Mengejar Cinta Alex

Mengejar Cinta Alex
Maafkan Papa


__ADS_3

Keputusan tersulit yang harus kamu buat adalah ketika kamu terlalu lelah untuk bertahan, tetapi kamu juga terlalu cinta untuk melepaskan.


Pertanyaannya. Bagaimana ketika aku terlalu lemah untuk bertahan, tetapi terlalu sakit untuk melepaskan. Terkadang, alasannya adalah kuatnya dalam bertahan, tetapi lepaskanlah jika kuatmu tidak lagi dihargai.


—Anonim—


Matahari sudah terbenam, dan dewi malam sudah naik ke singgasananya, meskipun terlihat bersembunyi di balik awan, ketika Sonya sampai di rumah papanya.


Papanya terlihat kaget melihat Sonya datang sambil menarik dua koper besar di belakangnya, yang langsung di ambil alih oleh kedua Mboknya dan langsung membawa koper itu ke kamar Sonya.


"Ada apa sayang?" tanya papanya dengan kening mengkerut karena cemas, menambah jelas gurat-gurat kasar di wajahnya yang sudah menua. Lalu melihat ke belakang Sonya sebelum melangkah keluar pintu, dan balik badan lagi ke arah Sonya.


"Dimana suamimu? Apa kamu keluar rumah atas izinnya?" tanya papa.


Sonya merebahkan badannya di atas sofa panjang, sebelah tangan dan kakinya menjuntai ke lantai, matanya menatap nanar langit-langit ruang tamu papanya, sebelum akhirnya menghembuskan nafas panjang.


"Aku sudah memutuskan akan bercerai dengan Alex Pa..." desah Sonya lirih.


Maaf Papa aku sudah mengecewakanmu.... batin Sonya.


"Ya Tuhan... Ada masalah apa sebenarnya sayang sampai kau memutuskan untuk bercerai?" pekik papanya sambil menghampiri Sonya dan duduk di kursi kecil di atas kepala Sonya.


"Apa Alex menyakitimu?" tanya papa dengan nada penuh khawatir.


"Tidak secara fisik Pa... Tapi batin..." jawab Sonya sambil memejamkan matanya.


"Apa yang sudah Alex lakukan padamu Nak?" tanya papa lagi sambil mengelus rambut anak semata wayangnya itu, lalu menghapus air mata di pipinya kemudian memekik.


"Ya Tuhan... Badanmu panas sekali Sonya..."

__ADS_1


Sonya memegang keningnya, dan benar ia demam, pantas saja seharian ini terasa pegal dan ngilu di seluruh badannya.


"Mungkin hanya masuk angin saja Pa... Aku sudah mulai merasa tidak enak badan setelah snorkeling di pulau kemarin, makanya aku pulang sehari lebih cepat dari jadwal..."


"Sebentar Papa telepon Dokter ya..." seru papanya sambil berdiri tapi Sonya langsung duduk dan menahan lengan papanya.


"Tidak usah Pa... Hanya masuk angin... Nanti aku minta tolong Mbok Yem saja untuk memijatku Pa... Minum obat penurun panas juga sudah hilang kok nanti... Papa tidak perlu khawatir..." kata Sonya menenangkan papanya.


"Kalau besok panasmu tidak turun juga Papa akan telepon dokter..." tegas papanya.


Sonya mengangguk dan meyeringai lebar, "Iya... Aku ke kamar dulu ya Pa... besok baru aku ceritakan ke Papa... Sekarang aku lelah sekali aku ingin istirahat..."


Papanya mengangguk, "Ya sudah istirahatlah..."


"Dan Papa... Aku tidak ingin bertemu dengan Alex. Kalau dia ke sini... Tolong usir dia..." tambah Sonya sebelum naik tangga ke lantai atas.


Sesampainya di kamar Sonya mengambil obat penurun panas dari kotak obatnya, dan langsung meminumnya. Lalu beranjak ke tasnya untuk mengambil pil KB nya, Sonya baru membuka mulutnya ketika akhirnya membatalkan niatnya minum pil itu, dan langsung membuang semua pil itu ke tempat sampah.


Sonya melepas semua bajunya, dan langsung menyelipkan diri ke dalam selimut, entah karena ia yang terlalu lelah lahir dan batin, atau karena ada kandungan obat tidur di dalam obat itu, hingga Sonya langsung tertidur pulas.


