
*Kerajaan Astrantia, hari setelah pesta pernikahan.
Alvaro berjalan melewati lorong istana yang sudah gelap gulita ia menatap kearah bulan yang tengah bersinar dengan terangnya, Sinar bulan itu mengingatkan Alvaro pada Althea. Sebenarnya apa yang terjadi? Banyak sekali pertanyaan yang ingin Alvaro tanyakan pada Althea tapi jangankan bertanya kini ia bahkan tidak lagi melihat Surai perak itu.
Raut wajah Alvaro yang lelah bercampur dengan perasaan sedih. Ia sendiri pun tidak tahu kenapa bisa merasakan perasaan aneh ini padahal sebelumnya meski Althea terluka menghilang atau bahkan tidak sadarkan diri sekali pun tidak pernah terbersit rasa khawatir sama sekali.
Alvaro melanjutkan langkahnya menuju kamar, di sana sudah terdapat Irene yang menunggu Alvaro dengan raut wajah khawatir. "Kamu bekerja terlalu keras varo, istirahat lah sebentar," ucap Irene seraya menempatkan tangan nya di pipi Alvaro. Alvaro menyingkirkan tangan Irene dengan perlahan. "Astrantia sedang kacau, aku tidak bisa istirahat meski sebentar." Raut wajah Irene berubah ia marah mengapa semua kekacauan ini harus terjadi di hari pernikahan nya.
Benar! Semua ini karna keluarga Amaryllis si*lan itu, keluarga itu benar-benar menyusahkan, meski begitu Irene bersyukur karna kepala keluarga dan penerus satu-satunya sudah tiada. Ia berharap Altheana tidak akan kembali lagi ke Astrantia.
Kesibukan Alvaro berlangsung sangat lama, opini publik yang buruk, kematian panglima besar Astrantia juga masalah-masalah lain nya membuat Alvaro tidak punya waktu untuk Irene.
Jika saja Althea ada di posisi Irene sekarang ini apa yang akan ia lakukan? Mungkin beban Alvaro sedikit berkurang mengingat Althea terlatih untuk mengatasi permasalah rumit seperti ini.
"Yang mulia, tolong tanda tangani berkas ini." Alvaro meraih berkas yang di maksud ia membaca nya dengan teliti dan cepat kemudian menandatangani nya. "Sir Amaranth apa kamu benar-benar tidak tahu keberadaan lady Amaryllis?" Tanya Alvaro sebelum menyerahkan kembali berkas itu.
Count Lucas Vincent Amaranth, merupakan sekertaris sang Ratu yang kini beralih menjadi sekertaris kedua sang Raja selama tugas ratu di ambil alih oleh Alvaro.
"Saya juga ingin lady Amaryllis kembali yang mulia, namun saya tidak akan membiarkan Anda menangkap nya," ucap Lukas membuat Alvaro menaikan satu alis nya.
"Jadi kau memang tahu?" Tanya Alvaro lagi dengan nada yang sangat serius. Lukas tersenyum kecil "aku tidak tahu yang mulia." Alvaro menarik nafas panjang, ia hanya ingin tahu di mana Althea apa ia baik-baik saja atau tidak.
__ADS_1
Lukas keluar dari ruangan Alvaro membawa beberapa berkas yang harus ia berikan pada bagian keuangan istana. Namun tiba-tiba seseorang menepuk pundak nya, "Lucas!" Panggil seseorang dengan suara yang sangat familiar di telinga nya.
...
Di sisi lain Irene tengah meminum teh di taman bunga bersama dengan para lady di pergaulan atas, image Irene di mata mereka adalah seorang gadis polos yang tidak tahu apa-apa, mereka lega akhirnya lady Amaryllis yang menakutkan itu tidak akan menjadi ratu mereka.
Altheana lunar De Amaryllis seorang lady yang sangat tertutup, jarang mengikuti acara minum teh atau sosialiasi lain nya dengan para lady, jarang berbicara sekali pun berbicara ia hanya akan membicarakan masalah pekerjaan.
"Yang mulia Ratu, hubungan anda dan yang mulia terkenal sangat romantis. Apakah bisa yang mulia memberi tahu kami rahasia nya?" Tanya seorang lady tiba-tiba. "Ah, aku tidak punya rahasia apa-apa aku dan yang mulia jatuh cinta pada pandangan pertama dan semua nya berjalan begitu saja." Irene tersenyum manis, rasanya baru kemarin ia datang ke tempat ini.
