
"Selamat atas debutante anda yang Mulia Ratu." Mata Irene membulat tidak percaya, kenapa? Kenapa wanita ini kembali lagi?! Kenapa di saat-saat penting seperti ini?! Kenapa?
Althea berjalan melalui jalan kecil yah di buat nya, ia sampai di hadapan Irene dan tersenyum dengan anggun. Mata merah Althea membuat Irene bergidik ngeri, Althea benar-benar sangat menakutkan tidak seperti Althea yang terakhir ia temui.
"U-untuk apa kau kembali?!" Ucap Irene, Althea terkekeh "Anda bertanya bukan karena tidak tahu kan?" Ekspresi Irene benar-benar kacau. Ia memang pernah berpikir mungkin saja Althea akan kembali tapi ia tidak mengira akan secepat ini!
"Ku harap anda menyelesaikan pelajaran tatakrama anda yang mulia, ekspresi wajah seperti itu benar-benar tidak sopan." Dayang-dayang Irene menatap Althea dengan hina. "Beraninya kau yang seorang buronan mengatakan hal seperti itu pada yang mulia!!" Althea menganggukkan kepala nya. "Buronan ya? Aku lebih suka kalian menyebutku penjahat dari pada buronan."
"Aku mungkin akan datang lain kali untuk menyapa secara resmi, kau tau? Tidak mudah memperbaiki duchy yang kau kacau kan, aku sibuk jadi sampai nanti," Ucap Althea segera meninggalkan tempat itu.
Saat Althea sudah tidak terlihat Irene jatuh tersungkur "yang mulia!" Histeris dayang-dayang Irene. "Altheana Amarylis! Aku pasti akan membalas mu!!"
...
-Mansion Duke Amarylis
"Kau benar-benar mengacaukan semua nya ya Althea," Ucap Felix yang tiba-tiba datang dari perapian yang ada di kamar Althea.
"Aku akan lebih menghormati jika anda menggunakan pintu yang mulia Putra Mahkota."
"Felix!" Tegas Felix tidak suka, "jadi bagaimana wajah mereka?" Tanya Felix setelah duduk berhadapan dengan Althea.
"Sayang nya aku hanya bertemu Irene, tapi bukankah akan jauh lebih seru jika sedikit rasa penasaran ikut campur untuk kali ini?" Felix tersenyum penuh arti.
*toktok
"Masuk," Ucap Althea saat mendengar pintu ruang kerja nya di ketuk. Seseorang masuk dan berjalan membawa tumpukan kertas, benar itu lucas. Lucas menaruh dokumen tersebut di meja kerja Althea.
Iya mengambil salah satu dokumen lalu berjalan menuju Althea dan Felix yang tengah menikmati secangkir teh di sofa.
"Anda akan ikut mendengarkan juga yang mulia?" Tanya Lucas seraya membungkuk kecil memberi hormat. Felix menggangguk mengiyakan.
"Sesuai dugaan Lady, Baron Liciantus punya sesuatu dengan Ratu oleh karna itu dia tidak mengurus wilayah dengan baik," ucap lucas membacakan laporan yang ia dapat, Baron Liciantus adalah salah satu bangsawan yang ada di bawah kuasa Duke amarylis namun sejak duke Amarylis meninggal kinerja keluarga itu memburuk hingga banyak keluhan berdatangan dari rakyat.
__ADS_1
"Justin Liciantus ya, anak durhaka itu benar-benar kacau!" kata Althea seraya menggelengkan kepala nya. "sejak dia menjabat ada sekitar 30 orang yang mengeluh kan beberapa masalah berbeda diantara nya kenaikan pajak, penggusuran lahan secara tiba-tiba juga kelompok perampok yang masuk dengan mudah ke beberapa desa setempat." Althea dan Felix menggangguk paham. benar semua nya akan jauh lebih mudah jika kambing menghitam kan diri nya sendiri.
"kalau benar dia ada hubungan nya dengan ratu kita harus punya bukti yang kuat untuk mendukung, kalau begitu pertama kumpulkan semua orang yang pernah mengeluhkan kinerja nya, setelah nya selesaikan permasalahan mereka secara terang-terangan kita juga perlu menggiring opini rakyat," kata Althea dengan raut wajah serius. lucas mengerti maksud Althea ia langsung saja mencatat hal-hal yang di perlukan.
"selanjutnya mengenai kerjasama dengan pihak luar, beberapa perwakilan menunggu jawaban lady untuk bertemu secara langsung, sebagian sudah menyetujui syarat dan ketentuan yang lady berikan, pihak istana yang sudah kewalahan dengan permasalahan itu pasti tidak menyangka kita menggambil perjanjian kerja sama itu duluan." lucas tersenyum bangga, bukan ingin membandingkan karna memang perbedaan nya terlalu jauh tapi memang begini la cara bekerja seorang pemimpin.
sayang sekarang saingan lucas putra mahkota kekaisaran. jadi begini jika rencana Althea di jabarkan. pertama untuk membuat nya menjadi duchess tanpa hambatan apapun dari raja dan ratu ia butuh beberapa tali yang bisa mengikat opini raja dan ratu juga meenjadi jembatan bagi nya untuk menyebrang dengan mudah.
maka dari itu Althea meminta Lucas mengumpulkan data mengenai keadaan duchy saat ini dan permasalahan yang dibuat koneksi Ratu yang akan membuat nya menjadi pemimpin yang baik di mata rakyat karna sudah menyelesaikan permasalah mereka yang tak kunjung selesai.
yang kedua masih ingat dengan Alvaro yang kesulitan karna kerja sama dengan pihak luar dibatal kan? sebenarnya sejak awal perjanjian itu Althea yang mengurus nya para utusan negara bahkan pimpinan negara pun mengenal Althea dengan baik maka dari itu mereka ingin bekerjasama dengan Astrantia dan saat Irene menggantikan Althea banyak pelanggaran kontrak yang di lakukan Astrantia jadi Althea berpikir kenapa tidak ia mengajukan perjanjian atas nama Amarylis pada negara-negara tersebut, tentu pihak istana tidak bisa berkutik di hadapan kontrak kerjasama yang mereka incar.
