
"Gi apa hari ini kamu jadi berkunjung ke sekolah Tiara?". Tanya nyonya Nat.
"Iya Nat, aku sangat rindu dengannya, tapi aku belum berani kasi tau dia siapa aku sebenarnya".
Hari ini memang tuan Gio ingin berkunjung ke HH School Selain dia donatur tetap di sekolah itu, tuan Gio juga berniat bertemu dengan putri yang baru dia ketahui keberadaanya.
"Aku ikut ya Gi, aku juga rindu dengan gadis cantik itu".
"Kamu yakin mau ikut?"tanya tuan Gio, Nyonya Nat hanya mengangguk.
"Entah kenapa aku merasa setelah dia tau siapa kamu dia akan menjauh dari kita Gi, ingin rasanya aku memeluknya sebelum aku--"
"Sebelum apa Nat, jangan bicara sembarangan kamu, Kita berempat akan hidup bahagia aku yakin mereka berdua akan menerima kita Nat".
Tuan Gio memotong ucapan nyonya Nat, dia merasa yakin kalau istri pertamanya akan menerimanya lagi tapi dia tidak yakin dengan putrinya, karena dia merasa watak sang anak sama dengan wataknya keras kepala.
"Ya sudah kamu siap-siap sana, pihak sekolah juga sudah menunggu kita, aku akan sudah bilang ke kepala sekolah untuk mempertemukan kita dengan Tiara.
Setelah bersiap-siap Tuan Gio dan nyonya Nat berangkat ke sekolah di mana sang anak bersekolah.
.
.
.
"Ya Allah panas banget" Nana mengibas-ngibaskan tangannya ke mukanya.
Sekarang mereka berada di dalam aula sekolah karena tadi sebelum bubar dari upacara pak kepala sekolah memberitahukan kalau akan ada tamu penting yang akan datang ke sekolah.
Khusus anak kelas tiga, karena sebentar lagi mereka akan lulus.
"Memangnya siapa sih tamunya" tanya Nana penasaran.
"Gue juga nggak tau Na, tapi yang gue denger tamu kita ini seorang pebisnis yang sukses di juga donatur tetap di sekolah kita ini selama empat tahun ini".
"Wah masa sih jeng? Berarti kita akan bertemu dengan orang hebat dong" tanya Tiara dia juga sangat penasaran.
"Nggak usah penasaran sayang, aku yakin tamu itu adalah Tuan Gio Andersson karena hanya dia yang jadi donatur di sekolah selama empat tahun ini".
Semua hanya mengangguk mendengar ucapan Rafa.
Tidak lama Kepala sekolah dan beberapa Guru masuk kedalam Aula, dia sana juga terlihat dua orang yang tidak asing lagi di mata mereka karena, mereka berdua biasa muncul di layar televisi, majalah bisnis dan juga koran.
__ADS_1
Tuan Gio dan Nyonya Nat Naik ke atas panggung, mata tuan Gio tidak sengaja bertemu dengan mata indah milik Tiara, Tiara tersenyum sambil menundukkan kepalanya sebentar.
DEG
"Putriku" gumam Tuan Gio yang hanya diam dan terus menatap Tiara.
Nyonya Nat yang melihat suaminya hanya diam pun menggenggam tangannya, tuan Gio kaget dan langsung tersadar.
Tuan Gio mengenal nafas dan merileks kan pikirannya.
Tuan Gio berbicara dengan penuh Wibawa memberikan motifasi bagi anak muda yang mau terjun ke dunia bisnis dengan bersungguh-sungguh.
Semuanya murid bahkan para Guru semua kagum dengan cara Tuan Gio menyampaikan tentang banyak hal di dunia bisnis.
Setelah beberapa saat, Tuan Gio menutup penyampaiannya dengan salam dan segara turun dari podium di ikuti dengan Nyonya Nat dan kepala sekolah.
"Gue tambah kagum deh dengan Om Gio, nanti kamu harus sukses kayak beliau ya Dan".
"Itu pasti sayang tenang saja setelah sukses nanti aku akan meminang dek Nana".
Mendengar perkataan Dani Tiara, Rafa, Ajeng dan Kevin bersorak dan menyonyor kepala Dani secara bergantian sedangkan Nana hanya tersenyum malu.
"Betul banget Tu Ra".
"Duh cewek gue emang pintar".
"Apaan sih kalian syirik aja jangan suka menghakimi cowok gue dong, cowok gue ini sudah berubah kali, bener kan sayang".
"Oh tentu dong beb Nana sekarang gombalan cinta dan sayangku hanya untuk Neng Nanaku seorang".
Teman-temannya yang mendengar itu seperti ingin muntah menurutnya Dani sangatlah lebay.
.Ekhem.
Deheman kepala sekolah menyadarkan mereka berenam karena hanya tinggal mereka murid yang ada di dalam aula.
"Eh ada pak Kepala sekolah, lagi ngapain pak?" Pertanyaan konyol ke luar dari mulut Dani sedangkan yang lain hanya bisa tepuk jidat.
Kepala sekolah tidak menjawab pertanyaan bodoh Dani, kepsek justru berbicara kepada Tuan Gio dan nyonya Nat.
"Tuan Gio mereka-mereka ini murid dari kelas 12 B, Mereka berenam terkenal pintar meski kelakuan mereka rada-rada bikin darah tinggi, termasuk mereka berdua".
__ADS_1
Kepala sekolah menunjuk Dani dan Nana karena beberapa Guru kerap mengeluh dengan kelakuan Dani yang suka mengganggu Nana yang akhirnya berujung dengan perdebatan.
"Kami kenal mereka ko pak".
"Apa kami boleh mengobrol sebentar dengan mereka pak?" Tanya Nyonya Nat.
"Tentu saja Nyonya Gio".
"Kalian jaga kelakuan, bapak tinggal dulu" kepada sekolah memperingati mereka.
"Saya pamit Tuan Gio Nyonya Gio".
Setelah kepala sekolah keluar dari aula, Nyonya Nat dan Tuan Gio pun mendekati ke enam anak remaja itu.
Mata Tuan Gio tidak pernah lepas dari Tiara, terlihat jelas ada raut rindu di muka sendu tuan Gio.
"Apa kabar kalian?" Tanya Nyonya Nat.
"Kabar kami baik Tante" jawab para gadis kompak sedangkan ke tiga pemuda itu hanya tersenyum dan mengangguk kecil.
"Tiara sayang sini, apa kamu baik-baik saja nak?".
Tiara, Nana dan Ajeng saling pandang, mereka merasa ada yang aneh dari nyonya Nat apalagi tatapan dan ekspresi tuan Gio yang terlihat berbeda saat berada di podium tadi.
"Tiara baik-baik saja kok Tante".
Nyonya Nat tersenyum tipis lalu berjalan mendekat ke Tiara.
"Apa Tante boleh peluk Tiara?".
Tiara diam sesaat lalu mengangguk.
Nyonya Nat memeluk Tiara Dangan erat, air matanya sudah menetes dan mengalir begitu deras di wajahnya dia juga terlihat pucat, taun Gio membuang muka kesamping dia tidak tahan melihat kesedihan sahabatnya.
Tuan Gio tau betul betapa tersiksanya Nathania selama ini yang terus-menerus di hantui rasa bersalah begitu pun dengan dirinya sendri.
Ingin Rasanya tuan Gio memeluk Tiara tapi di urungkan takut Tiara jadi salah paham di tambah lagi dengan tatapan penuh selidik yang di layangkan anak dari rekan bisnisnya.
Tuan Gio Tau kalau pemuda itu adalah pacar dari putrinya.
.
.
__ADS_1