Menjadi Duchess Iblis

Menjadi Duchess Iblis
3. salju putih


__ADS_3

karna terkadang yang mendengar lebih baik dari pada yang bicara..


-Altheana Amaryllis


setahun setelah kepergian sang ratu, Althea resmi diangkat menjadi putri mahkota untuk menggantikan tugas ratu, namun Alvaro tidak senang dengan hal itu ia ragu menikahi seseorang yang kini di bencinya, ia ingin kehidupan pernikahan seperti orang tuanya yang memang saling mencintai.


"kamu akan baik-baik saja Thea, Ayah tau putri Ayah ini kuat," ucap duke seraya menatap iris mata unggu milik Althea.


"ayah," panggil Althea dengan nada yang terkesan biasa saja namun sebenarnya ia gemetar ketakutan apa saat bulan purnama nanti ia akan baik-baik saja, apakah Alvaro bisa menerima Althea apa adanya.


Duke memeluk erat putri satu-satunya itu dan membisikkan pesan penting pada putrinya.


"jangan biarkan mereka tau jati dirimu yang sebenarnya," bisik Duke pada Althea, setelah melepas pelukannya Duke mengelus puncak kepala putrinya dan membiarkan Althea pergi ke istana.


"ibu, tolong lindungi aku," ucap Althea dalam hati seraya menatap nanar kediaman duke yang semakin menghilang dari pandangannya.


beberapa bulan pun berlaku, perlakuan Alvaro kepada Althea benar-benar tidak bisa di katakan baik, sering kali ia mengatakan kata-kata kejam pada Althea, menyingung hal yang menyakiti Althea bahkan tak segan saat berlatih pedang Alvaro sengaja membuat Althea terluka.


di hari yang cerah itu Althea dan Alvaro mendapat tugas dari raja untuk melakukan pembasmian monster dihutan terlarang yang berada diwilayah kekuasaan duke Crisan.


meskipun dinamakan pembasmian moster namun sebenarnya itu adalah salah satu acara kelas atas di mana para bangsawan muda berlomba-lomba untuk membunuh moster tingkat rendah ya sama saja dengan kompetisi berburu.


pemenang dari kompetisi ini akan di berikan batu sihir berharga yang dio dapat dari monster tingkat tinggi dan biasanya seorang pria akan memberikannya pada lady yang ia sukai.


meskipun hari itu bersalju dan sebagian pasukan kedinginan, Althea malah tidak merasakan apapun ia bahkan dengan mudahnya berjalan diatas sungai yang sudah setengah beku, Alvaro geram melihat sifat Althea yang menurutnya sangatlah sombong itu.

__ADS_1


padahal posisi Althea di sini sebagai lady yang menunggu tapi Althea malah mengikuti Alvaro dan ikut berburu bersamanya, lebih parah nya lagi raja tidak mempermasalahkan itu dan malah mengizinkan Althea tanpa syarat apapun.


"aku tahu kamu seorang sword master tapi bisakah sekali saja berlaku seperti wanita sungguhan? apa rambut panjang dan wajah itu hanya pajangan?!" kesal Alvaro, Althea hanya menunduk meski wajah nya tetap datar namun hati nya tergores dengan ucapan Alvaro, rasanya sakit ia ingin menangis juga marah namun ia ingat pesan ayah nya.


emosi yang tidak stabil juga bisa menjadi penyebab keluarnya sisi iblis althea, ia tidak ingin menyakiti siapapun terlebih Alvaro laki-laki yang menjadi cinta pertamanya.


"kembalilah, aku tidsak akan memaafkan jika kamu tetap di sini dan melukai harga diri ku." mendengar ucapan Alvaro seketika hati Althea terasa seperti di tusuk ribuan jarum bersamaan.


althea menarik nafasnya dan menatap punggung alvaro penuh arti, dengan menaiki kuda putihnya althea meninggalkan Alvaro, ia melajukan kudanya dengan cepat seraya memikirkan ucapan Alvaro barusan hingga tanpa sadar air matanya keluar.


dan benar saja iris mata yang sebelumnya berwarna unggu kini berubah menjadi merah menyala, altheea menyadari perubahan pada matanya seketika ia membelokan jalannya menuju hutan yang semakin dalam.


suara rauman kecil sontak mengalihkan perhatian althea, dengan cepat althea melajukan kudanya menuju asal suara tersebut.


didepan mata Althea seekor bayi harimau putih tampak bergetar ketakutan melihat beberapa monster yang terlihat kelaparan.


dengan cepat althea mengeluarkan pedang dari sarungnya, sisi iblisnya yang tidak stabil itu membuat kepala nya sakit dan membuat pandangannya kabur.


