Menjadi Duchess Iblis

Menjadi Duchess Iblis
10. don't leave me


__ADS_3

Mata Althea membulat ia tak percaya dengan apa yang di lihat nya. Hati Althea berteriak dengan kencang namun suaranya sama sekali tidak keluar.


Nafas Althea tersengal-sengal jantung nya berdegup sangat kencang, Althea mengambil pedang nya ia berlari secepat cahaya. Tak ada yang bisa melihat kapan dan bagaimana Althea menebas musuh Althea menyerang mereka dengan membabi buta tanpa menghiraukan sisa memori dari orang-orang yang ia bunuh.


Althea menebas semua musuh yang menghalangi nya ia Membukakan jalan bagi Alvaro untuk keluar dari ruangan.


Tanpa memperdulikan Althea, Alvaro buru-buru membawa sang ayah ke tempat yang aman benar raja lah yang menerima serangan itu.


Air mata Althea jatuh berserakan di lantai ruang singgasana air mata yang perlahan membentuk snow flake. Althea menatap para kesatria yang tersisa begitu juag sang ayah tatapan nya kosong namun terlihat ia tidak ingin di bantah oleh siapapun.


"Keluarlah." Nada rendah yang keluar dari mulut Althea seakan mutlak dan tidak ada yang berani membantah nya. Para kesatria saling membantu teman nya untuk keluar dari ruangan itu secepat mungkin.


"Yang muli-" belum sempat salah seorang ksatria menyelesaikan kalimatnya Duke seakan tau apa yang di pikirkan mereka semua. "Althea lebih kuat dari yang kalian lihat."


Althea yang kini berdiri sendiri di hadapan musuh memejamkan kedua matanya sesaat, mata unggu nan indah milik nya berganti dengan mata merah menyala yang terlihat bagai warna darah yang dihiasi permata.


Althea mengumpulkan semua darah dari para korban menjadi satu perlahan kumpulan darah yang mengambang di udara itu berubah menjadi snow flake yang sangat besar, musuh sempat terkecoh dan terpesona akan kecantikan snowflake berwarna merah itu. Hal tersebut tidak berlangsung lama Althea mengubah nya menjadi jarum-jarum yang menusuk jantung semua orang yang ada di sana.


"Pertumpahan darah di balas dengan darah."


...


Althea berlari menuju tempat di mana raja di rawat di sana sudah ada Alvaro dan Irene yang menunggu raja dengan sangat cemas.


Althea yang sudah berada di depan pintu di hampiri Alvaro. "Kau!! Pasti kau!!" Teriak Alvaro penuh amarah. Althea menatap Alvaro dengan tatapan kosong.


"Raut wajah ini, ekspresi seakan tidak ada hal terjadi hah..benar sampai kapan pun iblis seperti tidak akan mengerti." Althea tersentak dengan pernyataan Alvaro, Althea hanya menunduk sebentar dan tidak menghiraukan perkataan Alvaro ia mencoba menerobos masuk tapi lagi-lagi Alvaro menghalangi nya.


"Biarkan aku masuk!" Tegas Althea dengan raut wajah nya yang mulai marah. "Agar kau bisa membunuh ayah ku?" Tanya Alvaro sinis.

__ADS_1


*Plakkk, Althea menampar Alvaro dengan begitu keras, para pengawal mulai mengelilingi Althea dengan senjata yang mereka bawa.


Irene yang sedari tadi hanya melihat menghampiri Alvaro dan mengelus pelan pipi Alvaro yang memerah. Irene yang tak terima mendekati Althea dan menampar nya balik.


Althea tertawa ia tertawa sangat kencang hingga semua terheran heran dengan apa yang di tertawakan Althea. "Kalau aku yang menyuruh mereka untuk apa aku ikut bertarung untuk apa aku melindungi kalian semua, bukan kah harus nya aku duduk dan hanya menikmati hasilnya? Toh jika aku gagal aku bisa pergi kemana pun."


"Kau!!" Teriak Irene bersiap menampar Althea lagi. Namun tatapan dingin Althea seakan membekukan seluruh tubuh nya.


"Kenapa tidak jadi? Silakan tampar saja," ucap Althea spontan. "Kalau bukan kau memang siapa lagi?! Masuk akal jika kau melakukan nya kau ingin jadi ratu kan!! Kau pasti marah aku merebut posisi mu!" Teriak Irene meluapkan semua emosi nya.


"Itu masuk akal untuk pikiran sempit mu, itu masuk akal untuk pikiran mu yang pasaran." Althea mengambil pedang yang berada di sarung nya dan memberikan nya pada Irene.


