Mengejar Cinta Mutiara

Mengejar Cinta Mutiara
Penjelasan 01 ( Flashback)


__ADS_3

Flashback On 19 tahun yang lalu.


Prank..


Suara benda pecah yang di lempar oleh lelaki paruh baya, dia terlihat sangat marah.


"Beraninya Gio menikahi gadis miskin yang tidak jelas asal usulnya itu" Teriak Ayah dari Tuan Gio.


"Kau sebagai ibunya Tidak becus mendidik anakmu".


"Dia juga anakmu Tuan Leonard jika kau lupa".


"Kau berani melawanku Meta".


Tuan Leonard Andersson sangat murka dan menatap Tajam sang istri, Meta Permadi.


"Tuan Leonard yang terhormat sudah cukup kau menekan putraku, menuntutnya menjadi apa yang kau mau, biarkanlah putraku meraih kebahagiaannya".


Tuan Leon makin emosi dia tau istrinya ikut membantu kelancaran pernikahan yang di lakukan Putranya secara sembunyi-sembunyi sehingga dia bisa kecolongan.


"Tau apa kamu tentang kebahagiaan Ha? Apa kamu pikir anak tidak berguna mu itu bisa hidup bahagia dengan wanita itu".


"Itu sudah jadi pilihan putra kita Leon biarkanlah mereka bahagia jangan kau pisahkan mereka".


"Kita lihat saja nanti" Tuan Leon tersenyum licik dan segera meninggalkan istrinya sendiri.


.


.


.


"Mas Gio apa ini adalah keputusan yang tepat kita menikah tanpa sepengetahuan Ayahmu?" Tanya Kiani atau Mama Kia.


"Tentu sayang menikah denganmu adalah keinginanku dari dulu". Tuan Gio mengusap sayang pucuk kepala Mama Kia.


"Tapi Ayah belum beri restunya, Kia yakin mas Ayah tidak akan pernah merestui kita, aku takut ayah memisahkan kita".


"Sudahlah sayang jangan kau pikirkan lagi".


Setelah beberapa bulan menikah, kehidupan Mama Kia dan Tuan Gio berjalan dengan lancar dan bahagian, tapi suatu ketika, tuan Gio mendapat kabar kalau sang Mama sedang sakit.


"Kia sayang kamu tidak usah ikut ya, kamu di sini saja tunggu mas pulang".


"Tidak mas Kia mau ikut, walau bagaimana pun Mama Meta adalah mertuaku dan dia juga sangat baik sama aku".


Mama Kia bersikukuh ingin ikut walau Tuan Gio sudah melarang, bukan karena apa Tuan Gio takut kalau Istrinya ikut Ayahnya akan berbuat kasar atau menghina istrinya habis-habisan.

__ADS_1


Tapi karena tuan Gio tidak tega melihat muka memelas istrinya jadi terpaksa Tuan Gio membiarkan Mama Kia ikut serta dengannya.


.


.


.


Sesampainya di Mension mewah milik keluarga Andersson, Tuan Gio dan Mama Kia turun dari mobil.


Perasaan Mama Kia sangat gugup karena ini kali pertamanya ia menginjakkan kaki nya di Mension mewah ini.


Dengan saling bergandengan tangan Tuan Gio dan Mama Kia masuk kedalam, belum sampai di ruang keluarga suara keras khas Briton menghentikan langkah mereka berdua.


"Berhenti di sana, beraninya kau membawa dia ke rumahku" Teriak Tuan Leon menggema di seluruh ruangan.


Semua orang menjadi kaget termasuk Mama Meta.


"Kenapa kau berteriak seperti Itu Leon".


Mama Meta heran tapi setelah Melihat anak dan mantunya Mama Meta langsung tersenyum bahagia.


"Sayang kau datang".


Mama Mita berjalan menuju menantunya dan memeluknya dengan sangat erat.


"Bagaimana keadaan Mama tadi Bibi Nah meneleponku katanya mama sedang sakit".


"Tidak kok sayang Mama Baik-baik saja".