Althea lengah di depan matanya bayi harimau putih itu kehilangan nyawa dengan kejam, separuh tubuhnya di makan namun separuh nya lagi di buang begitu saja.


seketika langit bersalju yang cerah berubah gelap, althea tidak bisa lagi mengendalikan amarah nya, matanya kini benar-benar menyala dan kabut hitam mulai berada diseekitarnya, angin pun mulai membuat badai salju yang sangat besar pedang yang di genggam allthea pun berubah seiring dengan salju yang menyelimutinya.


pedang yang tadinya tidak memiliki hiasan apapun itu kini memiliki rambatan mawar berduri dari gagang hingga bilahnya, mawar itu terbuat dari es dan di ujung bilah pedang tersebut terdapat ukiran lambang bertuliskan huruf 'A'


althea menatap sinis monster-monster yang kini sudah siap untuk memakannya, tanpa sadar mata menetes dari pelupuk matanya saat pandangannya teralihkan pada bayi harimau tersebut.

__ADS_1


ia terbayang sang ibu juga Ratu yang meninggalkannya begitu saja, kenapa semua yang menyayangi nya harus berakhir seperti itu kenapa althea tidak boleh menangis saat ia ingin kenapa ia tidak bisa mempeerlihatkan dirinya pada orang lain kenapa?


tanpa ampun Althea menebas monster-monster dihadapan nya satu persatu tak peduli noda darah yang mengotori sebagian pakaiannya, Althea menikmatinya saat-saat ia menebas monster-monster itu, ia menikmatinya saat dengan bebasnya ia mengekspresikan perasaan nya saat itu.


Althea mendekati bangkai bayi harimau itu ia tersenyum dengan tulus lalu mengucapkan terimakasih seraya meneteskan air matanya.


di sentuhnya kepala bayi harimau yang telah di lumuri darah itu, lagi-lagi ia meneteskan air matanya, air mata yang sudah lama di tampungnya. setetes air mata nya membasahi bayi harimau itu.


perlahan sinar berwarna biru membentuk 'snow flake' yang juga perlahan mengganti wujudnya menjadi bunga mawar berwarna biru yang bercahaya.


diiringi cahaya biru itu perlahan tubuh bayi harimau tersebut kembali seperti semula, loreng ditengah bulunya yang berwarna putih bagai salju menyerap cahaya biru itu dan membiarkan nya bersinar.


setelah cahaya itu hilang mata althea yang semula merah menyala kini kembali menjadi unggu tak lama setelahnya bayi harimau tadi bangun dan mendekati althea seakan-akan berterimakasih padanya.


sejak hari itu Althea memutuskan untuk merawat bayi harimau tersebut tentu saja ia tidak membawanya keistana Althea membawanya pulang kerumah nya benar kediaman duke Amaryllis.


setiap harinya althea berkunjung melihat perkembangan bayi harimau yang ia namai Canace itu.


rasanya beban althea sedikit berkurang saat mencurah kan isi hatinya pada Canace, meski bayi harimau itu hanya menjawab dengan raungan entah kenapa itu lebih baik dari pada seseorang yang berbicara langsung padanya.


Canace yang memiliki arti putih, bulu mu yang bagai tumpukan salju itu. tumpukan salju putih yang kulihat saat pertama kali bertemu dengan mu..


-Altheana Amaryllis.


......

__ADS_1


cara baca Canace itu 'kanas' ya nama canace sendiri aku ambil dari bahasa latin yang berarti putih jadi nama pena ku itu artinya hujan putih ya hehe..


-Ran.nace


__ADS_2