Menjadi Duchess Iblis

Menjadi Duchess Iblis
18. bantu aku


__ADS_3

Hari demi hari berlalu perlahan Althea mulai pulih sepenuhnya, hari-hari yang ia habiskan di mansion itu ia gunakan untuk belajar dan mengenal Felix lebih jauh.


Felix terlihat tidak asing bagi Althea seperti mereka sebelum nya saling mengenal tapi Althea ingat betul mereka tidak pernah berinteraksi sebelum nya. Althea duduk di taman mansion di temani canace ya Althea memanggil canace untuk menemani nya.


"Sedang apa?" Tanya Felix yang tiba-tiba muncul. "Yang mulia kenapa anda membantu saya?" Tanya Althea dengan nada datar. "Bukankah aku pernah menjawab nya." Felix duduk di samping Althea dan mengelus bulu canace.


"Dia tidak pernah serakah itu pada orang lain," ucap Althea seraya memperhatikan Felix yang sedang bermain-main dengan canace. "Benarkah?" Tanya Felix merasa senang. Felix bangkit dari duduknya, "Lady bersiap lah aku akan membawa mu ke suatu tempat," ucap Felix seraya mengulurkan tangannya pada Althea.


...


Kedua nya berangkat dengan menaiki seekor kuda, menggunakan kereta kuda hanya akan menarik perhatian jadi Felix memutuskan untuk menaiki kuda bersama Althea. "Yang mulia, sebenarnya saya bisa menunggang kuda," ucap Althea di pertegahan jalan. "Aku tahu, tapi kondisi mu tidak memungkinkan untuk berkuda sendirian." Entah kenapa raut wajah Felix yang serius sangat berbeda.


Kulit nya yang seputih susu dengan rambut berwarna hitam legam yang sangat kontras, iris berwarna biru bagai samudra yang sangat indah. Tanpa sadar Althea menatap Felix begitu lama membuat Felix yang menyadari nya pun terkekeh. "Apa wajah ku cukup menarik untuk lady amati." Felix tersenyum membuat Althea memalingkan wajahnya.


Setelah menempuh perjalanan beberapa menit mereka sampai di sebuah tanah luas, benar tanah ini di gunakan untuk berperang. Setelah menginjakkan kaki di tempat ini Althea merasa sesak tanpa sadar ia mulai berubah mata samar-samar mulai bersinar, es juga mulai terbentuk di daerah yang gersang itu "Althea!" Teriak Felix berusaha menyadarkan Althea.


Althea menarik nafas panjang mencoba menetralkan suasana hati nya. Felix menggandeng tangan Althea menyalurkan api milik nya ke tangan Althea. Althea sama-sama sekali tidak merasa terbakar ia hanya merasakan kehangatan dari tangan Felix. "Terima kasih," ucap Althea pelan membuat Felix tersenyum.


Mereka mulai mencari petunjuk, namun setelah beberapa lama kedua nya tidak menemukan apapun, hanya tersisa anak panah juga tombak yang tersisa dari perang kemarin. "Bukan di sini, ayah ku tidak mungkin terbunuh di sini," ucap Althea raut wajah Felix berubah makin serius ia memikirkan semua kemungkinan yang ada.


"Elemen mu es bukan?" Tanya Felix tiba-tiba, Althea mengangguk. "Pernah dengar air membuat kenangan dan es yang menyimpan nya?" Althea tersentak kata-kata itu persis seperti kata-kata terakhir mendiang kaisar. "Iya pernah," jawab Althea. Seketika Althea langsung memahami maksud Felix.


Ia mengumpulkan semua sisa darah dan air yang ada di sana ia mengumpulkan menjadi satu dan melemparnya kebawah, asap mulai muncul di mana-mana berbagai memori dari orang yang berbeda-beda pun muncul bagai sebuah layar film.

__ADS_1


Satu demi satu Althea melihat nya, dengan memakai kemampuan ini bukan hanya memori namun perasaan dan emosi milik seseorang pun akan ikut Althea rasakan. Althea menggenggam tangan nya erat-erat Felix yang menyadari itu pun menggandeng tangan Althea memintanya untuk membagi perasaan dan emosi itu pada Felix.


Lama mereka mencari namun seperti dugaan mereka sebelum nya Duke Amaryllis pulang dengan memenangkan peperangan. "Apa ayah masih hidup?" Tanya Althea pada Felix dengan nada yang gemetar. Felix tidak tega melihat Althea begitu menderita seperti ini.


