
Di Butik milik Mama Kia, terlihat Mama Kia sedang menerima tamu, tamu yang beberapa hari lalu pesan gaun di butiknya.
"Aku sangat puas dengan rancangan baju kamu Ki, tapi sayang kamu nggak bisa hadir di pesta kami". Suara seorang wanita yang usianya lebih tua dua tahun dari Mama Kia tapi masih terlihat sangat cantik.
"Maaf Mba Dina saya waktu itu ada kerjaan mendadak di luar kota, jadi saya tidak bisa hadir di pesta mba tapi saya doakan semoga rumah tangga mba dan suami langgeng sampai kakek nenek".
Tamu Mama Kia adalah Mami Dina.
"Amin makasih ya Kia, tapi pestaku tidak berjalan dengan lancar karena ada insiden kecil di sana".
Mama Kia mengerutkan keningnya.
"Insiden apa mba?"
Mami Kia menceritakan semua kejadian di pestanya beberapa malam yang lalu, Mama Kia pun kaget mendengar kalau Mami Dina adalah ibu dari Rafa pacar anaknya, Mama Kia juga tiba-tiba melamun dan memasang wajah yang sedih, dia mengingat lagi penghinaan yang di alami anaknya.
"Tapi aku sangat salut sama gadis itu Kia Bahkan dia juga yang telah menyelamatkan aku saat aku terkena musibah, dia gadis yang sangat baik anakku saja sampai tergila-gila padanya begitupun aku dan juga Nia sangat sayang sama dia, itu pasti didikan dari mamanya aku jadi penasaran siapa mamanya".
Mami Dina terlihat antusias saat menceritakan tentang Tiara, Mama Kia merasa lega karena ada yang mau menerima anaknya tanpa melihat latar belakangnya apalagi Mami Dina berasal dari keluarga konglomerat.
"Aku adalah Mamanya mbak".
"Ha..Maksudnya Kia kamu mamanya siapa?".
"Aku adalah Mamanya gadis yang mbak ceritakan itu, aku adalah mamanya Tiara".
Mami Dina kaget dan menatap mama Kia yang sedang terlihat sedih itu.
"Kamu serius Ki?" Tanya Mami Dina karena dia sepeti masih belum percaya.
Mama Kia hanya mengangguk kecil.
"Ya ampun dunia ternyata tidak selebar daun kelor, aku nggak nyangka Tiara adalah putrimu tapi aku juga tidak bisa menyangkalnya kebaikan hatinya dan kelembutannya sama dengan kamu, kamu adalah wanita luar biasa andai aku yang di posisimu mungkin aku sudah tidak sanggup merawat anakku sendirian".
Mami Dina memeluk wanita yang menurutnya adalah wanita yang hebatnya luar biasa, dia tambah sayang dengan Tiara apalagi setelah tau Kalau Mama Kia lah Mamanya Tiara, hati Mami Dina tambah mantap untuk menjadikan Tiara mantunya.
"Tolong restui hubungan putraku dan putrimu Kia, aku sendiri yang akan menjamin kalau anakmu akan bahagia bersama anakku dan aku akan selalu menganggap Tiara Putri ku sendiri".
"Justru aku yang harus bilang seperti itu mbak Dina, terima kasih sudah mau menerima putriku".
"Kamu tidak usah berterima kasih Kia, aku dan keluargaku sangat menyayangi Tiara apalagi putraku sudah bucin dari dini karena putri cantikmu".
__ADS_1
Mama Kai hanya tertawa kecil, obrolan mereka terus berlanjut sampai makan siang tiba, mereka juga makan siang bersama di sebuah restoran terkenal untuk merayakan mereka akan jadi besan, mereka juga berharap semoga Rafa dan Tiara berjodoh.
.
.
.
"Tante kenapa nangis?" Tanya Tiara saat melepaskan pelukan Nyonya Nat.
"Tidak apa-apa sayang". Nyonya Nat tersenyum dan terus menatap teduh Tiara.
Setelah beberapa saat berbincang dengan ke enam remaja itu, Nyonya Nat dan tuan Gio kembali ke Ruang Kepsek untuk segera pamit.
Tidak lupa juga nyonya Nat mengundang mereka untuk makan malam di rumahnya Nanti malam, mendengar itu para gadis langsung senang sedang yang para pemuda hanya mengangguk.
"Tante dan Om pamit ya sayang, jangan lupa datang ya, Tante tunggu kedatangan Tiara dan teman-teman Tiara".
"Iya Tante Tiara akan datang".
Nyonya Nat pun memeluk kembali Tiara dan mencium keningnya agak lama.
Sedangkan Tuan Gio pun mengelus kepala milik Tiara.
"Ya Allah apa begini Rasanya di elus Pria dewasa, apa begini juga Rasanya bila seorang ayah mengelus anaknya".
Mata Tiara terpejam, setelah itu kembali menatap tuan Gio yang tersenyum padanya.
"Om pulang dulu, kalian jangan lupa datang".
"Baik Om" ujar mereka serempak.
Tuan Gio pun meninggalkan aula dengan perasaan yang enggan karena tuan Gio masih ingin melihat sang anak tapi dia juga tidak bisa berlama-lama.
"Sabarlah Gi, sebentar malam juga kita ketemu lagi dengan Tiara".
"Iya terima kasih ya Nat kamu sudah mengundang mereka untuk makan malam di rumah kita".
"Iya sama-sama Gi lagi pula aku juga masih mau ngobrol dengan Tiara".
__ADS_1
Tuan Gio hanya tersenyum kecil dan berjalan menuju ruang kepsek, mereka tidak sengaja berpapasan dengan Yura dan Rena.
"Selamat pagi menjelang siang Om Tante" sapa Yura sok kenal tidak lupa menampilkan senyuman manisnya.
Tuan Gio hanya diam dan memasang wajah dingin dia tidak membalas sapaan dari Yura begitupun nyonya Nat mereka berdua masih jengkel karena Yura sudah menghina Tiara di depan banyak orang.
Tuan Gio dan nyonya Nat terus berjalan tanpa memperdulikan tatap ke dua gadis itu.
"Sombong banget mereka".
"Emang Lo kenal sama Tuan Gio dan istrinya?" Tanya Rena.
"Nggak terlalu sih tapi dia tau kalau gue ini anak dari Haris Darwin, tapi kenapa mereka seperti tidak kenal".
"Sudahlah Yur mungkin mereka sedang terburu-buru".
Yura dan Rena pun kembali melanjutkan langkahnya menuju kelas mereka.
.
.
"Gue masih heran deh sama Tante Nat dan On Gio, mereka kelihatan sedih banget tadi saat dia meluk Lo Ra".
"Iya sih Na Gue juga merasakan itu".
"Tapi apa kalian tidak perhatian tadi muka Om Gio itu Kayak mirip Gitu sama Lo Ra".
"Iya Dan gue juga berpikir seperti itu hanya Mata mereka saja yang tidak sama". Ajeng sependapat dengan Dani menurutnya sahabatnya itu mempunyai kemiripan dengan pebisnis kaya itu.
"Ah masa sih, mungkin ini hanya kebetulan saja".
Sebenarnya Tiara juga merasakan ada yang lain di hatinya saat bertatapan dengan Tuan Gio tadi, apalagi tadi saat kepalanya di elus dirinya sepeti sudah begitu dekat dengan Tuan Gio padahal mereka baru bertemu dua kali.
"Sudahlah sayang jangan di pikir lagi, lebih baik kita kembali ke kelas saja".
Rafa dan yang lainnya pun kembali ke kelas mereka.
.
.
__ADS_1
.