
Matahari cerah yang menyinari jalanan pagi, pohon-pohon menari atas iringan angin. Seorang gadis berambut hitam pekat berjalan dengan santai menuju sekolah.
Irene juliany, seorang siswa sekolah menengah biasa yang tengah menjalani masa-masa sekolah yang menyenangkan. Ia populer diantara teman-teman seangkatan nya.
Irene terkenal baik dan sangat ramah, meski cantik ia tidak sombong dan membuat banyak orang menyukainya.
"Ren, mau pulang bareng? Gue bawa motor nih," Ucap salah seorang teman Irene. "Maaf ya Gue mau ke tempat lain dulu sebelum pulang, " Jawab Irene lembut.
Di perjalanan pulang Irene berbelok arah menuju sebuah tempat yang sangat tidak terduga, ia berdiri di depan tempat itu seraya menarik nafas sebelum masuk. Benar tempat itu adalah sebuah hiburan malam. Irene bekerja sambilan di sana sebagai pencuci piring.
Jujur ia takut berada di sana setiap hari nya namun demi menghidupi keluarga nya Irene tidak punya pilihan lain, tidak ada yang mau memperkerjakan anak di bawah umur terlebih tidak ada rekomendasi dari sekolah. Sang ayah yang cacat akibat kecelakaan membuat Irene dan ibu nya harus bekerja mati-matian untuk menghidupi keluarga kecil mereka.
Saat pandemi yang sulit membuat sang ibu di PHK oleh tempat ia bekerja, meski sangat sulit Irene berjanji pada diri nya sendiri ia akan memberikan kehidupan yang layak untuk orang tua dan adik-adik nya.
Hari berlalu begitu cepat hingg tanpa sadar matahari telah beristirahat. Pengunjung mulai berdatangan silih berganti. Membuat para pekerja sibuk dengan urusannya masing-masing bagi staff di belakang dapur seperti Irene zona depan adalah tempat yang sangat berbahaya mengingat tempat itu bukan lah tempat 'hiburan' semata.
"Ren, tolong ambil cucian piring di depan ya, kak Reon baru pulang ada urusan penting jadi izin setengah hari," ucap salah seorang rekan Irene yang bekerja sebagai staff di sana. Irene mengangguk mengerti meski begitu jantung nya berdegup dengan sangat kencang.
Ia takut terjadi sesuatu yang tidak seharus nya terjadi. Irene mulai berjalan membawa troli yang di gunakan untuk mengangkut Piring dan gelas kotor. Satu persatu meja ia datangi untuk di bersihkan.
Setelah selesai Irene bergegas menuju pintu dapur namun sebelum berhasil memasuki dapur seseorang tiba-tiba menarik Irene dengan sangat kasar.
Tanpa perlu berpikir panjang pun ia sudah tau apa yang akan terjadi selanjutnya, tidak mungkin seorang manusia yang tidak menginginkan apapun datang ke tempat seperti ini.
Irene berusaha keras melepaskan diri dari dekapan pelanggan itu. Irene merasa semakin lama pelanggan itu meraba tubuh Irene. Dalam hati nya ia sangat takut ia tidak ingin mengecewakan keluarga nya. Suasana tempat itu menjadi riuh akibat perbuatan pelanggan itu pada Irene.
"T-tolong lepaskan!" Ucap Irene seraya mendorong pelanggan itu untuk melepaskan diri, tidak ada seorang pun di sana yang membantu nya baik teman kerja, mau pun atasan Irene hanya terdiam melihat semua itu terjadi di depan mata.
"Kamu gak tau saya siapa?!! Berani-berani nya kamu!! Minta maaf!" Teriak orang itu, orang itu salah satu pelanggan VIP di sana seorang pemabuk yang gila. Alih-alih meminta Irene menatap jijik orang yang ada di hadapan nya itu.
"Kenapa menatapku begitu?! Dasar tidak sopan!!" Atasan Irene yang juga ada di sana memberi kode pada Irene untuk meminta maaf. "Saya sama sekali tidak berniat meminta maaf," Ucap Irene tegas.
__ADS_1
Suasana gaduh itu membuat pelanggan lain terganggu, atasan Irene menarik Irene dengan kasar. Ia memarahi dan memaki-maki Irene yang di nikah tidak becus dalam bekerja.
"Tidak ada yang menyuruh mu bekerja di sini!! Di sini bukanlah dunia anak kecil nona cepat atau lambat pun wajah seperti mu akan berakhir menjadi pel**ur." Irene membulatkan matanya, perkataan atasan nya memang tidak salah tapi tetap saja ia tidak terima dilecehkan seperti itu.
"P*l*c*r sial*n! Berani-berani mempermaluin gue!!"
