Menikahi Asistenku

Menikahi Asistenku
Episode 22


__ADS_3

Rasanya seperti ditimpa batu besar,perkataannya membuat hatiku teriris.Seharusnya aku sadar manusia kurang ajar seperti dia,mana mungkin mempunyai hati yang baik.


"Saya memang tidak mempunyai apa-apa,tapi saya mempunyai harga diri yang tak pantas diinjak-injak oleh orang kurang ajar seperti anda Tuan Key!," ucapku meninggi.


"Berani sekali kau!" ucapnya sambil mendekat dan mengapit kedua pipiku dengan jarinya,sangat kencang membuatku merasakan sakit.


"Sa-kit," ucapku terbata-bata.


"Cepat tanda tangani!kalau kamu tidak melakukannya,kau tau apa penyebabnya," ucapnya tajam sambil meninggalkanku melangkah keluar kamar.


Aku hanya bisa menangis,apakah takdir ku harus seperti ini?setelah sekian lama aku menjadi tulang punggung keluarga demi membahagiakan ibu dan adikku,sekarang keadaaanya lebih sulit dari semula.Tuhan?apakah aku tidak pantas mendapatkan kebahagiaan?.


Aku mengusap kedua air mataku,dan mulai menandatangani surat perjanjian itu.


"Sebelum nasi jadi bubur,ku pastikan aku tak kan hamil,bagaimana nasibnya jika anakku lahir nanti,tidak mempunyai seorang ibu,suami yang tega mengusir istrinya,hanya karna fantasi atau keinginan dia saja," ucapku pelan sambil mengepalkan tangan.


Aku berniat untuk menginap dirumah,ingin rasanya aku memeluk ibu sambil bersandar bahwa dunia ini begitu kejam padaku.


Key POV.


"Apa yang sudah aku lakukan?ah dia pasti menangis dan berniat pergi dari sini," ucapku sambil menaiki anak tangga.


Aku melihat wanita itu keluar dari kamar dengan pakaian yang rapi serta tas yang sedikit besar,sudah ku duga pasti dia akan pergi.


"Mau kemana kamu?" tanyaku padanya.


Wanita itu tak menggubris ucapanku,melewati tubuhku begitu saja,sontak aku langsung menarik lengannya.


"Lepas," ucapnya sambil menepis tanganku.


"Jika kamu mau pergi,jangan gunakan supirku," ucapku padanya,aku hanya menggertak dia saja,supaya dia tetap berada dirumah.

__ADS_1


Wanita itu melanjutkan langkahnya,berjalan kaki sendiri melewati pintu gerbang,dia tak memanggil supir untuk mengantarnya.


"Dasar wanita bodoh!" ucapku yang berniat untuk menyusulnya.


Kirana POV.


Aku berjalan ditengah sunyinya malam,waktu menunjukkan pukul 22.05,menembus dinginnya udara malam.


"Hai cantik mau kemana malam-malam?," ucap dua orang pria yang pakaianya brutal, dengan genggaman minuman keras ditangannya.


Aku tak menjawab pertanyaannya,yang ku lakukan adalah mempercepat langkahku,semakin cepat maka semakin baik agar terhindar dari orang seperti mereka.


"Buru-buru amat sih,ikut abang yuk," ucapnya sambil menarik tanganku.


"Lepas," ucapku berusaha menepis,namun pria yang satu malah merangkulku.


"Brengsek kalian!" tambahku yang berusaha meronta-ronta.


"Hahaha,bersenang-senanglah dengan kami," ucap pria brengsek itu sambil mencolek pipiku.


Bugh.


Dua pria itu terjatuh ke trotoar jalan,dengan satu tinju dirahang masing-masing.Dengan keadaaan mabuk mereka itu pasti tidak sadar.Aku menoleh,betapa terkejutnya melihat siapa yang menolongku.


"Key," ucapku kaget.


Dua pria brengsek itu bangkit mengambil pecahan kaca dibotol minumannya,sasaran utama bagi mereka adalah Key namun dengan sigap aku menghalanginya hingga pecahan kaca itu mengenai bahuku,tak terasa darah mengalir ditubuhku.


"Aa-wh," ucapku sakit saat kulitku terasa seperti disobek.


Bugh.Bugh.Bugh.

__ADS_1


Aku terjatuh diarea trotoar,samar-samar aku mendengar Key meninju pria brengsek itu,selepas itu semuanya gelap.


Key POV.


"Beraninya kalian menyentuh istriku," ucapku pada dua pria yang sudah terkapar tak berdaya.


Aku langsung mengangkat Kirana kemobil menuju rumah sakit.


"Dasar bodoh!mengapa kau melindungiku," ucapku padanya yang masih tersandar dikursi penumpang dengan mata terpejam.


Setelah sampai rumah sakit,Kirana langsung dibawa keruang gawat darurat.Semua karyawan yang berada dirumah sakit begitu panik,karna anak pemilik rumah sakit yang tiba-tiba datang dengan seorang wanita,yang banyak darah diarea bahunya.


"Berikan yang terbaik untuk istriku," ucapku pada seorang dokter.


"Baik tuan," ucap Dokter Giri sambil memasuki ruangan itu.


Aku berinisiatif menelfon papa dan mama.Sudah pasti setelah ini aku akan dimarahi habis-habisan oleh papa.Sebagai suami yang tidak becus menjaga istrinya sendiri dengan baik dan benar.


"Semoga kau baik-baik saja," ucapku mencoba tenang dengan segala kekhawatiranku.


Aku merasa bersalah dengan semua ini,ia terluka karna perbuatanku,aku sebagai suami tak mampu menjaganya.


Plakk.


**Hayooooo siapa yang penasaran sama part selanjutnya,,,,,


Jangan lupa like dan vote MA yaaa biar aku semangat nulisnya,,,,


Jangan lupa komen jugaaaa,biar aku semakin semangat updatenya,,,,


Kira kira siapa yang nampar Key?

__ADS_1


See u next chapter guys,love you all💓**


__ADS_2