**********


Keesokan paginya Sonya sudah tidak demam lagi, hanya saja iya merasa mellow karena ternyata Alex tidak datang ke rumahnya. Bukan berarti Sonya mengharapkan Alex datang, ia hanya merasa benar-benar di abaikan Alex saat ini.


Setelah selesai mandi, Sonya bergegas turun ke lantai bawah menuju dapur, ia melewatkan makan malamnya bahkan makan siangnya, ia terakhir makan saat sarapan pagi kemarin di hotel sebelum menuju bandara.


“Pagi pa...” sapa Sonya sambil mencium kening papanya sebelum duduk di sebelahnya.


Papa menyentuh kening Sonya, “Sudah tidak panas lagi...” gumamnya.

__ADS_1


“Kan sudah aku bilang Pa... Hanya masuk angin saja, jadi Papa tidak perlu khawatir yaa...” sahut Sonya sambil tersenyum lembut.


“Ya sudah makanlah... Mbok Yem sudah masak makanan kesukaanmu itu...”


“Hmm Pa... Kalau aku pindah kantor ke Milan... Papa tidak keberatan kan?” tanya Sonya.


“Kau ingin menjauh dari Alex Nak?” Papanya balik nanya.


“Iya... Sekalian aku menenangkan diri di sana Pa... Aku sangat mencintai kota itu... Yaa walaupun pesta malam tahun barunya penuh kekacauan... Tapi selebihnya baik-baik saja... Tapi Papa tidak perlu khawatir... Aku akan pulang sebulan sekali...” jawab Sonya.


“Memangnya Hardhan bersedia mutasi kamu ke sana?”


“Justru ini saran dari Hardhan Pa... Kemarin sebelum aku ke sini aku mampir dulu ke rumahnya...” jelas Sonya.


Papanya mengangguk setuju, “Ya sudah kalau memang itu yang terbaik untukmu... Kapan kau akan berangkat ke sana?”


Sonya menelan makanannya sebelum menjawab, “Setelah Kei lahiran Pa... Hmm kemungkinan dua minggu lagi...”


“Sonya... Apa kau serius ingin bercerai? Kau sudah memikirkannya matang-matang?”


Aku harus menjawab apa? Tidak mungkin kan aku jawab jujur kalau Alex hanya menganggapku pemuas nafsunya? Orang tua mana yang tidak akan sakit hatinya, apalagi Papa masih dalam tahap pemulihan pasca operasi.


“Pa... Aku tidak akan cerita detailnya ke Papa... Tapi Papa pernah bilang kalau Alex sudah menyakitiku sampai aku tidak tahan lagi dengannya... Papa akan mengizinkanku untuk meninggalkannya... Sekarang aku sudah tidak tahan lagi dengan sikapnya Pa... Aku sudah benar-benar sakit hati... Jadi aku harap Papa mengerti dan tidak membahas lagi apa yang meyebabkan aku memutuskan untuk pisah dengannya...” tegas Sonya.


Papa mendesah pelan, “Hidup memang tak selamanya sempurna... Tidak semua yang kita suka akan menjadi milik kita... Tapi kau bisa selalu bahagia dengan cara yang lain... Papa hanya bisa mendoakanmu Nak... Semoga Tuhan memberikan jalan yang terbaik untukmu... Semoga kau selalu berada dalam lindunganNya... Dimanapun kau berada nantinya...”


Papa menepuk pundak Sonya, “Maafkan Papa... Karena sudah membuatmu seperti ini... Kalau Papa tidak memintamu segera menikah kau tidak akan gegabah memilih suami... Dan kau tidak akan semenderita sekarang... Maafkan Papa Nak...” desahnya lirih, setitik air mata menetes di sudut matanya meski papa langsung menghapusnya supaya Sonya tidak melihatnya.


“Berhenti menyalahkan diri sendiri Pa... Sudah jalan hidupku seperti ini... Dan aku tidak pernah menyalahkan Papa... Aku pun akan melakukan hal yang sama jika aku ada di dalam posisi Papa...”

__ADS_1


Aku tak memilih pergi, kaulah yang membuatku pergi Lex, mendiamkanku saat mencintamu, dan mengabaikanku saat merindukanmu.


__ADS_2