
Sinar rembulan saat itu terasa aneh, blood moon yang hanya bisa terjadi dalam jangka waktu seratus sembilan puluh lima kali tiba-tiba bersinar terang di langit malam yang terasa lebih gelap.
Mata Althea belum juga redup, mode iblis half devil bergantung pada emosi, ketika ingin menghidupkan biasa nya half devil akan menaikan emosi buruk dan jika ingin mematikan maka emosi nya harus netral.
Kemarahan yang tergambar dengan begitu jelas meski wajah Althea terlihat datar, seisi istana bergidik ngeri melihat aura hitam pekat itu. Setelah Althea pergi rumor buruk mulai bertebaran di seluruh Istana. Rumor tentang Althea yang menggunakan sihir gelap atau Althea bertransaksi dengan iblis dan masih banyak lagi.
Saat Althea tiba di rumah seseorang menunggu nya di depan pintu, orang itu bersandar pada tiang seraya membaca buku.
"Selamat datang," Ucap orang itu lembut. Ia hanya bisa tersenyum lembut melihat mata Althea yang masih merah menyala. Entah kenapa Althea melihat sosok sang ayah dari orang itu.
Benar, Felix entah kenapa belakangan ini orang itu terasa sangat berbeda di mata Althea, Felix terasa sangat hangat dan nyaman. Tapi justru itulah yang Althea takutkan ia takut perasaan berbeda ini kembali menghancurkan nya.
Ia belum mengetahui maksud Felix yang sebenarnya kenapa Felix membantu nya sejauh itu, karna sedari awal ada yang janggal sejak Felix mengatakan akan membantu nya.
Felix berjalan menuju Althea masih dengan senyum lembut nya, Felix menarik Althea dalam pelukan nya membuat amarah Althea meredam begitu saja. Althea mengedipkan mata nya berkali-kali memastikan bahwa mode iblis nya telah hilang.
"Kamu tidak sendiri, aku di sini." Bisik Felix membuat Althea tersentak, bagaimana bisa Felix tau apa yang sedang Althea harapkan.
...
Pagi hari nya Althea bangun dengan sangat segar, cuaca yang sangat bagus burung-burung yang berkicauan juga matahari hangat yang membuat suasana nyaman.
"Kamu terlihat lebih baik dari kemarin," Ucap seseorang dengan suara berat nya yang berhasil mengagetkan Althea. Orang yang tak lain adalah Felix itu entah sejak kapan berdiri di depan pintu dengan membawa nampan penuh makanan.
"Terima kasih, biasanya aku tidak seemosional itu." Althea tersenyum tipis dengan pandangan mata seperti sedang memikirkan sesuatu. "Anda tahu saya tidak mudah mempercayai orang lain kan?" Felix yang sedang meletakkan nampan di meja berhenti sejenak. Ia menatap Althea dalam dan penuh arti.
Felix duduk di samping Althea, ia mendekat dengan posisi seperti ingin memeluk, dengan lembut ia memasangkan kembali kalung Althea yang entah bagaimana bisa ada padanya.
"Aku tau, karna itu percayalah pada ku saat kamu ingin percaya," Bisik Felix. Perlahan liontin kalung itu bersinar merah memberikan rasa hangat yang bisa menetralisir dingin yang berasal dari sihir Althea.
"Hangat," Gumam Althea pelan.
__ADS_1
"Aku masukkan sedikit sihir di dalam sana, air memiliki memori dan es akan menjadi air bila di satukan dengan api."
....
"Apa?!!! kesatria putra mahkota? Bagaimana bisa?! Kapan itu terjadi Altheana bahkan tidak pernah bertemu putra Mahkota Wisteria!" Marah Alvaro setelah mendengar kabar dari informan kerajaan.
"Yang mulia anda harus memanggil nya lady Amarylis," Ucap lucas mengingatkan. Lucas juga ada di sana karna tiba-tiba Alvaro memanggilnya sama seperti prediksi Althea.
"Lady dan putra mahkota adalah kombinasi yang unik dan berbahaya bagaikan api yang membakar namun terasa sedingin es, tentu saja yang mulia raja sangat gelisah." Tawa lucas dalam hatinya.
*Flashback*
"Setelah kekacauan itu Alvaro pasti akan mulai gelisah, pagi hari setelah nya adalah waktu yang sangat pas untuk mengumumkan aku kesatria putra mahkota yang baru," Kata Althea dengan ekspresi puas.