*prangg!!!! Suara pecahan kaca yang sangat nyaring terdengar ke seluruh ruangan, dari belakang pelanggan tadi membawa botol minuman keras yang sudah ia pecahkan. Perlahan-lahan ia mendekati Irene tanpa suara.
*jleebb!! Sakit yang luar biasa Irene rasakan dari lehernya, tersayat-sayat pecahan kaca yang sangat tajam. Refleks Irene memegang leher nya yang terluka parah melihat begitu banyak nya darah yang berada di tangan Irene membuat Irene gemetar.
Ia terjatuh beberapa saat kemudian dengan botol kaca yang masih menancap di leher nya. Semua orang yang ada di sana panik bukan main. Perlahan-lahan kesadaran Irene mulai hilang bersamaan dengan rasa sakit yang ia rasakan.
"Ayah, bunda. Maafin Rene, maaf Rene belum bisa jadi anak yang berbakti."
....
"Ngun..Bangun.. Hei bangun!" Suara bising yang terdengar sangat dekat membuat Irene merasa terganggu.
"Ini di mana? Apa aku benar-benar sudah mati?" Ucap Irene dalam hati nya. Orang-orang di sini tidak memakai bahasa Indonesia tapi entah kenapa Irene dengan mudah nya bisa mengerti apa uang yang mereka bicarakan.
"Lihat rambut dan matanya hitam, apa dia penyihir?" Kata salah satu orang yang ada di sana.
Tempat ini terlihat sangat asing, pohon-pohon rindang danau yang sangat jernih juga orang-orang yang berpakaian aneh, jangan bilang tempat ini adalah dunia lain?! Persis seperti yang Irene baca di novel romansa.
Novel romansa yang mengisahkan tentang tokoh utama seorang gadis yang datang dari dunia lain, ia menemukan cinta dan berakhir bahagia bersama pasangan nya.
"Nona, makanlah." Ucap pria berambut pirang. Tanpa sadar Irene memperhatikan pria itu dari ujung ke ujung, pria itu benar-benar seperti lukisan hidup wajah nya begitu rupawan dengan rambut pirang dan mata kebiruan khas orang barat.
Setelah selesai makan pria berambut pirang yang di ketahui bernama Alvaro itu menanyakan beberapa pertanyaan pada Irene. Meski tidak masuk akal namun Alvaro sama sekali tidak membantah atau memotong ucapan Irene.
"Baiklah, menurut cerita mu tidak mungkin bagimu untuk pulang. Bagaimana kalau mengikuti kami ke kerajaan Astrantia. Tenang saja selama kau berprilaku baik maka tidak ada hal yang perlu di khawatirkan," Ucap Alvaro lembut seraya bangkit dari duduk nya.
__ADS_1
Hari demi hari Irene mulai lebih mengenal Alvaro juga dunia ini, dunia yang berbeda jauh dengan dunia Irene sebelum nya. Irene sendiri pun mulai nyaman berasa di sini meski terkadang ia teringat akan orang tua nya dan khawatir namun di saat itu selalu ada Alvaro yang mengatasi kekhawatiran nya.
Dari yang Irene tahu Alvaro adalah putra mahkota kerajaan Astrantia, tapi bagaimana bisa seorang putra mahkota selembut dan sebaik ini terlebih pada orang yang baru di temui nya.
Jika bisa Irene ingin terus berasa di sisi Alvaro, entahlah apa yang akan terjadi padanya bila Alvaro tidak menemukan nya di pinggir danau. Bagaimana pun juga bila bersama Alvaro ia tidak perlu mengkhawatirkan apa pun lagi.
Tapi...
"Kau dengar, katanya yang mulia putri Mahkota berhasil menjalin relasi dengan kerajaan anemone."
Tunggu?! Putri Mahkota? Yang benar saja! Bagaimana Irene harus membuat Alvaro menjadi milik nya. Irene tau bahwa jika Alvaro membuang nya ia tidak akan bisa hidup dan mati dengan sia-sia seperti kehidupan masa lalu nya.
"Aku harus bisa membuat Alvaro mencintai ku, aku ku buat dia menjadi milik ku!"
....
author note : latar belakang dunia Irene sebelum nya itu di Indonesia ya!
halo semuaa~
maaf baru update lagi ya, kabar baik nih buat kamu yang kemarin minta setiap hari. kalau untuk daily mohon maaf banget karna aku masih seorang siswa jadi belum bisa kalau benar-benar update setiap hari tapi sebagai ganti nya.
spesial minggu ini aku update setiap hari ya! dari hari senin sampai minggu.
buat eps kali ini ada yang kasian sama Irene? biasa aja atau? sukurin tuh!! komen ya!
jangan lupa like, coment dan vote ya!
see you tomorrow~
Ran.nace
__ADS_1