"Yang mulia maaf menanyakan hal ini, tapi apa lady Amaryllis benar-benar memiliki kekuatan supranatural," tanya salah seorang lady. "Benar, kami penasaran yang mulia saat itu kami tidak sadarkan diri dan hanya melihat samar-samar." Jantung Irene berdetak kencang ia tidak tahu apa yang harus ia katakan.
"I-itu aku juga tidak yakin," kata Irene gugup. Entah mengapa ia merasa ragu untuk mengatakan yang sebenarnya ia yakin Althea memang memiliki kekuatan supranatural namun ia merasa akan ada hal besar yang terjadi kalau ia menjawab dengan yakin.
*Krieet... Suara pintu yang terbuka menghamburkan pikiran Irene. Seperti malam-malam sebelum nya Alvaro pulang dengan keadaan berantakan, kantung mata yang makin menebal dan beberapa hari ini Irene mencium sedikit aroma alkohol dari Alvaro.
"Varo," panggil Irene lembut. "Aku sedang tak ingin berdebat dengan mu Rene," ucap Alvaro membuat hati Irene sedikit tergores. "Aku bahkan belum berkata apa pun." Irene menatap Alvaro sedih.
"Malam pertama? Bulan madu? Liburan? Kau tahu aku tidak bisa melakukan semua itu dalam waktu dekat ini kan, Rene dengar aku hanya belum bisa melakukannya aku berjanji setelah semua ini selesai-"
"Kau selalu saja begitu!! Kau selalu mengganggap pikiran ku serendah itu! Ku pikir aku bisa bahagia setelah menikah dengan mu, ku pikir aku tidak perlu lagi khawatir tentang hidup dan mati, tapi nyatanya apa yang ku dapatkan?!" Teriak Irene membuat Alvaro tersentak, Alvaro menarik nafas berusaha tidak memperpanjang masalah ini. "Sudahlah aku lelah, kita bicarakan lain kali." Alvaro beranjak menuju kamar mandi yang berada tak jauh dari ruang utama kamar nya.
__ADS_1
Irene melihat punggung Alvaro dengan perasaan kesal bercampur sedih, ini benar-benar menyakitkan untuk nya perlahan air mata Irene menetes keluar "Hiks..hiks... Ayah, ibu.." ucap nya dalam tangis.
Di tengah kegiatan nya Alvaro memejamkan mata nya membayangkan betapa berbeda nya Irene dan Althea. Ia sadar bukanlah hal yang baik bagi nya membandingkan sang istri dengan mantan tunangan nya namun tetap saja di saat-saat ini ia selalu membayangkan bagaimana jika Althea masih ada di sini bersama nya.
Di pagi hari yang bahkan matahari saja belum benar-benar menunjukan sinar nya Alvaro sudah bangun dari tidur nya, ia berjalan-jalan sebentar di tempat di mana kenangan nya dengan Althea dan sang ibu tersimpan.
"Sejak kapan warna bunga di ganti?" Ucap Alvaro kala melihat sekeliling taman. Ia ingat betul sang ibu dan Althea sangat menyukai mawar berwarna biru. Taman ini adalah tempat di mana masa kecil nya dan Althea terasa sangat hangat.
"Apa mungkin karna kekuatan itu Altheana menjauh, sebenarnya mahluk apa Altheana sebenarnya." Alvaro bergelut dengan pikiran nya sendiri. Di antara pikiran nya untuk mempercayai Althea dan akal sehat nya yang mengatakan itu tidak mungkin. Bagaimana pun Althea Sekarang ini adalah seorang buronan.
Alvaro menduduki kursi taman yang dulu selalu ia duduki bersama Althea bila berada di taman ini, tempat di mana kedua nya membicarakan tentang masa depan Astrantia ketika sudah menjabat sebagai raja dan ratu namun takdir berkata lain.
Alvaro memang masih berada di posisi nya namun yang saat ini berada di sisi nya bukanlah Althea melainkan Irene, gadis polos yang dapat membuat Alvaro jatuh cinta pada pandangan pertama.
"Ibu, maafkan aku."
.....
halo semua nyaaa!!!
aku mau tanya nih, kamu mau aku update seminggu sekali 1 chapter atau 2 Minggu sekali dengan 3 chapter sekaligus? coment yaaa!!
__ADS_1
see you next chapter bye-bye
-Ran.nace