"Aku penasaran bagaimana ekspresi beliau," Celetuk Lucas Seraya tersenyum meledek.
"Haha kau salah satu orang beruntung yang akan melihat nya Lucas." Althea tertawa kecil bersama dengan Lucas juga Felix yang ada di sana.
*backnow*
"Lady Amarylis berniat untuk mengambil alih posisi duke yang sedang kosong yang Mulia," Ucap Lucas serius. "Haha jadi dia kembali untuk menjadi Duchess? Dia pikir siapa diri nya itu?!" Lucas mengepalkan tangan nya geram si Brengs**k ini benar-benar tidak tahu diri.
"Menurut saya itu hal yang wajar, terlebih Lady gagal menjadi ratu dan kehilangan keluarga satu-satu nya." Pandangan mata Alvaro langsung teralih pada informan tersebut.
"Althea..."
...
Suasana gelap menyelimuti sepanjang lorong penuh debu yang berada di ujung ibu kota. "Yang mulia Ratu, sebenarnya siapa yang ingin anda temui?" Tanya seorang gadis berpakaian pelayanan dengan membawa obor di tangan nya.
"Seseorang yang mengetahui semua tentang dunia ini."
__ADS_1
Sampai di ujung lorong itu sebuah ruangan kecil dengan barang-barang yang sangat unik mereka berhenti.
*srettt* percikan darah mengotori gaun yang Irene kenakan suasana benar-benar sangat menyeramkan dan mengancam nyawa. Seorang pria tua dengan pakaian bangsawan muncul di belakang Irene. "Sudah ku bilang jangan bawa siapa pun Ratu." Ucap nya dengan tatapan tajam.
Tangan nya yang memegang pisau terlumuri oleh darah dari pelayan yang Irene bawa. Kedua nya kini duduk berhadapan dengan secangkir teh yang berada di tangan. "Bocah itu licik juga," Ucap pria itu seraya menikmati teh nya. "Ini bukan saat nya bersantai!! Kenapa juga putra mahkota wisteria bisa terlibat dengan Altheana!" Marah Irene.
Pria itu meletakkan cangkir teh nya diatas meja, "mungkin karna kedua nya bukan manusia." Irene molotot tidak percaya. "Apa maksudnya bukan manusia?" Tanya Irene. "Mendiang raja, Duke amarylis juga aku dulu nya adalah sahabat karib, sampai wanita itu menghancurkan nya semua nya, bocah amarylis dan putra mahkota itu memiliki aura yang sama, iblis!" Ucap pria itu.
"Jika memang mendiang raja dan Duke Amarylis sahabat karib anda, mengapa Anda ingin menghancurkan mereka, Marquess Gerbera?" Tanya Irene seraya menatap orang itu penuh tanda tanya.
"di sana lah bagian seru nya yang mulia."
...
Suara ricuh memenuhi seisi ruang rapat istana, para bangsawan mulai terbagi menjadi beberapa kubu, mereka sendiri juga merasakan perbedaan antara saat ini dan dulu.
"Bisakah kalian diam!!" Kesal Alvaro seraya menghentakkan tangan nya ke meja. Para bangsawan terdiam dan tak lama kemudian penjaga mengumumkan kedatangan Althea.
"Altheana Lunar Amarylis, memasuki ruangan!" Seru penjaga tersebut, dengan seragam lengkap dan pedang yang berada di samping nya Althea masuk ke ruangan.
Para bangsawan baik muda dan tua berdiri seraya mengangguk kepala memberi hormat, hanya satu orang di sana yang tidak berdiri, benar! Siapa lagi jika bukan Alvaro.
Althea berjalan menuju kursi kosong yang telah di siap kan untuk nya. Ia duduk berhadapan dengan Alvaro, seraya tersenyum kecil meledek Alvaro.
"Selamat menikmati Api yang dingin ini!"
....
halo semuaaaa!!! masih ada kah yang baca cerita ini? maaf karna ngilang terus-terusan ya tapi sebisa mungkin aku tetap mau lanjutin novel ini sampai selesai!
Terima kasih banyak buat kamu yang masih mau baca story ini! hope you Like it! jangan lupa like, vote, coment dan share ke teman-teman kamu yaa~
__ADS_1
see you next chapter!
-Ran.nace