
Kirana POV
"Maaf,tapi besok aku ada acara keluarga yang harus dihadiri," ucapku terpaksa bohong,demi kebaikan diriku.
"Oh yasudah gapapa,lain waktu juga bisa ko," ucap Nanda sambil tersenyum.
Aku hanya bisa menyunggingkan senyumku dengan canggung.
"Kalo gitu,aku duluan ya,salam buat Key dan jaga kondisi calon bayimu," ucap Nanda sambil tersenyum dan melewatiku serta melambaikan tangannya.
Entah mengapa,dibalik senyumnya itu tersirat makna lain,terlebih lagi soal ucapannya yang membuat hatiku khawatir.
Aku kembali kemeja makan dan melanjutkan makan malam bersama dua keluarga.Setelah menyelesaikan makan malam,Key memberiku aba-aba agar segera pulang.
"Kita pamit duluan pah,mah,bu," ucap Key pada semua orang yang berada dimeja makan.
"Lho kok duluan?kenapa ga bareng papa sama mama aja?" tanya papa pada Key.
"Udah malam pah,angin malam ga baik untuk ibu hamil," ucap Key sambil melirikku dan menggenggam tanganku.
"Yaudah,nanti mertuamu dan adik iparmu biar papa dan mama yang antar,kalian hati-hati dijalan," ucap papa padaku.
Kami pun menciumi tangan kedua orang tua,berpamitan untuk pulang.
Nanda Primata.
"Nikmatilah kebahagiaan sementara ini Kirana,suatu saat semua kebahagiaanmu sirna bahkan jatuh sejatuh jatuhnya kedalam jurang yang sangat dalam,bahkan bisa jadi kamu mati bersama anakmu dan suamimu menjadi milikku," ucapku sambil tersenyum miring melihat dua keluarga yang sedang bercanda ria.
"Kita pulang," ucapku pada dua orang pengawal.
"Baik nona," ucap dua orang itu sambil mengikutiku dari belakang.
Kirana POV
Mobil yang kami tumpangi sudah memasuki pekarangan rumah,kami-pun turun dan langsung menaiki anak tangga menuju kamar.
__ADS_1
"Aku siapin baju,sana kamu mandi," ucapku pada Key yang terlihat sedang melepas sepatu pantofelnya.
"Mandiin aku ya," ucap Key sambil tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya.
"Mandi sendiri udah gede," ucapku sambil membuka lemari pakaian.
Tiba-tiba Key memelukku dari belakang sambil mengendus rambutku yang tergerai.
"Key!" ucapku pada Key yang merasa geli.
"Ayolah," ajak Key padaku namun ku gelengkan kepala.
Sebersit ada ide yang muncul untuk menolak ajakan Key.
"Oiya,ibu hamil ga boleh main air malam-malam,nanti masuk angin,ya kan?" ucapku berbalik sambil memandangi wajah Key yang langsung berubah.
"Ya-ya-ya,baiklah," ucap Key dengan nada pasrah sambil menuju kekamar mandi.
"Hehe makasi ya sayang udah jadi alasan mama," ucapku dalam hati sambil mengelus perutku yang membuncit.
"Tadi aku diajak sama Nanda buat beli hadiah untuk calon anak kita,katanya biar aku yang milih sendiri,takutnya...," ucapku pada Key belum selesai ngomong,langsung disela oleh Key dengan wajah yang berubah menjadi dingin.
"Jangan dekati dia," ucap Key dengan nada dinginnya.
Dengan situasi yang berubah ini aku paham bahwa Key yang berubah menjadi dingin ini jangan dilawan.
"Baiklah,aku ga dekat-dekat dia lagi," ucapku sambil bangkit dari sofa dan berbaring diatas kasur.
"Tidurlah,aku mau nyari angin sebentar," ucap Key sambil menuju balkon kamar.
Apa aku salah?
"Lebih baik aku istirahat saja,besok juga dia udah berubah jadi cair lagi,gak kaya sekarang dingin kaya es," ucapku dalam hati sambil menarik selimut.
Key POV
__ADS_1
Aku mengeluarkan ponselku untuk menghubungi seseorang.
"Selamat malam,ada yang bisa saya bantu pak?" tanya Josep lewat telpon disebrang sana.
"Malam,ada pekerjaan menarik untukmu,pekerjaan yang sudah lama kita tidak lakukan," ucapku pada Josep lewat sambungan telepon.
Josep yang sudah berkerja beberapa tahun bersamaku,sudah tau apa yang akan dilakukan atas perintahku.
"Siapa targetnya pak?" tanya Josep padaku.
"Perusahaan Prima,buat desas-desus yang menjatuhkan perusahaan itu,buat seluruh saham yang ditanam olehnya mampu untuk dijual karna kebangkrutan dan kita yang akan membelinya," ucapku pada Josep.
"Baik pak,ada lagi hal yang diperlukan pak?" tanya Josep padaku.
"Awasi wanita itu,jangan sampai dia menyakiti istriku bahkan calon bayiku," tambahku pada Josep lewat sambungan telefon.
"Baik laksanakan," ucap Josep dengan semangat walaupun malam yang menuju pagi hampir tiba.
"Baiklah,ditunggu segera," ucapku pada Josep dan mematikan sambungan telefon saat ia mengucapkan "selamat malam,".
Aku menikmati angin malam yang berhembus dengan cahaya bulan dan bintang yang remang-remang.
"Berlian milikku tak boleh disentuh,sekali-pun dengan air liur," ucapku dengan nada lirih mengingat-ingat kejadian masa lalu yang membuatku jijik.
Hai guyssss!!!Apa kabar?gimana sehat kan kalian?
Maaf ya aku telat update lagi😭😭😭
Jangan lupa like dan komen sebanyak banyaknya kalian,biar aku semangat nulisnyaaaa😁😁
JANGAN LUPA VOTE MA JUGA YA,KU TUNGGU VOTEMU🤗
__ADS_1
see u next chapter,i lov u all💛✨