"Masuk akal jika Sekarang kau membunuh ku, tidak akan ada yang menyangka aku yang meminta mu melakukan nya." Irene terdiam membeku mendengar jawaban Althea. Dengan sembarangan Irene melempar pedang Althea itu bukan lah sikap yang sopan tentu saja.


Althea menatap Alvaro tatapan kedua nya bertemu, Althea menghela nafas nya sebentar, "izikan aku bertemu yang mulia sekali saja setelah nya lakukan apapun yang menurut mu benar." Alvaro baru saja ingin menolak permintaan Althea tiba-tiba tabib datang dan memberitahukan raja sudah sadar.


"Thea..kemarilah putriku." Air mata yang sudah di tahan nya sejak tadi pecah begitu saja, raja terlihat sangat lemah ia tersenyum kecil pada Althea seraya meraih tangan Althea dan memberikan sebuah liontin berbentuk hati yang memiliki pertama berisi air di dalam nya.


Saat melihat air mata Althea untuk pertama kali nya Alvaro sangat lah terkejut, air mata itu tidak terlihat seperti air mata yang di buat-buat. Tatapan tulus yang tidak pernah lagi di lihat Alvaro dari diri Althea.


...


"Tepati janji mu lady Amaryllis, aku memberikan mu hukuman kurungan selama satu bulan di kediaman Duke dan aku akan menahan gelar kesatria mu sampai pelaku sebenarnya tertangkap." Althea hanya bisa mengganguk pasrah seraya menggenggam liontin pemberian raja.


Althea memasuki kamar nya ia berdiri membelakangi pintu memeluk kedua kaki nya dan menangis sejadi-jadinya, tak ada siapapun dalam kesunyian itu hanya cahaya dari mata merah Althea lah yang menerangi gelapnya malam itu.


Althea tertidur dilantai setelah menangis, jendela kamar Althea terbuka oleh angin yang sangat kencang burung Phoenix masuk ke kamar Althea bulu yang sangat indah ekor yang memancarkan api biru yang sangat panas.


Phoenix itu perlahan berubah menjadi sesosok pria bertubuh tinggi berambut hitam mata nya juga merah menyala seperti milik Althea.

__ADS_1


Perlahan ia menggendong Althea dalam pelukan nya memindahkan gadis rapuh itu dengan sangat hati-hati dan menyelimuti nya dengan penuh kasih sayang.


*Cup, ia mengecup pelan kening gadis berambut perak itu dan mengelus rambut nya dengan sangat lembut.


"Meskipun kamu tidak mengingat ku tapi aku akan selalu berada di dekat mu Thea, aku mencintaimu."


....


Duke berjalan tergesa-gesa menuju kamar sang putri, ia sangat khawatir dengan putri kesayangannya itu. Duke membuka pintu kamar Althea ia melihat putri nya tengah tidur dengan lelap.


Duke tampak sedih setelah melihat mata Althea yang sembab tak sengaja ia melihat liontin yang di genggaman Althea, Duke tersenyum dan perlahan menyentuh permata yang ada di tengah liontin itu.


"Sebagai seorang ayah aku hanya mengharapkan kebahagiaan mu putri ku, bagaimana pun caranya aku akan selalu melindungi mu. Kami tidak akan pernah membiarkan mu terluka baik aku, ibu, ratu juga raja kamu akan selalu menjadi salah satu nama terpenting dalam hidup kami."


Duke mengecup pipi putri nya kemudian berjalan menuju pintu kamar Althea, sebelum keluar ia kembali menatap putri nya, "mimpi indah putri kecil ayah."


...


*Author note


Inspirasi dari kata-kata "air membuat kenangan dan es yang menyimpan nya." Itu dari film Frozen II


Halo semua nya dari setelah baca chapter ini apa yang kalian rasakan atau bayang kan? Aku menulis part ini sambil membayangkan betapa sayangnya seorang ayah pada putri nya.


Di scene sedih itu fan fact nya aku beneran nangis sambil ingat air mata papah yang pernah tumpah karna aku yuk sekarang kalau ayah kalian masih di sini dan sehat peluk minta maaf dan terimakasih, buat yang sudah berpisah doakan ayah nya ya.


For you dad thank you for taking care of this part i dedicated to you.


Terimakasih buat kamu, iya kamu yang lagi baca novel ini thank you for supporting me jangan lupa vote, like, favorit, coment dan share sebanyak-banyak nya.

__ADS_1


See you next time


Ran.nace


__ADS_2