
Pria itu memasuki sebuah butik khusus pengantin,aku hanya bisa mengekori pria itu.
"Selamat datang tuan Key," sambut seorang wanita.
"Carikan gaun pengantin yang terbaik untuk calon istriku," ucapnya dan langsung meninggalkanku.
"Baik,silahkan ikut saya nona," ucap seorang wanita itu.
Aku mengikuti wanita itu,terdapat beberapa gaun yang tergantung dirak lemari,ada juga yang melekat dipatung,gaunnya sungguh luar biasa,indah dengan hiasan pernak perniknya.Wanita itu mengajakku menjelajahi butik ini,mungkin sudah ratusan baju yang aku lihat.Hingga berhenti disebuah gaun cantik.
"Ini adalah gaun terbaik dibutik kita nona,silahkan anda coba," ucap wanita itu sambil memanggil asistennya untuk melepaskan gaun itu dari patung penyangga.
"Iya," ucapku menuju keruangan ganti.
Dua orang wanita itu mengikutiku,dan membantu aku memakaikan gaun.Aku melihat diriku,dipantulan cermin.Satu kata untukku "sempurna",ya gaunnya sangat cocok ditubuhku,ukurannya yang pas membuatku nyaman,dan mungkin menurutku ini terlalu mewah.
"Wah,nona cantik sekali," ucap salah satu wanita itu.
"Ah,terima kasih," ucapku sambil menutupi pipi yang mulai merona.
"Beruntung sekali,nona mendapatkan suami seperti tuan Key,dan tuan Key sangat beruntung mendapatkan istri cantik seperti nona," ucap salah satu wanita itu.
"Apa beruntung?yang ada aku dapat musibah," ucapku dalam hati.
Aku keluar dari ruangan ganti,dan menuju pria dingin itu,untuk menunjukkan gaunnya cocok tidak ditubuhku.Pria itu sedang membaca sebuah majalah,ketika aku didepannya,ia langsung melirikku dan menatapku tak percaya.
"Apa benar ini cunguk itu?mengapa ia begitu cantik?" ucap Key dalam hati.
__ADS_1
"Pak Key," ucapku menyadarkan dia karna ia melihatku sampai ternga-nga.
"Saya pilih gaun itu,dan langsung kirim kerumahku," ucap Key pada wanita yang berdiri dibelakangku.
"Baik tuan," ucap wanita itu.
"Pasti butik ini milik dia lagi,sudah kupastikan harta dia dimana mana," ujarku dalam hati.
Aku dan Key keluar dari butik itu,aku hanya mengikuti setiap langkah pria itu berjalan,seketika aku merasakan pusing dikepalaku,mungkin ini efek belum sarapan tadi pagi.Ku coba tahan,tapi pusingnya semakin menjadi,dan akhirnya aku berhenti sambil memegangi kepalaku.Pria itu berbalik dan menatapku.
"Ada apa denganmu?" tanyanya yang sekarang berada tepat disampingku.
"Maaf pak,kepala saya pusing," ucapku pelan yang masih memegangi kepalaku.
Aku merasa pria itu semakin dekat,hingga jarak antara kita hanya sebatas 15cm saja,dan tiba-tiba dia membopong tubuhku ditengah keramaian.
"Pak turunkan saya,saya masih kuat berjalan," ucapku sambil meronta-ronta ingin turun dari gendongannya.
"Diam!" ucapnya dingin sambil mempererat tangannya mengendongku.
Banyak pasang mata yang melihat kejadian kami,ada yang bersorak cie-cie,ada yang berkata "ini kan tempat umum",ada juga yang berkata "jadi cewenya enak bisa digendong sama pria tampan".Jujur saja aku merasa jengah dilirik oleh banyak orang.
Saat kami tiba diparkiran,aku diturunkan dan langsung memasuki mobil mewah yang berwarna putih.
"Diam dimobil!jangan kemana-mana," ucapnya yang langsung meninggalkanku sendiri dimobil.
Aku menyenderkan kepalaku dan memejamkan kedua mataku,agar pusingku ini mereda sedikit.
__ADS_1
"Nih makan," ucapnya sambil melemparkan kantong plastik.
Sontak aku langsung membuka mataku, mengambil kantong plastik berwarna putih itu dan membukanya terdapat beberapa roti sobek,susu,vitamin,dan cemilan ringan.
"Biasakan sebelum bekerja sarapan,cepat makan!" perintahnya yang melihatku diam.
"Bagaimana dia tahu aku belum sarapan?tapi lumayanlah untuk mengisi perutku yang kelaparan,hihi" ucapku dalam hati sambil mengambil roti sobek dan mulai membukanya.
"Terima kasih pak," ucapku sambil tersenyum kearahnya walaupun pandangan pria itu menatap kedepan.
Mobil yang kami tumpangi,mulai membelah jalanan kota,pria itu hanya fokus menyetir,dan aku asik menyantap roti dan sekotak susu.Pria itu menoleh kearahku,sambil memperhatikan roti yang ada ditanganku.
"Bapak mau?" tanyaku sambil menyodorkan roti sobek yang terbuka.
"Heh!kamu ga lihat saya lagi nyetir?" jawabnya tajam.
"Ah,iya pak maaf," ucapku sambil melanjutkan makan roti.
(Kirananya ga peka nih,hehehe)
"Heh!kamu ga ada inisiatif dikit gitu buat suapin saya,saya kan lagi nyetir," ucapnya sambil menatapku sebentar.
"Heleh,bilang aja mau disuapin segala alasan lagi nyetir,dasar modus," ucapku dalam hati.
Aku menyobek sedikit roti yang rasa coklat,tanganku mulai mendekati pria itu,dia membuka sedikit mulutnya untuk menerima suapanku,dan ya berhasil,roti itu sedang dikunyah didalam mulutnya.
Aku memakan roti sambil menyuapi bayi besar yang berada disampingku,ya siapa lagi kalo bukan pria kurang ajar itu yang sekarang menyandang status sebagai calon suamiku.
__ADS_1