
waktu berganti dengan begitu cepat tak terasa Althea kini sudah selesai menjalani hukuman yang di berikan Alvaro, althea sudah bebas berkeliaran di mana pun namun tetap saja semua orang mengganggap nya pembunuh, kini orang-orang menjuluki nya pedang rembulan meski cantik dan anggun ia di kelilingi kegelapan, juga tajam dan berbahaya layak nya pedang.
"kuat?" Althea menatap nanar surat yang masih saja belum bisa lepas dari pikiran nya.
Althea menggenggam erat pedang yang setia berada di sisi nya, ia meletakkan surat itu di laci meja rias nya lalu merapihkan seragam yang di kenakan nya, althea berjalan keluar dari gedung utama mansion Duke, di depan sana sudah ada kuda putih milik nya yang sudah menunggu.
Althea melajukan kuda nya menuju istana, kini wisteria di sibukkan dengan pernikahan calon Raja dan Ratu mereka yang baru, sudah banyak tamu yang mulai berdatangan dari berbagai negara bahkan putra mahkota kekaisaran juga akan datang memberi selamat.
Althea bahkan tidak tertarik dengan persiapan mewah yang di siapkan Irene namun masih ada saja orang-orang yang merendahkan Althea.
Althea turun dari kuda nya dan bergegas menuju ruang kerja sang ayah, Duke Amaryllis hanya memiliki satu anak alhasil Althea lah yang harus menggantikan sang ayah mengerjakan tugas yang ada di istana.
"yang mulia putra mahkota memasuki ruangan..." ucap salah seorang penjaga.
"saya sudah tau maksud kedatangan anda, jadi tolong jangan ganggu pekerjaan saya," ucap Althea dingin seraya merapihkan dokumen yang baru datang. Alvaro terdiam sejenak entahlah ada keraguan yang masih mengganjal di hati nya, ia hanya ingin mengucapkan satu kata tapi kenapa sulit sekali keluar dari mulut nya.
"Altheana aku hanya-" belum sempat alvaro berkata althea langsung membungkam nya dengan tumpukan dokumen.
"saya tahu anda akan menikah, tapi jangan lupakan pekerjaan anda dan buang-buang waktu seperti sekarang ini." Althea pergi dari hadapan alvaro begitu saja.
istana tanpa hiasan apapun sudah sangat sangat mewah dan kini jadi lebih mewah lagi dengan permata yang tersebar sejauh mata memandang, Althea tersenyum sinis apa sebahagia ini mereka setelah mendiang raja meninggal belum lama ini.
Althea bertanya-tanya apakah hanya diri nya yang masih merasakan sedih atas kepergiaan beliau. Althea berjalan menuju tempat latihan para kesatria ia melewati taman penuh kenangan itu betapa terkejut nya ia melihat mawar-mawar di sana berubah menjadi warna merah.
"ah, Lady amaryllis kau di sini bagaimana apa kau menyukai taman baru ku?" tanya irene yang tengah menikmati waktu nya seraya meminum teh. althea berusaha menyembunyikan amarah nya bisa saja ia membunuh irene di tempat namun althea tidak mungkin melakukan itu.
"apa yang mulia putra mahkota tahu putri mengganti jenis bunga nya?" tanya althea dengan nada rendah nan dingin.
"tentu saja, lagi pula istana ini juga akan jadi milik ku bukan nya rumah harus menjadi nyaman bagi pemilik nya." irene tersenyum merendahkan.
"Sayang nya istana tidak senyaman itu yang mulia, meski indah namun permata yang tersebar adalah simbol pertumpahan darah," ucap Althea seraya menatap Irene dengan rasa iba.
__ADS_1
Lucas tiba-tiba datang menghampiri kedua nya dahulu ia adalah sekertaris sekaligus asisten Althea, saat Althea keluar dari istana Lucas bersikeras ikut dengan Althea namun Althea mengatakan untuk tetap berada di istana.
"Salam bagi bintang kerajaan," ucap Lucas memberi salam pada Irene, tak lupa ia juga memberi salam pada Althea.
"Ada apa mencari ku?" Tanya Irene, Lucas tersenyum lembut. "Maaf kan saya yang mulia tapi tujuan saya adalah untuk menyampaikan pesan pada Lady Amaryllis." Raut wajah Irene seketika berubah, tangan nya mengepal namun ia tidak bisa begitu saya melampiaskan kekesalannya itu.
"Kami permisi dulu yang mulia," ucap Althea sedikit menundukkan kepalanya untuk hormat, Lucas pun juga ikut memberi hormat lalu menuntun Althea menuju tempat yang di maksud.
Di tengah koridor istana Althea menghentikan langkahnya. "Aku yakin kamu tidak punya pesan apa pun untuk ku sir Lucas." Mendengar ucapan Althea Lucas terkekeh memang benar kebetulan situasi nya mendukung untuk melampiaskan kekesalannya selama ini.
"Jangan terlalu sering melakukan nya bagaimana pun sekarang dia atasan mu." Lucas tertawa semakin kencang bukan nya melarang Althea malah mengatakan untuk tidak sering melakukan nya. "Bagaimana pun lady juga suka melihat ekspresi nya kan," ucap Lucas membuat tubuh Althea bergetar menahan tawa.
