuatmu puas dan memaafkanku Son... Asal kamu tahu lima minggu ini aku benar-benar tersiksa karenamu... Aku selalu merindukanmu... Dan Apartment terasa hampa tanpamu... Ketika kamu pergi dariku aku baru menyadari betapa berartinya kamu untukku...” jelas Alex.
“Omong kosong... Kamu hanya kehilangan pemuas nafsumu saja... Iya kan...?” cibir Sonya.
“Kalau hanya sekedar pemuas nafsuku Son... Percayalah..., kalau aku mau aku hanya tinggal tunjuk saja wanita yang aku inginkan... Aku tidak perlu repot-repot menyeberangi benua hanya untuk mencarimu... Aku ke Milan kamu ke Lake Como... Aku kesana kamu sudah menghilang... Kamu tahu betapa khawatirnya aku saat itu...? Aku sudah seperti orang gila saat aku menyusuri tiap sudut kota-kota itu...”
Sonya menatap mata Alex lekat-lekat, “Lalu apa alasanmu mencariku...?” tanyanya.
Karena aku sudah sadar kalau aku ternyata sudah jatuh cinta padamu... jawab Alex dalam hatinya, tapi kata-kata itu sulit sekali keluar dari mulutnya.
Sonya kembali mengalihkan pandangannya ke tempat lain, “Sudah tidak perlu di jawab... Lagipula percuma karena aku sudah berhasil membunuh semua perasaanku padamu...!”
“Apa semudah itu kamu melupakan semua perasaanmu padaku Son...?" tanya Alex.
"Jangan pernah menanyakan perasaanku...!! Kalau kamu sendiri masih terus dihantui masa lalumu itu...!! Kamu tidak bisa berpaling dari masa lalumu Lex... Itulah yang menjadi akar masalahnya...!!" desis Sonya.
"Aku juga tidak menginginkan ini Son... Tidak mudah melupakan masa lalu, terlebih lagi masa lalu yang membuatku trauma... Tapi sekarang...."
"Aku tahu itu membuatmu trauma sampai kamu jadi introvert seperti itu...!! Lalu untuk apa kamu datang sekarang...?! Untuk apa kamu mendatangiku lagi...?!” desak Sonya dengan tidak sabar memotong perkataan Alex.
"Aku merindukanmu Son..."
Sonya melepas rangkulannya dari leher Alex, tangannya terkulai lemas di kedua sisi badannya,
“Kamu tahu Lex... Kita tidak bisa terus begini... Kita hanya akan saling menyakiti... Lebih baik sekarang kamu pergi... Karena saat ini pintu hatiku sudah tertutup untukmu..." desah Sonya lirih, lalu menepis tangan Alex dari pinggangnya dan melepaskan diri dari pelukan Alex kemudian lari menaiki tangga ke lantai atas.
__ADS_1
“Sonya jangan lari... Hati-hati...!!” teriak pria yang tadi dansa dengan Sonya, dan langsung menyusul Sonya ke lantai atas.
Kening Alex mengkerut, alisnya nyaris menyatu membentuk garis lurus,
*Apa pria itu pacar barunya Sonya...? Kenapa lancang sekali dia naik ke lantai dua tanpa izin..., pemilik rumah...!! *Geram Alex dalam hati.
Membayangkan pria itu akan menghibur Sonya, apalagi membawa Sonya kepelukannya, membuat amarah Alex kembali naik, dengan nafas kesal Alex bermaksud menyusul Sonya ke atas tapi seseorang menahan tangannya,
“Biarkan Sonya menenangkan diri... Sebaiknya kau tinggalkan rumah ini sekarang... Kau boleh kembali lagi besok... Itupun kalau Sonya mau menemuimu...” seru Oma.
Alex menepis tangan Oma, lalu menatapnya tajam, “Siapa pria yang tadi mengikuti Sonya ke lantai atas...?” tanya Alex kesal.
“Dia cucu keponakanku... Kim Joon-Tae, sepupumu...”
*Sepupu...? *
Alex menyipitkan matanya, “Apa dia tinggal di sini...?”
“Apa dia Alex... Anaknya Youra...?” tanya seorang wanita tua sekitar enam puluh tahunan.