"Ayo kita pulang." Felix mengulurkan tangannya dan di sambut oleh Althea, mereka pulang dengan menyusuri jalan yang berbeda berharap akan ada petunjuk lain.


Di pertengahan jalan tiba-tiba Felix menghentikan kudanya ia melihat sesuatu yang sangat familier. "Bukan kan kah itu lambang keluarga lady?" Ucap Felix membuat Althea langsung melihat benda yang di maksud Felix. Felix turun terlebih dahulu dari kuda dan membantu Althea turun. Buru-buru Althea mengambil potongan kain itu.


Hati nya terasa sangat sesak itu adalah potongan jubah milik sang ayah, Althea terduduk di tanah seraya memeluk potongan jubah itu. Sementara Felix yang melihat itu hanya bisa terdiam ia beberapa kali mengedipkan mata untuk menetralkan warna matanya.


Felix memulai mencari petunjuk lain dan ia menemukan bercak darah pada pepohonan tak jauh dari sana. Felix menghampiri Althea. "Aku tahu ini hal yang sangat berat untuk mu, tapi bagaimana pun kita harus tahu apa yang sebenarnya terjadi." Althea menatap Felix dan mengangguk. Felix menuntun Althea menuju pohon tadi ia meminta Althea untuk kembali membekukan darah itu.


Althea terdiam setelah memori itu muncul. Darah itu adalah milik seorang kesatria Amaryllis yang Althea kenal. Memori itu menampilkan sisa pasukan Astrantia yang tengah berada dalam jalan pulang.


"Yang mulia Duke, lari lah selamat kan diri anda!" Teriak salah seorang rekan Kenny yang berasal dari Amaryllis. Mereka terpojok, tak di sangka pasukan musuh semakin bertambah. "Aku memang merasa aneh saat Alvaro mengirimku kemari, katakan siapa yang mengirim kalian!" Pertarungan menjadi semakin sengit korban banyak berjatuhan dari kedua pihak. "Meskipun anda tahu, anda tidak akan bisa mengatakan nya pada siapa pun.


*Sringgg!!! Takkk!! Sringgg


Suara pedang mengadu yang terdengar sangat nyaring Duke mulai kewalahan dengan pasukan musuh yang tidak ada habisnya. "Ayah.." gumam Althea pelan, kesatria Amaryllis berhasil mengalahkan pasukan musuh hingga tak tersisa satu pun. Kenny salah satu yang selamat dari pertarungan itu meski ia terluka sangat parah.


Mereka berjalan seraya merangkul rekan nya yang terluka begitu pun Duke. Namun ternyata tak hanya sampai di situ.


*Whosshh...jlebb..

__ADS_1


Anak panah melesat menusuk satu persatu kesatria yang tersisa, begitu pun dengan Kenny. "Yang mulia lari lah!!!" Teriak Kenny di sisa-sisa waktu nya pandangan Kenny mulai mengabur.


*Jlebb..


Anak panah itu berhasil mengenai Duke, Felix buru-buru menutupi mata Althea namun ia lupa perasaan dan emosi Kenny dapat Althea rasakan dan membuat nya seolah-olah ada di sana. Tetes demi tetes air mata Althea keluar membasahi telapak tangan Felix.


Felix yang tidak sanggup melihat air mata Althea pun lantas memeluknya dengan erat berusaha menenangkan nya, Felix mengelus puncak kepala Althea dan mengecup nya pelan memberi rasa ama tersendiri untuk Althea.


"Ayah..." Gumam Althea di sela tangis nya. Beberapa menit setelah menangis Althea menatap Felix "aku tahu siapa dalang di balik semua ini." Felix kaget dengan ucapan Althea. Bukan nya menduga duga atau mencurigai seseorang namun ekspresi Althea benar-benar yakin.


"Siapa?" Tanya Felix hati-hati, "orang yang membenci ku juga ada kaitan nya dengan meninggalnya mendiang raja," jawab Althea, Felix tahu Althea memang sangat cerdas namun ia tidak menyangka Althea dapat secepat itu menyimpulkan.


"Meski pun aku tahu, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Karna itu yang mulia.." Althea menatap Felix serius. "Tolong bantu aku."


....


holaaaa!!! ada yang kaget gak aku up lagi? hehe maaf banget buat kamu yang udah nunggu lama tapi tetap setia sama novel ini.


yuk bantu aku dengan like, vote, dan komen ya biar aku bisa kenalan sama pembaca setia 'menjadi duchess' iblis komen juga perasaan kamu waktu baca part kali ini ya have a nice day!!


see you next chapter


Ran-nace

__ADS_1


__ADS_2