Mama Mita heran sendiri kenapa kepala pelayanan di Mensionnya menelpon putranya dan mengatakan kalau dirinya sakit.


Tapi Mama Meta tau siapa pelaku utamanya pasti Bibi Nah hanya di suruh oleh tuan Leon.


"Kau mendoakan aku sakit Leon" tanya Mama Meta menatap tajam suaminya.


Tapi Tuan Leon tidak peduli dia masih menatap Mama Kia dengan tatapan merendahkan.


"Untuk apa kau membawanya kemari Gio?".


Tanya tuan Leon dengan dingin


"Dia istriku sekarang Ayah jadi ke mana pun aku pergi aku akan membawanya".


"Istri kamu bilang, cihh" taun Leon berdecih.


"Saya tidak Sudi punya menantu seperti dia yang tidak jelas asal usulnya".

__ADS_1


"Cukup ayah, jangan menghina istriku". Tuan Gio marah tidak terima istrinya di hina.


Sedangkan Mama Kia sedih mendengar kalau ayah mertuanya masih belum bisa menerimanya sebagai menantu.


"Berani sekali kamu Gio meninggikan suaramu di depan ayah".


Tuan Leon menatap putranya tidak percaya.


"Semua pasti gara-gara perempuan ini, iya kan". Tuan Leon menunjuk Mama Kia, membuat Mama Kia yang polos menjadi takut.


"Tinggalkan Dia Gio atau Ayah tidak akan menganggap kamu sebagai anak lagi".


"Tidak ayah Gio tidak akan pernah meninggalkan istri Gio".


"Jangan keras kepala kamu Gio, apa kamu lupa siapa orang yang telah membesarkan kamu ha" bentak Tuan Leon.


"Gio tidak lupa Yah, tapi Gio juga berhak memilih dengan siapa Gio menghabiskan masa tua Gio". tuan Gio sangat mencintai istrinya dia tidak akan pernah bisa meninggalkan atau menyakiti istri baik hatinya itu.


"Kalau itu pilihanmu tinggalkan rumah ini, dan juga fasilitas yang saya kasih, dan jangan pernah anggap saya orang tuamu lagi".


"Apa yang kau katakan itu Leon" Mama Meta marah kepada suaminya.


"Itu sudah pilihannya Meta dan jangan mengehentikan ku anak tidak tau terima kasih ini tidak pantas menjadi pewaris dari kekayaan Andersson". Ujar Tuan Leon dengan dingin dan tak terbantahkan.


"Baiklah Ayah Gio juga tidak butuh kekayaan ayah".. "ayo sayang kita pulang".Tuan Gio merangkul bahu Mama Kia dan mengajaknya pergi dari Mension tempat di mana ia di besarkan.


"Tapi mas--"


"Ayolah sayang aku tidak mungkin membiarkan kamu di hina terus, lebih baik kita hidup tanpa bayang-bayangnya".


"Nak..Gio kamu mau meninggalkan Mama" Mama Meta menangis dia tidak mungkin membiarkan anaknya dan menantunya pergi lagi.


"Ma dengarkan Gio, Gio akan tetap menjadi anak Mama, kalau mama kangen Mama bisa temui Gio dan Juga Kiani, sekarang Gio sudah menemukan kehidupan Gio sendiri Ma jadi biarkan Gio menjalaninya dengan bahagia". Tuan Gio mencoba memberikan pengertian kepada sang Mama.


"Baiklah Nak" Mama Meta menghapus air Matanya lalu berjalan menghampiri Menantunya.


"Sayang tolong kamu bahagiakan putra Mama ya, rawat dia dengan baik" Mama Kia meneteskan air matanya ia membalas pelukan Mama Mertuanya, dia juga janji akan merawat suaminya dengan baik.


Tuan Gio membawa istrinya keluar dari mansion, Mama Meta menangis tersedu-sedu sedangkan Tuan Leon langsung pergi ke ruang kerjanya tanpa mengatakan apapun..


.


.


.


#TerimaKasih🙏🏻

__ADS_1


__ADS_2