“Yah benar dia Alex kita... Alex perkenalkan ini tantemu... Mamanya Joon-Tae...” seru Oma.
“Saya permisi dulu...” ujar Alex dan langsung beranjak pergi meninggalkan mereka.
Nenek... Sepupu... Lalu tante... Banyak sekali perubahan dalam hidupku... Dimana mereka saat mamaku diusir...? Aku tidak membutuhkan mereka... Aku hanya ingin Sonya... Wanita bar-barku...!!
Setelah Alex keluar dari mansion, ia mendongak ke lantai atas, berusaha menerka-nerka kamar Sonya, kalau harus manjat ke balkon kamar Sonya saat itu juga Alex rela.
Tapi begitu banyak kamar, dan Alex tidak bisa bertanya ke pengawal neneknya, karena Alex memang tidak ingin mempelajari bahasa negara asal mamanya itu.
__ADS_1
Lalu Alex melihatnya, sambil menangis Sonya keluar ke balkon kamarnya, dan Joon-Tae meletakkan kedua tangannya di pundak Sonya, berusaha menenangkan Sonya.
Melihat mereka seperti itu membuat hati Alex seperti teriris sembilu, rasanya benar-benar menyakitkan. Sama menyakitkannya seperti saat Alex berpura-pura tegar selama di persidangan cerainya dengan Sonya.
Alex berusaha sekuat tenaga untuk tidak berdiri di depan Sonya, dan menggoyang-goyangkan bahu Sonya supaya wanita itu sadar, dan membatalkan tuntutan perceraiannya.
Yah, saat itu Alex tidak memiliki pilihan lain selain melepaskan Sonya, hal terbodoh yang pernah ia lakukan dalam hidupnya. Dengan angkuhnya ia percaya kalau hidupnya akan baik-baik saja tanpa Sonya, dan Alex bisa menikmati lagi kesendiriannya.
Tapi ternyata semua itu salah... Karena baru berapa hari saja tanpa Sonya di sisinya, membuat Alex merasa kehilangan, merasa hampa, membuatnya malas melakukan aktifitas apapun. Dan disitulah Alex tersadar, bahwa ia tidak bisa hidup tanpa Sonya.
Alex kembali menatap Sonya yang kini sedang sendirian di balkon, matanya memandangi bulan purnama yang bersinar terang, entah apa yang sedang berkecamuk di dalam pikirannya sampai ia sesekali menghapus air mata dari pipinya.
‘Aku punya hati untuk mencintai dan di cintai... Hatiku sudah ku berikan untukmu Lex... Untuk kamu cintai dan kamu sayangi... Bukan untuk kamu buang dan kamu sia-siakan.’
Kata-kata Sonya kembali terngiang-terngiang di telinganya, seolah-olah Sonya sedang membisikkannya langsung ke Alex.
Tuhan... Apa aku sudah benar-benar menyakiti hatinya...? Andai ia tahu... Hatiku pun sudah separuh jalan ke arahnya...
Dia hadir di duniaku yang terlihat sepi dan membosankan... Dan tanpa kami sadari dia sudah menjadi obat untukku, membalut luka hatiku yang terlalu dalam, dan menarikku keluar dari keterpurukanku...
Awalnya aku takut membuka hati... Aku takut jika kelak terluka lagi dan tidak akan bisa terobati lagi...
Tapi sekarang... hatiku sudah tidak terpenjara lagi oleh luka itu, kamu yang sudah melepasnya Sonya... Kamu yang menyadarkanku bahwa hati ini juga berhak bahagia... Kamulah pemegang kunci hatiku yang baru... Kamulah calon pemilik hatiku... Aku hanya sedang membiasakan diriku dengan cinta yang baru...
Mencintai kadang memang harus menunggu...
Menunggu orang yang tepat...
Menunggu jalan terbuka agar tidak tersesat...
__ADS_1
Dan Hardhan benar... Hanya ada dua hal dalam hidup ini, cinta dan kematian... Ketika kita siap menerima keduanya, berarti kita siap menghadapi apapun resikonya...
Aku tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkan lagi cintamu Sonya... Mendapatkan lagi kepercayaanmu padaku... Apapun resiko yang akan aku hadapi nanti... Dan aku akan pastikan... Takdir kita memang untuk satu sama lain...