Menjadikan Althea sebagai Duchess atau kalau mereka menolak berarti mereka siap berperang.
....
"Apa kamu masih mencintai nya?" Tanya Felix tiba-tiba, Althea yang tengah merapikan pakaiannya pun terkejut. Althea menarik nafas perlahan "entahlah aku sudah banyak dikecewakan, meski tidak sepenuhnya hilang rasa benci ku jauh lebih besar di banding perasaan itu." Jadi meski sedikit perasaan itu masih ada, Felix memalingkan wajah nya sejenak untuk mengontrol emosi nya.
"Felix?" Panggil Althea yang bingung.
"Bukan kah itu Lady Amarylis? Kasihan sekali ku dengar jasad mendiang Duke tidak mendapatkan pemakaman yang layak." Jantung Althea berdegup sangat kencang mendengar perkataan pelayan yang berjarak cukup jauh dari nya.
Marah, benci, sedih bercampur aduk menjadi satu. "Alvaro aku tidak akan pernah memaafkan mu." Gumam Althea dingin.
*Brakk!!
Dobrakan pintu mengagetkan seisi ruang tahta, Alvaro dan Irene yang sudah duduk di singgasana pun terkejut bukan main.
Semua penerang yang ada di sana mati hingga hawa dingin dari luar pun masuk.
Semua benda berterbangan di mana-mana, mata merah bercahaya yang memancarkan amarah menatap kecewa pada Alvaro, pandangan mata Althea teralihkan pada seorang bergaun merah muda yang kini berasa di belakang Alvaro.
Seraya memegang pedang berlumuran darah yang berlambangkan keluarganya Althea mendekati raja dan ratu yang baru saja naik tahta, senyuman yang sebelumnya tak pernah ia tunjukkan dari bibir ranum itu, mengarah tajam pada pasangan manusia yang ada di hadapannya.
__ADS_1
Althea mengibaskan pedangnya yang penuh darah kemudian memasukkan nya kedalam sarung pedang yang berada di sebelah kirinya, Althea membungkuk kearah Raja dan Ratu seakan-akan memberikan hormat pada keduanya.
"Duchess Altheana Lunar De Amarylis menghadap matahari dan bulan kerajaan," ucap Althea seraya tersenyum membuat dirinya benar-benar terlihat seperti iblis.
"Iblis!" Ucap sang ratu tiba-tiba meneriaki Althea, bukannya merasa sedih akan hinaan itu Althea bangkit dan menatap ratu dengan tatapan kasihan.
"Kasar sekali perkataan yang mulia ratu ini, seperti nya yang mulia ratu masih harus melanjutkan kelas tata krama," kata Althea dengan nada merendahkan, membuat sang ratu berambut hitam itu gemetar tidak karuan, rasa takut memenuhi dirinya, gelisah dan seakan-akan akan mati jika salah bergerak sedikit saja.
Raja yang melihat sang istri gemetaran meminta kesatria di belakangnya untuk melindungi sang ratu.
"Mau apa kau kembali Thea!" Teriak raja pada gadis berambut perak dihadapannya itu.
Althea memiringkan kepalanya dan menaruh jari telunjuknya di bibir, Thea? Mengapa raja yang terhormat bisa melakukan hal tidak terpuji dengan memanggil nama bangsawan seenaknya, terlebih yang ia panggil adalah mantan tunangannya.
"Thea? Anda tidak boleh sembarangan memanggil nama bangsawan yang mulia, terlebih bangsawan yang memiliki darah iblis dalam tubuhnya," ucap Althea seraya menyeringai bagai iblis.
Raja mengeluarkan pedangnya bersiap untuk menyerang gadis bermata merah itu, dengan sikap waspada raja mengarahkan pedang nya pada Althea.
"Aku hanya menyapa yang mulia dan mengambil apa yang seharusnya jadi milik ku mungkin, kamu seharusnya tau apa yang akan kamu dapatkan bila mengganggu keluargaku," kata Althea yang tiba-tiba sudah berada di belakang raja.
"Kamu tidak sopan!! Kamu harus di hukum karena mengancam keluarga kerajaan," teriak ratu dari pojok ruangan, kesatria berusaha mencegah ratu untuk mengatakan itu namun ratu tidak mendengarkan perkataannya dan berhasil membuat tatapan tajam Althea mengarah padanya.
"Heh, istri mu ini berani juga ya 'mantan tunanganku' jika dia bukan ratu mungkin aku sudah memotong lidah nya, ah maaf sekarang pun aku bisa memotong lidah nya. Tapi memotong lidah nya saja tidak cukup mari lihat sampai mana kalian akan hancur."
Althea melangkahkan kakinya keluar dari ruang singgasana kerajaan, diikuti canace yang berada di belakangnya.
....
halo semua long time no see~
aku mau bilang Terima kasih banyak buat kamu yang masih mau baca novel yang update nya lama Banget ini 😅 mungkin kemarin bisa di bilang aku hiatus? ya bisa juga karna satu dan lain hal aku ngerasa ga puas sama hasil tangan ku sendiri tapi sekarang maybe bisa lebih pede lagi hehe
pokonya thank you for Reading my story hope you Like itu and stay tuned!
__ADS_1
-Ran.nace