Lucas mengantarkan Althea sampai tempat latihan para kesatria, semua orang berbisik ketika melihat Althea ya mau bagaimana pun kini Althea masih menjadi tersangka utama kasus pembunuhan raja terdahulu.
Althea memasuki gudang senjata yang ada di pojok lapangan, ia melihat satu persatu senjata yang sebagian besar nya telah usang. Althea mengambil satu pedang yang ada di pojokan dan kemudian menebas nya ke sembarang arah.
"Meski telah usang pedang ini masih punya tujuh puluh persen peluang untuk membunuh setidak nya lima sampai sepuluh orang," ucap Althea seraya memperhatikan dengan detail pedang yang ada di genggaman nya.
Althea meletakkan pedang itu di tempat nya semula, ia meminta sir Fredrick sekertaris sang ayah untuk mencatat semua kekurangan yang ada di gudang ini.
Sebelum meninggalkan gudang Althea melihat suatu keanehan seperti ada sesuatu yang seharusnya tidak di letakkan di sana. "Bukankah kita hanya menggunakan racun dari bisa ular?" Tanya Althea pada bawahan nya seraya mengambil satu botol racun berwarna biru keunguan.
*Racun bisa ular digunakan untuk melumuri senjata tajam.
"Seharusnya memang begitu Lady," jawab salah seorang dari kesatria. Althea membuka tutup dari botol racun itu kemudian mencium bau nya. "Lady!!" Teriak para kesatria saat melihat Althea.
Althea mulai mengamati detail dari racun dari tersebut dan sudah bisa di pastikan racun itu berasal dari bunga wolfbane, jenis bunga ini tidak langsung membuat korban mati tapi perlahan-lahan dan semakin merusak, kinerja tubuh.
"Kapan terakhir kali kalian menaruh persediaan racun?" Semua orang terdiam entah mengapa aura Althea berubah menjadi sangat dingin.
"Sekitar enam bulan yang lalu lady, tapi saya yakin hanya ada bisa ular saat itu." Althea mengangguk mengerti ia sudah bisa membaca apa yang terjadi ia hanya perlu mengumpulkan bukti yang lebih lagi.
__ADS_1
...
Dari waktu ke waktu Althea bekerja keras dan melakukan semua hal yang ia bisa untuk Amaryllis, kabar tentang Althea yang menjadi tersangka utama pembunuhan mendiang Raja tersebar keseluruhan kekaisaran wisteria.
Bahkan tak jarang ketika berpapasan dengan Althea utusan dari negara asing dengan terang-terangan menghina nya, ia bisa saja tidak memperdulikan hal itu jika ia bukan lah seorang Amaryllis tapi saat menginjakkan kaki di istana jubah berlambang kan Amaryllis lah yang selalu berkibar dan menemani nya.
Di sisi lain Alvaro tengah bermain dengan waktu yang terus mengejarnya, seharus nya ia fokus untuk menyelesaikan tugas nya sebelum acara pernikahan tiba namun Irene terus saja mengganggu nya.
"Varo, apakah kau tidak bisa meluangkan sedikit saja waktu mu untuk ku? Sebentar lagi hari pernikahan kita aku ingin kita memilih cincin bersama-sama." Alvaro menatap Irene tak habis pikir bukan kah iya sudah memberikan cincin mendiang Ratu pada Irene?
"Bukan kah sudah ku berikan?" Tanya Alvaro, "Desain itu terlalu sederhana dan tidak cocok dengan gaun ku," jawab Irene membuat Alvaro kesal.
"Aku baru saja kehilangan ayah ku, tapi kau meminta acara pernikahan semegah ini, aku mengerti menikah itu sekali seumur hidup dan perempuan mana pun pasti menginginkan hari pernikahan nya sempurna tapi ayah ku baru saja pergi Irene." Irene tertegun dengan perkataan Alvaro memang apa salah nya jika ia ingin yang terbaik? Toh Alvaro yang meminta pernikahan secepatnya!
"Ku mohon kita lakukan dengan sederhana saja," kata Alvaro seraya menatap Irene lembut.
"Aku juga tidak meminta menikah secepat ini!! Kau selalu saja begitu padaku, aku tidak secantik wanita itu yang dengan pakaian sederhana saja sudah terlihat sempurna!" Teriak Irene membuat emosi Alvaro terpancing.
"Kau selalu saja membandingkan diri mu dengan Althea!! Sadar lah Irene yang ku pilih itu kau! Aku begini Karna mencintai mu tapi kenapa kau selalu membandingkan diri mu dengan Althea?!" Irene terdiam air mata nya mulai mengalir bagaimana ia tidak membandingkan diri nya dengan Althea jika Alvaro selalu saja menetapkan standar Altheana padanya.
Seluruh Astrantia kini sedang heboh menyiapkan parade warga menghias jalanan dengan bunga-bunga dari seorang pria berjubah hitam tersenyum sinis.
"Orang-orang bodoh."
...
halo semua!!! terima kasih banyak buat 2k nyaaa!!! maaf Karna udah lama banget gak update rencana nya bulan Desember nanti aku bakal lanjut lagi novel ini Karna akhir bulan November ada ujian hehe maklum masih pelajar :)
thank you for reading my story hope you enjoy!!
Ran.nace
__ADS_1